• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home News

Cerita Korban NII Kecewa Lapor MUI, Kemenag dan Polisi: Negara Jahat, Kok Bisa?

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
January 5, 2023
in News
0
Perempuan, Senjata Siluman – (Terorisme 2)

Ilustrasi Terorisme(Shutterstock )

Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, Fusilatnews. – Ken Setiawan menceritakan kekecewaan para korban Negara Islam Indonesia (NII) saat melapor ke Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama, dan Kepolisian RI. Kok bisa?

Kekecewaan itu mendorongnya mendirikan NII Crisis Center. “Kami menganggap bahwa negara jahat sekali telah melakukan pembiaran terhadap gerakan radikal di Indonesia,” kata Ken Setiawan dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (5/1).

Ken mengatakan bagaimana tidak kecewa, timnya menerima ribuan laporan dari masyarakat yang kerabatnya terpapar radikalisme, tapi tidak ditanggapi dengan serius oleh negara. Menurutnya, mereka malah dihakimi. “Waktu itu, NII Crisis Center sempat mengumpulkan puluhan orang tua yang anaknya terpapar (paham) radikal, ada yang mengkafirkan orang tua, lalu ada yang hilang dari rumah, ada yang depresi bahkan ada yang gila karena diancam dan diteror oleh kelompok NII,” ujarnya.

Ken kemudian mengajak puluhan keluarga korban itu ke MUI Pusat. Mereka melaporkan bahwa anak-anaknya telah terpapar ajaran sesat NII.

Dari laporan itu, pihak keluarga berharap mendapatkan petunjuk dan solusi, tapi oleh tokoh MUI justru dijawab jika anak mereka terpapar ajaran sesat berarti orang tua tidak bisa mendidik anaknya dengan benar, sehingga anaknya mengikuti ajaran sesat.

“Saat itu, ada orang tua yang menceritakan anaknya yang ikut NII sudah hilang sekitar 2 bulan tidak pulang ke rumah. Lalu dijawab oleh tokoh MUI bahwa keluarga tenang saja, wong anaknya sudah besar nanti juga pulang,” katanya.

Jawaban tersebut, menurut Ken, sangat menyakitkan keluarga korban yang datang ingin mendapatkan petunjuk dan solusi, ini malah justru dihakimi.

Kekecewaan berlanjut ketika ada orang tua korban menceritakan bahwa anaknya direkrut oleh NII yang berpusat di Pesantren Al-Zaytun. Tokoh MUI tersebut mengatakan itu urusan lembaga pendidikan pesantren adalah tugas Kemenag bukan MUI. Lalu, mereka diarahkan agar melapor ke Kemenag.

“Kami pun beramai-ramai datang ke Kemenag. Di sana (Kemenag) pun jawabannya tidak memuaskan, karena menurut pejabat Kemenag persoalan NII itu urusan makar atau mendirikan negara dalam negara dan itu bukan wewenang Kemenag tapi wewenang Kepolisian. Kami direkomendasikan, agar melapor ke Mabes Polri,” kata dia.

Saat melapor ke Mabes Polri, lanjut Ken, NII Crisis Center dan keluarga korban kembali gigit jari. Polri tidak bisa menindak NII jika kasus yang dilaporkan belum memenuhi alat bukti makar atau mendirikan negara dalam negara. Sementara orang tua korban, hanya bisa menceritakan putra-putri mereka yang direkrut NII yang berpusat di Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.

Akhirnya, NII Crisis Center dan keluarga korban pulang dengan tangan hampa. Mereka bingung harus mengadu ke mana lagi. MUI, Kemenag dan Mabes Polri yang diharapkan bisa membantu, ternyata tidak bisa berbuat banyak, tapi justru menyalahkan orang tua korban. “Dari kekecewaan dan sadar diri inilah, akhirnya saya menginisiasi berdirinya NII Crisis Center dengan membuat kanal pengaduan di web www.niicrisiscenter.com dan menindaklanjuti laporan satu persatu dengan swadana,” ungkapnya.

CNNIndonesia.com telah berupaya menghubungi Ketua MUI Cholil Nafis dan Waketum MUI Marsudi Syuhud untuk mengonfimasi hal ini, namun belum ada tanggapan. Begitu pula dengan pihak Kementerian Agama yang belum merespons.

CNNIndonesia.com juga telah berupaya menghubungi Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo dan Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar terkait hal tersebut. Namun keduanya masih belum memberikan tanggapan.

Dengan segala keterbatasan, Ken bersama kawan-kawan sadar diri dan tidak terlalu berharap kepada negara. Menurutnya, persoalan korban NII memang belum jadi prioritas dan belum dianggap membahayakan oleh negara, walaupun angkanya terbilang cukup banyak.

Sementara pihak yang mendapat dukungan penuh dari negara, yakni narapidana teroris dan mantan napi terorisme. Tidak hanya itu, keluarga napi terorisme mendapat bantuan usaha dan anaknya mendapat jaminan pendidikan sampai jenjang pendidikan tinggi.

“Tapi jika belum jadi teroris, walaupun sudah sangat radikal di NII dan habis-habisan ekonomi karena aset tanah dan rumahnya telah dijual untuk infak, tetap saja belum diperhatikan oleh negara. Alasanya tidak ada anggaran, dan belum jadi teroris,” jelasnya.

Menurut Ken, terorisme di Indonesia tidak akan pernah habis dan akan tetap eksis, mati satu tumbuh seribu jika akar pemahaman radikal tetap dibiarkan. Dia mengibaratkan seperti pohon yang berbuah dan dipetik setiap musim, jika akarnya tidak dicabut maka pohon itu akan berbuah setiap musim.

Menurutnya, pembiaran dan ketidakpedulian negara sama halnya seperti menyiram pohon yang menyuburkan kelompok radikalisme di Indonesia. “Jadi para mantan NII ini menganggap, seolah tragedi kemanusiaan atas nama agama ini seperti peternakan. Ada yang pelihara, ada yang memberi makan dan ada yang memanfaatkan,” kata dia.

Ken menambahkan, orang dihancurkan ekonominya atas nama infak bernegara Islam, dihancurkan ahlaknya sehingga menyalahkan dan mengkafirkan orang lain serta dihancurkan masa depan demi berjuang di negara Islam Indonesia. “Ini sudah masuk kategori tragedi kejahatan kemanusiaan mengatasnamakan agama, dan negara membiarkannya. Jika terus dibiarkan, akan berpotensi menjadi bencana nasional seperti di Suriah dan Libya yang dulu damai sejahtera kini hancur berantakan,” kata Ken.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Geger Partai Ummat Bentang Bendera di Masjid Cirebon, Ini Kata Kader!

Next Post

Perppu Ciptaker Digugat ke MK Hari Ini, Siapa Penggugatnya?

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Birokrasi

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng
daerah

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Next Post
Pasal Perkawinan Beda Agama, MK Mulai Uji Gugatan

Perppu Ciptaker Digugat ke MK Hari Ini, Siapa Penggugatnya?

Ngeri, 2 Pejalan Kaki Dibakar Orang di Jembatan Penjaringan, 1 Tewas

Ngeri, 2 Pejalan Kaki Dibakar Orang di Jembatan Penjaringan, 1 Tewas

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah: Antara Emansipasi dan Politik Kolonial

April 24, 2026

Genosida oleh Israel serta Konsekuensi Balasannya Menurut Al-Qur’an & Hadits

April 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist