• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Demokrasi Pasar: Jika Menjadi Presiden Harus Jago Manipulasi Massa yang Bodoh

fusilat by fusilat
January 3, 2026
in Feature, Politik
0
Demokrasi Pasar: Jika Menjadi Presiden Harus Jago Manipulasi Massa yang Bodoh
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Malika Dwi Ana

Dalam demokrasi pasar, jika mau jadi presiden, maka dialah orang yang harus bisa menguasai orang yang pintar memanipulasi orang-orang yang bodoh.

Kalimat di atas terasa menampar, tapi realitasnya begitu.

Di sistem kita sekarang—pasca-amandemen UUD 2002—jalan menjadi presiden bukan lagi soal visi, integritas, atau kapabilitas membangun bangsa, tapi soal:

  1. Siapa yang paling jago manipulasi massa
    Buzzerp, SARA, black campaign, janji manis tanpa blueprint, drama pencitraan—semua dibeli dengan uang triliunan. Pemilu 2024 saja biayanya Rp76,6 triliunan, termahal ketiga di dunia. Uang sebanyak itu dari mana coba? Ya dari oligarki, korporasi, dan utang politik yang harus dibayar dengan proyek, konsesi tambang, atau kebijakan pro-asing.

  2. Siapa yang paling pintar “menguasai” orang bodoh
    Sayangnya, sebagian rakyat masih mudah dibeli dengan sembako, bansos, uang transport, atau janji tol gratis, kesehatan gratis, pendidikan gratis, pake kartu-kartu. Politik transaksional ini menjadi budaya karena pemilu langsung membuka pintu lebar-lebar bagi politik uang. Yang pintar memanipulasi emosi, adalah yang menang. Misal, dicitrakan sebagai orang yang merakyat, teraniaya, sederhana, dan orang baik, meski rekam jejak dan pendidikan gak jelas. Yang punya kejelasan dan solusi nyata? Kalah sebelum bertarung.

  3. Menghasilkan: Presiden yang bukan negarawan, tapi salesman terbaik
    Jadi superstar TV, aksi akrobatik pake motor trail, jalan-jalan naik motor di Papua, hujan-hujanan di sawah, bagi-bagi bansos jelang pemilu, pidato populis akan timbul tenggelam bersama rakyat—pidato populis yang tanpa eksekusi jangka panjang. GBHN dihapus, visi negara mati, sehingga yang ada cuma RPJPN lima tahunan yang selalu berganti tiap ganti presiden baru.

Jelas ini bukan demokrasi sejati. Ini demokrasi pasar: karena yang paling banyak modal (uang, media, lembaga survey, ples buzzer) yang pasti menang. Rakyat yang bodoh dimanfaatkan, dan rakyat yang kritis dikriminalisasi.

Mari lihat ke belakang ke Pemilu 2024

Fenomena Pemilu 2024: Pertarungan Fans Club dan Kingmaker Gen Z

Pemilu 2024 (yang sudah lewat hampir setahun ini) memang seperti “pertarungan fans club” die hard:
– 01 (Anies-Muhaimin) punya basis ideologis kuat di kalangan urban progresif dan NU tradisional.
– 02 (Prabowo-Gibran) mengandalkan barisan Jokowi-Prabowo yang solid.
– 03 (Ganjar-Mahfud) didukung loyalis PDIP dan Jawa Tengah.

Debat capres/cawapres—bahkan jika sampai lempar-lemparan kursi—memang gak banyak mengubah komposisi suara, karena kultur “apa kata bapak/pak yai/bos/ayang” masih dominan. Swing voters lebih dipengaruhi oleh “bingkisan” atau trending ghibah, sementara golput (sekitar 24% di 2024) diisi orang-orang idealis yang “gak gak mudah dibodohin sama pencitraan” dan pembohongan publik.

Tapi ada satu kelompok krusial: undecided voters, yang didominasi pemilih pemula (Gen Z dan awal Gen Alpha, usia 17–22 tahun). Mereka baru “terbit”, fresh dari SMA/sederajat atau mahasiswa semester awal, keseharian lebih ke TikTok, Mobile Legends, Free Fire, atau konten viral—bukan berita politik tradisional.

Data KPU 2024: Pemilih usia 17–30 tahun mencapai 31,23% dari total DPT (204,8 juta), atau sekitar 64 juta suara. Pemula (17–21 tahun) minimal 10%—itu sudah 20 juta suara, cukup untuk swing ke putaran kedua atau menang satu putaran.

Dari analisis pasca-pemilu (survei Kompas, LSI, Populi Center, CSIS): Undecided voters (estimasi 20–30% sebelum pencoblosan) banyak mendarat ke 02. Kenapa? Strategi gigih merangkul Gen Z dan Millenial: kampanye digital masif di TikTok/Instagram (konten viral seperti dance challenge, meme, kolab influencer), narasi “lanjutkan Jokowi” yang relatable buat anak muda yang suka stabilitas, plus janji praktis seperti makan siang gratis dan lapangan kerja. Gen Z (21% pemilih) mayoritas (55–60%) pilih 02, karena faktor “trending” dan dighibahin selebgram—tapi bukan visi jangka panjang.

02 akhirnya menang satu putaran dengan 58,6% suara (96 juta), sementara 01 (24,9%) dan 03 (16,5%) kalah telak. Undecided voters pemula menjadi “kingmaker”—dan 02 sukses “menyempurnakan” dukungan Jokowi dengan merebut domain ini.

Ini nunjukin sistem pemilu langsung kita rawan manipulasi emosi massa via media sosial. Gen Z potensial buat perubahan, tapi kalau didominasi “apa kata trending”, hasilnya bakal terus begini.

Jalan Keluarnya?

Hapus pemilu presiden langsung. Kembalikan seleksi ke MPR dengan mekanisme berlapis anti-manipulasi:
– Uji kapabilitas oleh panel akademisi independen (UI, ITB, UGM, dll.).
– Verifikasi integritas forensik.
– Musyawarah MPR untuk pilih yang terbaik, bukan yang paling populer atau paling royal bayar.

Dengan begitu, presiden bukan lagi “raja manipulasi, petugas partai, atau boneka oligarki”, tapi pemimpin sejati yang butuh otak, integritas, dedikasi, dan akhlak, bukan triliunan rupiah dan kemampuan mengelabui rakyat.

Jika sistemnya tetap begini, presiden selanjutnya juga akan dari golongan yang sama: mahir memanipulasi, ahli menguasai yang mudah dibodohi.

Waktunya mengubah sistem, sebelum negara ini benar-benar habis dikuasai oligarki.

🫶Refleksi Akhir Tahun Malika Dwi Ana 29 Desember 2025

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Damai Hari Lubis Tegaskan Roy Suryo dan Rismon Sianipar Bukan Ahli TPUA, Melainkan Saksi

Next Post

TUGAS MULIA PRESIDEN DI TANAH MERDEKA

fusilat

fusilat

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Next Post
Abolisi & Amnesti dari Prabowo: Awal Reformasi Hukum atau Sekadar Simbolik?

TUGAS MULIA PRESIDEN DI TANAH MERDEKA

FSA APP 87 dan KAHMI Lepas Bantuan Bencana untuk Korban di Sumatra

FSA APP 87 dan KAHMI Lepas Bantuan Bencana untuk Korban di Sumatra

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...