Fusilatnews – Pagi ini kopi saya tak lagi hangat seperti biasa. Bukan karena air termosnya bocor, tapi karena yang duduk di meja seberang tak lagi menyeduh ide-ide waras. Di coffee morning yang katanya ajang silaturahmi elite bangsa itu, yang tercampur justru bukan kopi dan krimer, tapi kepentingan dan kemunafikan. Saya tak tahu, apakah ini cangkir demokrasi atau cuma gelas kosong yang dibasahi retorika.
Dulu, saya membayangkan politik adalah panggung gagahnya moralitas. Sebuah seni menata perbedaan, merawat harapan, dan melahirkan keputusan-keputusan yang mewakili suara rakyat. Tapi rupanya saya kebanyakan membaca buku dan terlalu sering berkhayal seperti penyair. Di negeri ini, politik telah menjelma seperti pasar malam: penuh lampu warna-warni, tapi begitu terang, kita tahu semuanya palsu.
Coffee morning jadi tempat temu para ‘pejuang rakyat’ yang tak pernah naik angkutan umum. Di sana mereka bersulang bukan karena sepakat membela kepentingan publik, tapi karena baru saja mendapat konsesi tambang, proyek food estate, atau jatah kursi komisaris. Lucunya, saat bicara di podium, mereka menjual narasi tentang “kesejahteraan rakyat”, “keadilan sosial”, dan “budaya adi luhung”. Padahal, luhungnya tinggal dalam puisi-puisi pidato. Praktiknya? Kita tahu sendiri: yang dikorbankan selalu rakyat kecil—dari petani Kendeng sampai nelayan di Pulau Rempang.
Moralitas di negeri ini sudah seperti Raja Ampat: indah, memesona, penuh nilai luhur. Tapi kini keindahan itu digerogoti pelan-pelan, seperti para penambang nikel yang tak peduli pada terumbu karang. Mereka datang dengan dalih “pembangunan”, lalu pergi meninggalkan luka ekologis dan sosial. Raja Ampat adalah metafora dari cita-cita republik ini—yang semestinya menjulang tinggi dengan kedaulatan, tapi kini diinjak oleh sepatu-sepatu kekuasaan yang tak pernah dicuci.
Saya teringat satu obrolan di coffee morning yang katanya “non-formal tapi sarat makna strategis”. Seorang tokoh senior berkata, “Kita harus menjaga marwah bangsa.” Tapi belum lima menit kemudian, ia sibuk melobi proyek dermaga yang akan merusak habitat dugong. Marwah, rupanya, adalah kata yang bisa dijual dengan harga tukar valuta asing.
Kalau Mahbub Djunaidi masih hidup, barangkali ia akan berkata dengan sinis: “Negeri ini kebanyakan kata-kata agung, tapi kekurangan perbuatan yang luhur.” Kita terlalu sering memuja konstitusi, tapi rajin pula menelikungnya di tikungan kompromi politik. Kita menyebut diri Pancasilais, tapi gemar menindas minoritas dan menutup akses orang miskin pada pendidikan dan layanan kesehatan.
Inilah coffee morning kita: aroma kopinya wangi, tapi ampasnya pahit. Meja diskusinya penuh gelak tawa, tapi di luar, rakyat meringis karena subsidi dicabut, harga naik, dan lapangan kerja digadaikan ke investor asing.
Pagi ini, saya menyeruput kopi terakhir dari cangkir yang retak. Lalu saya berpikir, barangkali sudah waktunya kita berhenti membuat coffee morning dan mulai menanam pohon kopi. Sebab bangsa ini tak butuh lebih banyak basa-basi, tapi lebih banyak pohon yang berakar pada tanah, memberi buah, dan tahan banting di tengah badai—seperti petani kecil yang tak pernah diajak coffee morning, tapi paling merasakan dampaknya.
Dan ketika politik sudah tak lagi bicara tentang moral, maka budaya adi luhung tak ubahnya lukisan yang dicetak massal: cantik, tapi kehilangan makna. Maka berhentilah menjual Raja Ampat dalam pidato, jika di belakang layar Anda menyewakannya pada penambang nikel.
Karena sesungguhnya, yang luhung itu bukan kata-kata, tapi tindakan yang membela kehidupan.




















