Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional Kazem Gharibabadi telah menegaskan kembali hak Republik Islam untuk memperkaya uranium, menekankan bahwa masalah tersebut merupakan garis merah dalam negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Gharibabadi menyampaikan pernyataan tersebut pada pertemuan komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen pada hari Minggu, di mana ia memberi pengarahan kepada para anggota parlemen mengenai putaran kedua perundingan tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang diadakan di Roma, Italia, sehari sebelumnya.
Ebrahim Rezaei, juru bicara komite tersebut, mengatakan Gharibabadi menghadiri sesi tersebut untuk menguraikan isi negosiasi tersebut.
Selama pertemuan tersebut, Gharibabadi mencatat bahwa pihak Iran sekali lagi menekankan bahwa Republik Islam tersebut tidak berusaha untuk membangun senjata nuklir dan bahwa kegiatan nuklir negara tersebut sepenuhnya bersifat damai.
Ia juga mengatakan salah satu masalah utama perundingan tersebut adalah pencabutan sanksi secara menyeluruh, termasuk sanksi yang dikeluarkan oleh Kongres AS dan perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump.
Gharibabadi juga menekankan bahwa pencabutan sanksi harus menyeluruh dan efektif, memastikan manfaat ekonomi nyata bagi bangsa Iran dan bukan hanya sekadar isyarat simbolis.
Rezaei mengutip pernyataan wakil menteri luar negeri bahwa para pihak telah membahas kerangka umum, agenda, dan masalah teknis serta telah mencapai kesepahaman dalam negosiasi Roma.
Ia mengatakan bahwa negosiasi teknis di tingkat ahli akan diadakan di Muscat pada hari Rabu, seraya menambahkan bahwa para pihak saat ini sedang menyusun dan merumuskan prinsip-prinsip umum pembicaraan.
Rezaei lebih lanjut menyatakan bahwa Iran sepenuhnya serius tentang pembicaraan tersebut dan tidak menerima penundaan apa pun dalam proses negosiasi.
Ia menambahkan bahwa pihak lain juga harus memasuki pembicaraan dengan serius dan menghindari pengaruh tekanan rezim Israel yang berupaya menghancurkan proses negosiasi.
Putaran pembicaraan kedua antara Teheran dan Washington, yang berpusat pada program nuklir Iran dan penghentian sanksi Amerika terhadap negara tersebut, diadakan di Kedutaan Besar Oman di Roma pada hari Sabtu.
Negosiasi tersebut dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan Timur Tengah Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan kembali dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi.
Kedua pihak telah mengatur untuk mengadakan negosiasi teknis di tingkat pakar di Muscat pada tanggal 23 April untuk membahas rincian dan merancang kerangka kerja untuk kesepakatan.
Para negosiator utama dari kedua negara akan bertemu lagi pada tanggal 26 April untuk mengevaluasi hasil pertemuan para pakar dan melihat seberapa dekat mereka dengan kesepakatan.






















