• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dari Mohammad Hatta hingga Gibran: Kemunduran Reputasi Wakil Presiden Indonesia

Ali Syarief by Ali Syarief
October 5, 2024
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Sejak kemerdekaan Indonesia, posisi Wakil Presiden selalu diisi oleh tokoh-tokoh berpengaruh dengan pengalaman panjang dan kompetensi yang tinggi. Dimulai dengan Mohammad Hatta, seorang bapak bangsa, ekonom, dan pejuang kemerdekaan yang menjadi sosok integral dalam pembangunan negara. Hatta adalah lambang kepemimpinan visioner, disiplin, dan kejujuran, yang hingga kini menjadi panutan bagi generasi penerus.

Sosok-sosok seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang menjadi wakil presiden dengan kehormatan dan kebijaksanaan; Umar Wirahadikusuma, seorang pemimpin yang tegas dengan reputasi jujur dan tidak terpengaruh oleh korupsi di tengah era Orde Baru; serta Sudharmono, seorang teknokrat ulung yang mampu mengelola birokrasi dengan rapi, memperlihatkan bagaimana kursi Wakil Presiden selalu diisi oleh orang-orang dengan rekam jejak yang solid.

Di era yang lebih modern, kita mengenal Try Sutrisno, seorang jenderal militer yang disiplin dan dihormati, serta B.J. Habibie, seorang teknolog dan ilmuwan yang membawa kebangkitan ilmu pengetahuan di Indonesia dan akhirnya menjadi Presiden yang memimpin transisi menuju demokrasi setelah jatuhnya Orde Baru. Hamzah Haz, yang pernah menjadi representasi politik Islam moderat di masa sulit pasca reformasi, juga turut memperkaya pengalaman kepemimpinan di kursi Wakil Presiden.

Baca : https://www.wapresri.go.id/sejarah/

Salah satu yang menonjol dalam sejarah Wakil Presiden adalah Jusuf Kalla (JK), yang menjabat dua kali pada masa yang berbeda, dengan rekam jejak yang penuh prestasi. JK adalah seorang pengusaha sukses yang juga dikenal sebagai mediator handal dalam penyelesaian konflik, baik di dalam negeri seperti konflik Aceh, maupun dalam isu-isu internasional. Kepemimpinannya selalu membawa perspektif yang segar dan solutif terhadap masalah-masalah nasional.

Boediono, Wakil Presiden di masa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), adalah figur teknokrat cerdas dengan latar belakang ekonomi yang mendalam. Ia pernah memegang berbagai posisi penting, termasuk Gubernur Bank Indonesia, yang membuatnya ahli dalam mengelola kebijakan ekonomi nasional. Meskipun sosoknya tidak seekspresif JK, Boediono dihormati karena kompetensinya dalam menjaga stabilitas ekonomi di masa globalisasi yang penuh tantangan.

Setelah Boediono, kita melihat kehadiran Ma’ruf Amin yang dipilih sebagai Wakil Presiden oleh Joko Widodo. Sebagai seorang ulama besar dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin memang membawa legitimasi politik dari kelompok Islam konservatif. Namun, masa kepemimpinannya lebih sering dianggap simbolis, dengan keterlibatan minim dalam pengambilan keputusan besar. Meskipun ia memiliki pengalaman di ranah agama, perannya dalam politik nasional sering dinilai tidak seefektif pendahulunya yang lebih teknokrat atau militeris.

Jika kita membandingkan deretan nama-nama besar ini dengan Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden yang baru terpilih untuk periode 2024-2029, perbedaannya sangat mencolok. Gibran tidak memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman politik yang memadai untuk menduduki jabatan setinggi Wakil Presiden. Ia hanya berbekal pengalaman singkat sebagai Wali Kota Solo, sebuah posisi yang bahkan belum memberikan cukup ruang bagi dirinya untuk menunjukkan kemampuan kepemimpinan di tingkat nasional.

