• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dari Janji Pulang Kampung ke Panggung Politik: Jokowi dan Kebohongan Rakyat Biasa

Ali Syarief by Ali Syarief
February 1, 2026
in Feature, Politik, Tokoh/Figur
0
Dari Janji Pulang Kampung ke Panggung Politik: Jokowi dan Kebohongan Rakyat Biasa
Share on FacebookShare on Twitter

Joko Widodo pernah mengucapkan kalimat yang—bagi sebagian orang—terdengar sederhana, membumi, bahkan mengharukan: “Nanti setelah tidak lagi menjadi presiden, saya akan pulang ke Solo, menjadi rakyat biasa.”
Kalimat itu diulang, disirkulasikan, dan dijadikan etalase moral. Ia dijual sebagai simbol kerendahan hati seorang pemimpin yang konon tak tergila-gila kekuasaan.

Namun hari ini, janji itu terdengar seperti lelucon basi yang diucapkan dengan wajah serius.

Alih-alih pulang kampung dan menepi dari hiruk-pikuk kekuasaan, Jokowi justru semakin rajin naik panggung politik. Pidatonya di acara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan sekadar sambutan basa-basi seorang mantan presiden. Itu adalah pidato penuh pesan, penuh arah, penuh kepentingan. Ia berbicara seolah masih memegang kendali, seolah negara belum benar-benar ditinggalkan, seolah kekuasaan adalah candu yang tak bisa dilepas meski masa jabatan telah berakhir.

Di titik inilah kontradiksi itu menjadi telanjang.

Rakyat biasa tidak berpidato di forum partai politik.
Rakyat biasa tidak memberi restu politik.
Rakyat biasa tidak menjadi magnet legitimasi kekuasaan bagi anak, menantu, dan kroni.

Yang kita saksikan hari ini bukan seorang pensiunan presiden yang kembali ke rumahnya di Solo, menikmati kopi pagi, dan hidup tanpa pengaruh. Yang tampil adalah figur politik yang enggan pensiun, yang masih ingin menentukan arah, meski secara konstitusional seharusnya sudah selesai.

Janji “pulang kampung” ternyata bukan komitmen, melainkan kosmetik. Retorika manis untuk meninabobokan publik, agar kekuasaan terlihat tidak rakus, padahal praktiknya justru semakin telanjang: politik dinasti, cawe-cawe terbuka, dan pengaruh yang dipertahankan dengan segala cara.

Pidato di PSI memperlihatkan satu hal penting: Jokowi tidak sedang menjadi rakyat biasa. Ia sedang memastikan dirinya tetap relevan, tetap dibutuhkan, tetap disebut, dan tetap punya posisi tawar. Ini bukan sikap negarawan. Ini watak penguasa yang sulit melepaskan panggung.

Lebih ironis lagi, semua ini dilakukan sambil membawa citra “kesederhanaan”. Seolah kehadiran di forum partai hanyalah kunjungan santai, seolah arahan politik bisa disamarkan sebagai nasihat seorang “bapak bangsa”. Padahal publik tidak bodoh. Rakyat bisa membedakan mana wejangan tulus, mana manuver politik.

Di sinilah Jokowi memperlihatkan wajah paling problematik dari kepemimpinannya: jarak antara kata dan perbuatan yang menganga lebar. Apa yang diucapkan dahulu tidak pernah benar-benar dimaksudkan untuk ditepati. Ia hanya alat pencitraan, bukan prinsip.

Manusia nggedabrus—yang berbicara tanpa beban moral pada ucapannya—akhirnya terjebak oleh kata-katanya sendiri. Janji menjadi rakyat biasa kini berbalik menjadi bukti bahwa kekuasaan telah membentuk watak: tidak tahu diri, tidak tahu batas, dan enggan tahu kapan harus berhenti.

Sejarah akan mencatat ini dengan dingin:
bukan sebagai kisah pemimpin sederhana yang pulang kampung,
melainkan sebagai contoh bagaimana kekuasaan yang terlalu lama dipeluk akan membuat seseorang lupa bahwa ia pernah berjanji untuk melepaskannya.

Dan rakyat?
Rakyat hanya bisa mengingat, mencatat, lalu menghakimi—bukan dengan emosi, tapi dengan ingatan yang panjang.


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tuhan, Niat, dan Laporan Pencapaian – Dosa yang Terlalu Sering Disalahpahami

Next Post

Ketika Sakit Menjadi Isyarat Tuhan

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’
News

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi
Feature

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai
Feature

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026
Next Post

Ketika Sakit Menjadi Isyarat Tuhan

MOTAH 65: Asap Pergi, Belatung Datang

MOTAH 65: Asap Pergi, Belatung Datang

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute
Bisnis

10 Isu Prioritas Bisnis dan HAM di Indonesia 2026 Versi Setara Institute

by Karyudi Sutajah Putra
February 12, 2026
0

Jakarta-Fusilatnews - Bisnis dan hak asasi manusia (HAM) adalah seperangkat prinsip yang berfokus pada tanggung jawab pelaku usaha untuk menegakkan...

Read more
Kuorum Tak Terpenuhi, DPR Tunda Paripurna Pengesahan RUU Pilkada

Habis KPK, Terbitlah MK: Dilemahkan!

February 7, 2026
Akankah Gibran Ancam Bunuh Prabowo Seperti di Filipina?

Ketika Prabowo Menantang Gibran Bertarung di 2029

February 7, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026
Hidayah yang Menemukan Akal  Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

Hidayah yang Menemukan Akal Ketika Al-Qur’an Berbicara tentang Peredaran Bumi

February 13, 2026
Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

Prof Euis Amalia: Karya FKI Lebih Konkret Dibanding ICMI dan KAHMI

February 13, 2026
Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

Ketua BEM UGM Dapat Teror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT

February 13, 2026
Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Terus Kenapa?: Ketika Moral Publik Dipatahkan dengan Santai

IF YOU CAN’T STAND THE HEAT, GET OUT OF THE KITCHEN

February 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Pedagang Sea Food di Beijing Terkejut Dengan Larangan Total Impor Jepang

Krisis Suksesi Menghantui UMKM Jepang, Peluang Baru Terbuka bagi Mitra Asing

February 13, 2026
Rakyat Tolak Gibran, Prabowo Terima; Rakyat Minta Adili Jokowi, Prabowo Malah Serukan ‘Hidup Jokowi’

Damai Hari Lubis Bantah Minta Maaf dan Terima Uang: Ini Rekayasa Politik, Bukan Proses Hukum

February 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...