Korupsi telah lama menjadi musuh utama dalam perjalanan sejarah negara-negara di dunia, termasuk China. Pada 10 Februari 1952, kurang dari dua tahun setelah Republik Rakyat China berdiri, Partai Komunis China (PKC) sudah mengambil langkah drastis dengan mengeksekusi mati dua kadernya yang terbukti melakukan tindak korupsi. Peristiwa ini terjadi di tengah musim hujan, dengan eksekusi dilakukan di muka umum. Ironisnya, kedua kader tersebut sebelumnya adalah pejuang yang berkontribusi melawan pasukan partai nasionalis. Namun, Mao Zedong, pemimpin PKC saat itu, tidak menunjukkan rasa belas kasihan. Ia dengan tenang berkata, “Koruptor adalah musuh rakyat. Mereka sudah bukan kawan kita lagi. Bersih-bersih harus dilakukan tanpa sedikitpun rasa belas kasihan.”
Langkah tanpa kompromi ini mencerminkan filosofi politik PKC dalam menghadapi korupsiāsikap yang terus diwariskan hingga generasi kepemimpinan saat ini. Pada 2012, Xi Jinping, sebagai Sekretaris Jenderal PKC, meluncurkan kampanye besar-besaran yang disebut “Harimau dan Lalat.” Kampanye ini bertujuan untuk membasmi korupsi tanpa pandang bulu, baik yang dilakukan oleh pejabat tinggi (diibaratkan sebagai “harimau”) maupun pegawai rendahan (si “lalat”). Dalam tradisi PKC, korupsi bukan hanya dianggap sebagai kejahatan biasa, tetapi sebagai ancaman eksistensial terhadap stabilitas negara dan kesejahteraan rakyat.
Warisan Kepemimpinan yang Tegas
Sejarah menunjukkan bahwa PKC tidak pernah sekadar melontarkan slogan. Kebijakan mereka terhadap korupsi dibuktikan dengan tindakan nyata. Pada Maret 2018, pengadilan di China menjatuhkan vonis mati terhadap Zhang Zhongsheng, Wakil Walikota Luliang, Provinsi Shanxi, karena terbukti menerima suap dalam jumlah besar terkait industri pertambangan. Zhang hanya salah satu dari sekian banyak pejabat yang menghadapi hukuman berat dalam kampanye anti-korupsi. Hukuman yang diterapkan sangat keras: jika tidak dihukum mati, mereka yang bersalah dipastikan menjalani hukuman penjara seumur hidup di fasilitas yang benar-benar ketatābukan sekadar “hotel mewah” seperti yang sering terdengar di negara lain.
Xi Jinping bahkan pernah menyampaikan pernyataan yang terkenal, “Aku telah siapkan 100 peti mati: 99 untuk koruptor dan satu untuk diriku sendiri jika aku melakukan kesalahan yang sama.” Pernyataan ini mempertegas bahwa tidak ada ruang untuk kompromi, bahkan untuk pemimpin tertinggi sekalipun.
Filosofi yang Mengakar
Pendekatan tanpa ampun ini tidak hanya mencerminkan strategi politik, tetapi juga filosofi mendalam tentang dampak korupsi. Dalam pandangan PKC, koruptor adalah “maling rakyat”āistilah yang merujuk pada bagaimana korupsi merampas hak dan kesejahteraan rakyat untuk keuntungan pribadi. Korupsi dianggap sebagai parasit yang menghisap sumber daya negara, membuat rakyat “kurus” demi memperkaya pelaku. Pemimpin legendaris seperti Mao Zedong hingga Xi Jinping menganggap parasit ini harus dibasmi hingga ke akarnya agar tidak merusak sistem pemerintahan dan kepercayaan publik.
Pembelajaran untuk Negara Lain
China menyadari bahwa korupsi dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Langkah-langkah tegas ini membedakannya dari negara-negara lain yang kerap bersikap lunak terhadap para pelaku korupsi. Di banyak tempat, penjara bagi koruptor lebih menyerupai tempat peristirahatan nyaman dibandingkan hukuman yang mendidik.
Dalam konteks global, pendekatan China ini menuai perdebatan. Ada yang menganggapnya terlalu keras dan melanggar hak asasi manusia, sementara yang lain melihatnya sebagai model efektif untuk memberantas korupsi. Namun, bagi China, tujuan utamanya jelas: memastikan integritas pemerintahan dan menjaga kepercayaan rakyat.
Kesimpulan
China adalah contoh bagaimana tekad politik yang kuat dapat menghasilkan perubahan signifikan dalam pemberantasan korupsi. Sejak awal berdirinya, PKC menunjukkan bahwa korupsi tidak hanya merusak institusi, tetapi juga mengkhianati rakyat. Sikap tanpa ampun ini menjadi fondasi dalam membangun negara yang stabil dan makmur. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh tantangan, mungkin sudah saatnya negara-negara lain belajar dari keberanian China untuk menghadapi musuh bersama yang bernama korupsi.























