Jakarta-Fusilatnews — Peringatan malam Milad ke-79 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) digelar secara sederhana di Markas Besar Pengurus Besar (PB) HMI, Jalan Sultan Agung Nomor 25, Setiabudi, Jakarta, Rabu malam, 5 Februari 2026. Acara berlangsung dalam suasana duka menyusul wafatnya orang tua Ketua Umum PB HMI, Bagas.
Hujan yang mengguyur Jakarta sejak sore hari membuat peringatan Milad yang biasanya digelar di halaman parkir markas PB HMI dialihkan ke lantai 5 gedung utama. Acara pun dikemas secara lesehan, dengan prosesi doa dan syukuran sederhana.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PB HMI Bagas menyampaikan bahwa peringatan Milad setiap tahun merupakan momentum regenerasi sekaligus penguatan silaturahmi kader. Menurutnya, meski digelar dalam suasana berbeda, nilai kebersamaan dan gairah intelektual HMI tetap terjaga.
“Regenerasi HMI setiap tahun selalu menghadirkan rasa memiliki (sense of belonging) yang berbeda, namun tetap dengan ghirah kecendekiaan yang sama,” ujar Bagas.
Ia juga menegaskan pentingnya doa dalam setiap aktivitas organisasi. “Rumah tanpa doa ibarat tubuh tanpa ruh keberkahan,” katanya. Doa dan syukuran Milad ke-79 HMI dipimpin oleh Ihyasunan dari HMI Cabang Mesir.
Acara tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal PB HMI M. Jusrianto, Ketua Umum PB Kohati Meysistra, panitia pelaksana Raihan F., serta dipandu oleh MC Frida.
Sebelum peringatan Milad, PB HMI juga menggelar diskusi lintas organisasi Cipayung Plus di Markas PB HMI. Diskusi tersebut dipimpin oleh M. Asry J., Pimpinan Departemen Hubungan Internasional PB HMI, dengan menghadirkan perwakilan dari GMNI, GMKI, PMKRI, IMM, KAMMI, dan KMHDI.
Dalam diskusi itu, disepakati bahwa Markas PB HMI Dipo akan menjadi ruang bersama bagi kelompok Cipayung Plus, dengan komitmen saling berkunjung antar-markas sebagai bagian dari penguatan solidaritas dan dialog kebangsaan.
Sejumlah peserta diskusi juga menyoroti isu hubungan internasional Indonesia. Mereka menilai citra diplomasi Indonesia yang selama ini diperjuangkan para pendiri bangsa dinilai melemah akibat minimnya peran aktif Kementerian Luar Negeri. Kritik turut diarahkan pada Menteri Luar Negeri Sugiono yang berlatar belakang militer dan dinilai kurang mampu mengimbangi diplomasi aktif Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, peserta diskusi menyinggung kekosongan sekitar 20 jabatan duta besar RI di luar negeri. Mereka mendorong agar posisi tersebut diisi oleh figur-figur berpengalaman, termasuk dari kalangan alumni organisasi Cipayung Plus. Peserta juga meminta Komisi I DPR RI lebih membuka ruang dialog untuk menampung kegelisahan kelompok pemuda dan mahasiswa, guna mencegah eskalasi konflik sosial di daerah.
Diskusi tersebut ditutup dengan seruan agar Indonesia tetap menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta tidak terjebak dalam blok kekuatan global tertentu. (Mahdi)
























