Ini terinspirasi dari essay Pak Yamin Nasution, SH. Supaya bisa di pahami dengan santai – Saya tulis sedikit kocak.
Zaman sekarang, dosa mungkin sudah ikut rapat evaluasi. Yang penting ada hasil, ada foto, ada spanduk. Soal niat? Itu urusan batin, kata orang. Terlalu abstrak untuk dimasukkan ke tabel Excel. Tuhan pun sering diasumsikan puas asal proyek selesai tepat waktu.
Masalahnya, asumsi ini ditentang dari dua arah sekaligus: dari seorang biarawan abad ke-13 bernama Thomas Aquinas, dan dari sebuah hadis yang sudah kita hafal sejak kecil, tapi jarang kita ajak serius.
Aquinas bilang begini (tentu dengan bahasa Latin yang ribet): dosa itu bukan soal akibat, melainkan soal kehendak. Orang bersalah bukan karena hasil perbuatannya kacau, tapi karena ia tahu dan mau memilih arah yang salah. Tuhan, kata Aquinas, bukan auditor hasil, melainkan pemeriksa orientasi.
Di seberang sana, Islam malah lebih blak-blakan:
innamā al-a‘mālu bi al-niyyāt
amal itu tergantung niatnya.
Ini kalimat pendek, tapi dampaknya panjang. Kalau diambil serius, banyak prestasi bisa mendadak gugur. Banyak keberhasilan perlu diperiksa ulang. Sebab ternyata yang dinilai bukan cuma apa yang dilakukan, tapi mengapa itu dilakukan.
Menariknya, Aquinas dan Islam tidak pernah janjian. Tidak ada workshop lintas iman tentang niat dan kehendak. Tapi irisan konseptualnya sangat jelas. Meski tanpa jalur pengaruh langsung, cara berpikirnya sepadan: pusat moralitas manusia bukan di tangan, bukan di podium, melainkan di kehendak yang tersembunyi rapi di dalam dada.
Ini tentu kabar buruk bagi kita yang gemar berlindung di balik hasil. Dalam logika ini, orang bisa tampak sukses, dipuji, bahkan dielu-elukan, tapi tetap bermasalah secara moral. Sebab orientasi kehendaknya keliru. Arah hatinya bengkok. Dan Tuhan, rupanya, tidak mudah terpesona oleh baliho.
Lebih merepotkan lagi, baik Aquinas maupun Islam sepakat bahwa kesalahan tidak bisa dipukul rata. Orang yang tidak sengaja, tidak tahu, atau terpaksa, dinilai berbeda. Kehendak harus diperiksa dulu sebelum palu diketok. Ini membuat hukum tidak bisa sekadar galak. Ia dipaksa untuk adil, dan itu sering kali tidak nyaman.
Di sinilah problem kita hari ini. Kita hidup di dunia yang menyukai hasil cepat dan cerita sederhana. Yang salah harus salah, yang benar harus benar. Titik. Padahal soal niat dan kehendak, jarang sekali hitam-putih. Lebih sering abu-abu. Dan abu-abu ini tidak laku dijual.
Aquinas dan tradisi Islam sama-sama mengingatkan, dengan cara yang agak menyebalkan: moralitas bukan soal tampilan luar. Ia urusan batin. Urusan sunyi. Urusan yang tidak bisa diposting.
Maka jangan heran jika Tuhan lebih sering bertanya soal niat daripada prestasi. Soal arah daripada jarak tempuh. Dan mungkin, hanya mungkin, itulah sebabnya dosa paling berbahaya bukan yang gagal total, melainkan yang berhasil besar—tapi salah arah.
























