Fusilatnews – Buzzer di politik Indonesia ibarat tikus kapal: sulit diberantas, pandai bersembunyi, dan selalu tahu di mana remah-remah keuntungan tercecer. Ketika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengirim utusannya kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk berkata tegas: “Hentikan buzzer!”, itu bukan sekadar pesan moral. Itu peringatan keras bahwa kapal baru yang sedang berlayar tidak boleh membawa muatan busuk peninggalan kapal lama.
Buzzer yang dimaksud Megawati bukan sekadar akun anonim di dunia maya, melainkan juga orang-orang yang masih duduk di kursi empuk pemerintahan, menikmati gaji dan fasilitas negara, sambil tetap menebar hoaks, memelintir fakta, dan memproduksi narasi post truth. Mesin propaganda ini sudah terlanjur menjadi identitas politik Jokowi, bekerja siang malam demi menutupi karat di lambung kekuasaan.
Dengan mengirim pesan itu, Megawati sebetulnya sedang mengibarkan bendera perlawanan terhadap warisan Jokowi. Sekaligus, ia menantang Prabowo untuk membuktikan: apakah ia kapten yang berani membersihkan dek dari awak buzzer, atau justru membiarkan mereka tetap di kapal demi menjaga layar tetap terkembang.
Masalahnya, buzzer bukan cuma merusak suasana politik; mereka meracuni logika publik. Mereka menciptakan gelombang opini palsu, membuat penumpang kapal percaya bahwa badai adalah pelangi, dan lubang di lambung kapal hanyalah “fitnah” oposisi.
Jika Prabowo serius memimpin, ia harus berani membuang tikus-tikus ini ke laut. Tapi jika ia memilih memelihara mereka, berarti ia rela membiarkan kapalnya berlayar dengan muatan busuk yang suatu saat bisa menenggelamkan dirinya sendiri.
Megawati telah melempar jangkar peringatan. Kini tinggal kita menunggu: apakah Prabowo akan mengibarkan layar baru menuju laut yang lebih jernih, atau tetap melanjutkan pelayaran bersama awak buzzer yang setia menjaga citra—walau kapal perlahan dimakan karat warisan nakhoda lama?





















