By Paman BED
Bunga Rampai Resto di Jalan Cik Ditiro, Jakarta, mungkin tidak pernah menyadari bahwa suatu sore ia menjadi saksi sebuah peristiwa kecil yang maknanya jauh melampaui sekadar pertemuan manusia.
Bangunan itu, ruangan restorannya, pintu kayunya, kursi-kursinya, meja-mejanya, bahkan lampu-lampu yang menggantung di langit-langitnya—semuanya kelak seperti menjadi saksi.
Bukan sekadar tentang orang-orang yang datang makan dan berbincang.
Melainkan tentang sebuah perkenalan yang menyerupai ta’aruf sederhana antara seorang janda muda tanpa anak dan seorang duda.
Mereka duduk berhadapan.
Di sisi mereka duduk seorang laki-laki lain—teman sang duda—yang juga kebetulan adalah ketua tim kerja dari perempuan tersebut.
Posisinya jelas.
Ia bukan sekadar menemani.
Ia hadir sebagai orang yang memperkenalkan.
Barangkali juga menjodohkan.
Sebuah pertemuan yang sederhana.
Tanpa kemegahan.
Tanpa seremoni.
Namun sering kali, peristiwa besar memang dimulai dari ruang-ruang yang tampak biasa saja.
Jalan Ta’aruf
Dalam Islam, perkenalan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia dikenal dengan istilah ta’aruf—sebuah jalan yang dibenarkan untuk saling mengenal sebelum menikah, dengan niat yang jelas menuju pernikahan yang halal.
Karena pernikahan sendiri adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah maka menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, mempertemukan dua orang untuk menikah bukan sekadar perkenalan biasa.
Ia bisa menjadi perantara kebaikan.
Allah bahkan menjanjikan pahala bagi siapa pun yang menjadi perantara dalam kebaikan:
“Barang siapa memberi syafaat (perantaraan) yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian dari pahala itu.”
(QS. An-Nisa: 85)
Barangkali itulah yang sedang terjadi di ruangan kecil restoran itu.
Sebuah pertemuan sederhana.
Namun takdir sedang bekerja perlahan.
Ketika Prinsip Diuji
Sang ketua tim masih mengingat sebuah peristiwa tiga tahun sebelumnya.
Saat itu perempuan yang kini duduk di hadapannya masih seorang gadis.
Ia datang dengan wajah bahagia, mengundang ketua timnya untuk hadir di acara pernikahannya.
Sang ketua tim menerima undangan itu.
Ia berkata ia akan datang.
Namun ia juga berkata dengan jujur bahwa ia tidak akan datang untuk merestui pernikahan tersebut.
Ucapan itu mengejutkan.
Bahkan menyakitkan.
Mengapa seorang atasan yang selama ini dihormatinya bersikap seperti itu?
Jawabannya sebenarnya sederhana, meskipun pahit.
Pernikahan itu bukan pernikahan biasa.
Gadis itu memutuskan meninggalkan keyakinannya.
Ia mengikuti agama calon suaminya.
Ia menjadi non-muslim.
Sang ketua tim tidak memarahinya.
Tidak mengusirnya.
Tidak memutus hubungan kerja.
Namun ia juga tidak ingin mengkhianati apa yang ia yakini sebagai kebenaran aqidah.
Karena bagi seorang muslim, aqidah bukan sekadar identitas.
Ia adalah fondasi hidup.
Dalam Islam, aqidah adalah akar yang menopang seluruh bangunan kehidupan.
Ia seperti akar pohon yang tidak terlihat, tetapi menentukan apakah pohon itu akan berdiri kokoh atau tumbang diterpa badai.
Tanpa aqidah yang kokoh, syariah kehilangan arah.
Dan tanpa syariah, akhlak kehilangan bentuk.
Aqidah, syariah, dan akhlak adalah trilogi yang saling menguatkan.
Aqidah adalah akar.
Syariah adalah batang dan cabang.
Akhlak adalah buahnya.
Sebagaimana pohon yang sehat hanya lahir dari akar yang kuat.
Ketika Takdir Berbicara
Dua tahun berlalu.
Takdir ternyata menulis cerita yang berbeda.
Rumah tangga perempuan itu tidak bertahan lama.
Pernikahan itu berakhir dengan perceraian.
Kini ia menjadi seorang janda. Tanpa anak.
Hidup sering kali mengajarkan sesuatu dengan cara yang tidak kita duga.
Kadang melalui kehilangan.
Kadang melalui kesepian.
Kadang melalui kegagalan.
Dan dari situlah manusia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Di mana sebenarnya rumahku?
Pertemuan yang Mengubah Arah
Pertemuan di Bunga Rampai Resto itu akhirnya terjadi.
Tidak direncanakan secara rumit.
Tidak disiapkan dengan skenario panjang.
Hanya sebuah perkenalan sederhana.
