Jakarta, Fusilatnews.– – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin melebar hingga Juli 2024. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa APBN mencatat defisit sebesar Rp 93,4 triliun, setara dengan 0,41 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit ini bertambah dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp 77,3 triliun.
“Dari total postur, bulan Juli kita mengalami defisit Rp 93,4 triliun atau 0,41 persen dari PDB,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Agustus 2024.
Penurunan pendapatan negara yang mencapai Rp 1.545,4 triliun, turun 4,3 persen dari tahun lalu, menjadi salah satu penyebab utama pelebaran defisit ini. Meskipun laju kontraksi pendapatan mulai membaik, dengan penurunan lebih kecil dibanding bulan sebelumnya, kondisi ini tetap menjadi perhatian utama pemerintah.
Di sisi lain, belanja negara terus tumbuh pesat. Realisasi belanja negara mencapai Rp 1.638,8 triliun, naik 12,2 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sri Mulyani menegaskan bahwa meskipun defisit APBN semakin melebar, hal ini masih sesuai dengan perhitungan awal pemerintah.
Namun, di tengah kondisi keuangan yang menantang ini, Presiden Joko Widodo tetap melanjutkan agenda penting di Ibu Kota Negara (IKN) baru. Meskipun APBN mengalami tekanan, acara-acara terkait pembangunan IKN tetap berjalan, dengan Jokowi menghadiri beberapa acara resmi.
Pemerintah tetap optimistis bahwa investasi di IKN akan memberikan dampak positif jangka panjang bagi perekonomian Indonesia. Namun, publik dan para pengamat ekonomi mulai mempertanyakan prioritas pemerintah dalam situasi defisit anggaran yang semakin melebar.


























