Dalam tradisi spiritual Timur—khususnya Hindu dan praktik asketisme India—dikenal satu bentuk puasa yang unik: shaum dalam arti diam total dan menahan aktivitas duniawi. Seseorang berhenti berbicara, mengurangi gerak, bahkan menarik diri dari lalu lintas sosial. Diam menjadi laku. Sunyi dijadikan jalan.
Tujuannya jelas: menjinakkan ego.
Bagi tradisi ini, kata-kata adalah sumber kekacauan batin; aktivitas adalah pintu hasrat; dan dunia adalah gangguan kesadaran. Maka, sebelum tubuh dipuasakan, kesadaran lebih dulu “dipuasakan” lewat niat diam.
Dalam pengertian bahasa Arab, praktik ini sah disebut shaum—menahan diri. Bahkan Al-Qur’an sendiri mengafirmasi makna ini melalui kisah Maryam:
“Sesungguhnya aku bernazar shaum kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun hari ini.”
(QS. Maryam: 26)
Di sini shaum bukan puasa makan, melainkan puasa lisan. Diam yang diniatkan. Sebuah penarikan diri yang sadar.
Namun Islam tidak berhenti pada shaum sebagai laku individual. Islam melangkah lebih jauh: mengubah shaum menjadi shiyām.
Niat: Titik Balik dari Laku ke Ibadah
Dalam Islam, niat adalah garis pemisah antara latihan spiritual dan ibadah. Menahan diri tanpa niat hanyalah asketisme. Menahan diri dengan niat karena Allah adalah ibadah.
Di sinilah letak perbedaannya.
Tradisi Hindu memulai puasa dengan niat shaum: menenangkan diri, mengosongkan ego, mencapai kejernihan batin. Islam tidak menafikan itu. Bahkan, Islam menerimanya sebagai fondasi batiniah.
Tetapi Islam menuntut satu langkah tambahan yang menentukan:
shaum itu harus diikrarkan menjadi shiyām.
Nabi Muhammad ﷺ menegaskan:
“Barang siapa tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.”
Artinya, puasa dalam Islam bukan sekadar kondisi tubuh atau sikap diam, melainkan pernyataan sadar kepada Tuhan. Sebuah ikrar batin bahwa penahanan diri ini bukan demi kesunyian, tapi demi ketaatan.
Dengan niat itulah, shaum yang sunyi diangkat derajatnya menjadi shiyām yang bernilai ibadah.
Dari Diam Total ke Kendali Etis
Puasa ala Hindu berhenti pada diam total.
Puasa Islam justru mengajarkan kendali etis di tengah keramaian.
Seorang Muslim yang berpuasa:
- tetap berbicara, tapi menjaga lisan,
- tetap bekerja, tapi menahan nafsu,
- tetap hadir di ruang publik, tapi tidak liar.
Karena itu Nabi berkata:
“Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan perkataan sia-sia dan dusta.”
Ini penting:
Islam tidak memerintahkan diam,
tetapi memerintahkan kebenaran.
Shaum ala diam total memang menenangkan,
namun shiyām ala Nabi mendidik tanggung jawab sosial.
Mengapa Shaum Harus Naik Kelas Menjadi Shiyām
Diam bisa melatih batin,
tetapi diam juga bisa menjadi cara menghindari dunia.
Islam menolak spiritualitas yang:
- hening tapi abai pada kezaliman,
- sunyi tapi tak peduli ketidakadilan,
- khusyuk tapi membiarkan dusta merajalela.
Karena itu, shaum sebagai niat awal—sebagaimana dikenal dalam tradisi Hindu—harus dilampaui. Ia harus diikrarkan, diniatkan, dan diikat oleh wahyu, agar tidak berhenti sebagai latihan ego, melainkan menjadi ibadah yang melahirkan takwa.
Al-Qur’an menegaskan tujuan akhir shiyām:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
agar kamu bertakwa.
Bukan agar kamu sunyi,
tapi agar kamu adil.
Bukan agar kamu diam,
tapi agar kamu benar saat berbicara.
Penutup
Shaum ala Hindu mengajarkan cara menahan diri.
Shiyām ala Nabi mengajarkan untuk apa menahan diri.
Maka, niat shaum—diam, hening, menepi—boleh menjadi pintu masuk.
Namun ia harus diikrarkan menjadi shiyām,
agar puasa tidak berhenti pada sunyi pribadi,
melainkan menjelma ketakwaan yang hidup di tengah manusia.
Jika tidak, puasa hanya melahirkan ketenangan.
Padahal Islam menghendaki lebih:
kebenaran, keadilan, dan keberanian moral.





