Namun jika Allah sudah berkehendak, peristiwa kecil bisa menjadi titik balik kehidupan.
Sebulan setelah pertemuan itu—qadarullah—hubungan mereka berlanjut ke arah yang lebih serius.
Mereka menikah.
Sebuah pernikahan yang sakral.
Dan kali ini sang ketua tim hadir.
Bukan sekadar sebagai tamu.
Tetapi sebagai saksi kebahagiaan.
Tangis yang Bukan Karena Sedih
Di tengah suasana pernikahan itu, sesuatu terjadi.
Air mata sang ketua tim menetes.
Bukan karena sedih.
Bukan pula sekadar karena haru melihat dua orang menikah.
Yang membuat hatinya bergetar adalah sesuatu yang jauh lebih dalam.
Perempuan itu telah kembali mengucapkan dua kalimat syahadat.
Ia kembali kepada Islam.
Kembali kepada aqidahnya.
Kembali kepada fitrahnya.
Dalam istilah Al-Qur’an, ia termasuk orang yang hatinya dilunakkan oleh Allah—al-mu’allafatu qulubuhum.
Allah berfirman:
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: jika mereka berhenti (dari kekufuran mereka), niscaya akan diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu.”
(QS. Al-Anfal: 38)
Betapa luas rahmat Allah.
Betapa besar pintu ampunan-Nya.
Tidak ada masa lalu yang terlalu gelap untuk kembali menuju cahaya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun tetap harus disadari:
Hidayah sejati bukan milik manusia.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Manusia hanya menjadi perantara.
Dan mungkin, pada hari itu, sang ketua tim hanya sedang menjadi perantara kecil dalam rencana besar Allah.
Ketika Anak Kembali Pulang
Di antara orang-orang yang paling bahagia hari itu adalah kedua orang tuanya.
Mereka menangis.
Tangis yang lama tertahan.
Tangis orang tua yang pernah merasa kehilangan anaknya—bukan secara fisik, tetapi secara keyakinan.
Hari itu mereka merasa anaknya telah pulang.
Pulang ke rumahnya.
Pulang ke kampung halamannya.
Pulang kepada aqidahnya.
Adegan paling menguras emosi terjadi ketika pengantin putri bersimpuh melakukan sungkeman.
Kedua lututnya menopang tubuhnya.
Wajahnya dibenamkan ke pangkuan ibundanya.
Ia memeluknya erat.
Mereka berdua menangis sejadi-jadinya.
Dengan suara terbata-bata sang pengantin putri memohon maaf.
Beristighfar di pangkuan ibunya.
Sementara sang ibu menangis semakin keras.
Tangis sesenggukan.
Seolah seluruh luka yang selama ini tersimpan di dada akhirnya runtuh menjadi air mata.
Tangis itu bukan sekadar tangis haru.
Ia adalah tangis seorang ibu yang merasa anaknya benar-benar telah pulang.
Dan bagi seorang muslim, pulang kepada aqidah berarti pulang kepada makna hidup.
Karena tujuan manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup dan mati.
Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Hidup manusia pada akhirnya adalah perjalanan menuju Allah.
Dan aqidah adalah kompas yang menunjukkan arah perjalanan itu.
Sebuah Gelas Kenangan
Ada satu benda kecil yang masih tersimpan hingga hari ini.
Sebuah gelas souvenir bertuliskan Bunga Rampai.
Gelas itu diberikan oleh teman sang duda kepada ketua tim pada hari pertemuan pertama mereka.
Gelas itu masih utuh.
Tidak retak.
Tidak pecah.
Entah mengapa, gelas itu terasa seperti simbol kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Seperti aqidah yang pernah retak—tetapi kemudian diperbaiki.
Seperti hati yang pernah tersesat—tetapi akhirnya menemukan jalan pulang.
Penutup: Tentang Kepulangan
Kisah ini sebenarnya bukan hanya tentang pernikahan.
Ia adalah kisah tentang kembali pulang.
Tentang manusia yang pernah jauh dari aqidahnya, tetapi Allah masih membuka jalan untuk kembali.
Jika sebuah perjodohan melalui ta’aruf menjadi jalan seseorang kembali kepada iman, maka di sana ada dua kebaikan sekaligus:
membangun keluarga yang halal
dan menguatkan aqidah.
Sebagaimana firman Allah:
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Karena pada akhirnya, hidup manusia hanyalah perjalanan panjang untuk kembali.
Kembali kepada kebenaran.
Kembali kepada fitrah.
Kembali kepada Allah.
Dan ketika hari itu tiba—ketika kita benar-benar dipanggil pulang—
semoga kita tidak kembali dengan tangan kosong.
Semoga kita pulang dengan hati yang masih beriman.
Husnul khatimah.
Aamiin.

By Paman BED





