Perjalanan politik Gibran lebih dipengaruhi oleh statusnya sebagai putra Presiden Joko Widodo, ketimbang prestasinya sendiri. Keputusan untuk menerima jabatan Wakil Presiden tanpa kompetensi yang memadai menunjukkan kemunduran drastis dalam kualitas kepemimpinan di Indonesia. Gibran tampak lebih sebagai produk dari dinasti politik ketimbang pemimpin yang dihasilkan oleh sistem meritokrasi yang seharusnya.

Sementara para pendahulunya seperti Mohammad Hatta, Jusuf Kalla, Boediono, hingga Try Sutrisno memiliki pengalaman dan kapasitas intelektual yang kuat, Gibran hadir tanpa portofolio yang layak untuk posisi strategis ini. Sri Sultan Hamengkubuwono IX memimpin dengan kebijaksanaan, Umar Wirahadikusuma dan Sudharmono dengan integritas, Habibie dengan kecerdasan teknologi, JK dengan kemampuan mediasi yang handal, sementara Boediono menjaga ekonomi dengan cermat. Semua tokoh ini menjadi bukti bahwa kursi Wakil Presiden semestinya diduduki oleh orang yang benar-benar mumpuni.

Gibran, sebaliknya, adalah representasi kemunduran. Penerimaannya atas jabatan ini menunjukkan bahwa kualifikasi tidak lagi menjadi prioritas dalam penunjukan pejabat publik. Di tengah kemajuan dunia yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan sosok dengan pengalaman, pemikiran strategis, dan kecakapan diplomasi yang nyata. Sayangnya, Gibran tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki kemampuan itu.

Keberadaan Gibran di kursi Wakil Presiden tidak hanya merendahkan martabat jabatan itu, tetapi juga menandai era dimana nepotisme dan oligarki semakin menguasai arena politik Indonesia. Jika Mohammad Hatta dan para tokoh besar lainnya menyaksikan situasi ini, mereka mungkin akan kecewa, karena kursi yang pernah mereka duduki kini terisi oleh sosok yang belum siap memikul tanggung jawab besar bagi bangsa.

Demokrasi Indonesia yang seharusnya memberikan kesempatan pada yang terbaik, kini justru tersandera oleh kepentingan dinasti. Sementara para pendahulunya menorehkan sejarah emas, Gibran hanya mewarisi kekuasaan tanpa pencapaian yang layak untuk diabadikan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Standar Ganda FIFA: Diamnya Sepak Bola Dunia atas Kejahatan Israel di Gaza

Next Post

HUT ke-79 TNI Terpusat di Monas, Melibatkan 100 ribu  Prajurit

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026
Feature

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026
Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?
Feature

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

April 26, 2026
Next Post
HUT ke-79 TNI Terpusat di Monas, Melibatkan 100 ribu  Prajurit

HUT ke-79 TNI Terpusat di Monas, Melibatkan 100 ribu  Prajurit

Jelang Setahun Peringatan Perang Gaza, Israel Lanjutkan Pemboman di Seluruh Wilayah Lebanon

Jelang Setahun Peringatan Perang Gaza, Israel Lanjutkan Pemboman di Seluruh Wilayah Lebanon

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa
Feature

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

by Karyudi Sutajah Putra
April 24, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Letkol Teddy Indra Wijaya kini sudah bisa...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

RPP Tugas TNI: Wujud Remiliteriasi yang Bahayakan Kehidupan Demokrasi

April 24, 2026
Jangan Lawan Parpol!

Jangan Lawan Parpol!

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Manajemen Risiko Nestlé, Risiko Kesehatan & Politik, Reputasi & Business Sustainability serta Sasaran Program MBG di Indonesia

April 26, 2026
Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon, Indonesia Kutuk Keras

Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon, Indonesia Kutuk Keras

April 26, 2026
Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

Hak Cipta Jurnalistik: Pilar Perlindungan atau Belenggu bagi Literasi Publik?

April 26, 2026
Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

Aksi Massa di Kaltim: Kemewahan Pejabat dan Politik Anggaran Jadi Pemantik Kemarahan Publik

April 26, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Menjaga Langit Nusantara: Menakar Marwah Bebas Aktif di Tengah Krisis Karakter Bangsa

April 26, 2026

KSP Sentil Puan: Prabowo-Gibran Lahir dari Pelanggaran Etika

April 26, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist