• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Demokrasi Tanpa Kedewasaan: Ketika Syarat Pemilih Lebih Ringan dari Risiko Pilihan

fusilat by fusilat
January 3, 2026
in Feature, Politik
0
PKS dan Golkar Berkoalisi dalam Pilgub Jakarta, Siapa Bacagub?

Ilustrasi Pemilu(KOMPAS.COM/Andika Bayu Setyaji)

Share on FacebookShare on Twitter

Anwar Husen
Pemerhati Sosial
Tidore, Maluku Utara

Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali menggelinding bak bola salju. Semula digulirkan Partai Golkar—bahkan bisa disebut sebagai pelopornya—gagasan ini segera menemukan ekor politiknya. Gerindra, PAN, dan PKB sebagai partai pendukung pemerintah mulai menunjukkan irama serupa. PKS menyatakan setuju pilkada lewat DPRD, tetapi terbatas di level kota, bukan kabupaten. Alasannya, kota dianggap lebih maju secara cara berpikir warganya. Sebuah asumsi yang menarik—sekaligus problematis.

Di sisi lain, PDIP dan Demokrat secara tegas menolak. PDIP berdalih pada amanat UUD 1945 dan putusan Mahkamah Konstitusi. Seorang kawan menyederhanakannya begini: ini bukan soal benar-salah, tapi soal “belum ketemu selera”.

Ini adalah tulisan ketiga saya tentang wacana pemilihan tidak langsung, sejak pertama kali ia dihembuskan Golkar dalam HUT partai tahun 2024 dan disambut hangat Presiden Prabowo kala itu. Artinya, sudah dua kali “tosser” Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, soal ide ini, mendapat umpan balik langsung dari Prabowo.

Alasan utama pihak yang ingin mengembalikan pilkada ke DPRD nyaris seragam: biaya politik yang terlampau mahal serta risiko rusaknya kohesi sosial dan keindonesiaan yang dibangun dengan susah payah. Namun, hampir tak satu pun yang menyentuh satu variabel krusial: seberapa matang pemilih kita untuk mengambil keputusan politik yang berkualitas.

Dalam Pemilu 2024, syarat usia pemilih di Indonesia adalah minimal 17 tahun atau sudah/pernah menikah, sebagaimana diatur dalam PKPU Nomor 7 Tahun 2022. Ketentuan ini terlihat sederhana, tetapi implikasinya sangat besar.

Komposisi pemilih berdasarkan usia menunjukkan bahwa Generasi Z dan Milenial mendominasi sekitar 55–56 persen suara nasional. Gen Z sendiri menyumbang sekitar 28 persen atau 46,8 juta pemilih dari total DPT 204,8 juta. Hampir satu dari empat pemilih berasal dari kelompok usia yang lahir antara 1997–2012. Pada Pilkada 2030 nanti, usia tertua Gen Z baru menyentuh 33 tahun, sementara Milenial berada di rentang tertinggi 49 tahun. Karakter utama Gen Z adalah digital natives: cepat, adaptif, dan akrab dengan media sosial—namun belum tentu matang secara politik.

Ketimpangan ini makin nyata jika ditarik ke latar pendidikan. Data perkiraan BPS dan GoodStats 2024 menunjukkan: pemilih yang tidak/belum sekolah berada di kisaran 10–24 persen; tamat SD sekitar 22–24 persen; tamat SMP 20–22 persen; lulusan SMA/SMK menjadi kelompok terbesar sekitar 34–36 persen; sementara lulusan perguruan tinggi (D1–S3) hanya sekitar 6,8–10 persen. Rata-rata lama sekolah nasional berada di angka 9,22 tahun—setara kelas 3 SMP. Angka ini memang meningkat, tetapi tetap mencerminkan dominasi pendidikan dasar dan menengah.

Ridwan Kamil pernah menyebut, demokrasi tidak selalu memilih orang pintar atau cerdas, melainkan orang yang disukai. Di sinilah persoalan pokoknya: apakah kita cukup yakin mendelegasikan pilihan pemimpin daerah, bahkan kepala negara, kepada komposisi pemilih dengan rentang usia dan latar pendidikan seperti ini? Bahkan kepada mereka yang belum berusia 17 tahun, asalkan sudah menikah?

Tak ada syarat pengetahuan, pemahaman problem daerah, atau kapasitas menilai rekam jejak calon. Mendelegasikan keputusan sepenting ini kepada pemilih yang secara usia dan pendidikan belum matang adalah perjudian sejarah yang paling tolol.

Ironisnya, kita pernah berdebat panjang dan melelahkan soal syarat usia calon presiden dan wakil presiden, tetapi nyaris tak pernah menyentuh syarat usia pemilih. Padahal, sehebat apa pun seorang calon, tanpa dipilih oleh pemilih, ia tak akan pernah berkuasa. Kita menganggap syarat usia calon jauh lebih penting, sembari melupakan kualitas calon pemilih. Ini logika yang timpang.

Demokrasi sejati tentu tidak dimaksudkan sebagai kebebasan “suka-suka gue”. Memilih kepala daerah atau kepala negara adalah keputusan yang berdampak masif dan struktural, bukan untuk satu-dua orang, apalagi satu-dua hari.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar mahal atau murahnya biaya pilkada. Yang paling utama adalah ketepatan hasilnya. Kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin tak bisa diuji sepenuhnya dengan menyerahkannya secara merdeka kepada pemilih dengan komposisi usia dan pendidikan seperti sekarang. Menerima mentah-mentah adagium bahwa pemimpin adalah cermin kualitas pemilih adalah kesimpulan setengah matang—bahkan bentuk kepasrahan yang tolol—karena menafikan faktor lain seperti politik uang dan manipulasi opini.

Pemimpin terpilih seharusnya menjadi lompatan harapan ke masa depan. Namun idealisme itu tak cukup jika didelegasikan kepada pemilih yang belum cukup umur secara kedewasaan politik. Hingga kini, saya belum menemukan riset yang menempatkan dominasi Gen Z—dengan rata-rata pendidikan setara SMP—sebagai kelompok yang secara kolektif matang dalam menilai pengetahuan, pengalaman, dan rekam jejak calon pemimpin. Meski harus diakui, ada pula kepala daerah hebat yang lahir dari pilkada langsung 2024.

Jika pilkada lewat DPRD dipilih, ia memang bukan opsi terbaik, tetapi lebih sedikit mudaratnya: biaya relatif lebih rendah, politik uang bisa dilokalisir, dan konflik sosial dapat ditekan. DPRD setidaknya diasumsikan sebagai kumpulan orang yang lebih paham persoalan daerah, sekaligus ruang untuk menguji kedewasaan partai politik.

Kita juga sudah cukup berpengalaman untuk menjembatani dua model pemilihan ini dan merumuskan formula yang lebih ideal. Demokrasi, pada akhirnya, bukan proses sekali jadi. Ia adalah pencarian terus-menerus atas makna keputusan politik yang benar-benar membawa kemaslahatan.

Wallahua’lam.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

FSA APP 87 dan KAHMI Lepas Bantuan Bencana untuk Korban di Sumatra

Next Post

DARI KEKERASAN APARAT KE KEMATIAN TAHANAN: SKEMA SOFT COUP PRABOWO

fusilat

fusilat

Related Posts

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah
Feature

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026
Feature

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?
Feature

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Next Post
DARI KEKERASAN APARAT KE KEMATIAN TAHANAN: SKEMA SOFT COUP PRABOWO

DARI KEKERASAN APARAT KE KEMATIAN TAHANAN: SKEMA SOFT COUP PRABOWO

IPW Tuding Pemerintah Tidak Serius, Hanya  Seolah – olah Dalam Menindak Pelaku Judi Online

Catatan Akhir Tahun 2025 IPW: Polri Tak Serius Kawal Reformasi Kulturalnya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Vitamin Demokrasi yang Mendadak Dilarang Konsumsi
Feature

Teddy, Gay, dan Luth

by Karyudi Sutajah Putra
May 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta — Hubungan politik antara Amien Rais dan Prabowo...

Read more
Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

Ketika Buruh Tampar Muka Prabowo

May 2, 2026
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

April 30, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026
Saat Rakyat Menggemakan ‘Adili Jokowi’, Prabowo Teriak ‘Hidup Jokowi’: Loyalitas Kepada Siapa?

Qiamat Terjadi Ketika Tugas Dikerjakan Oleh Yang Bukan Akhlinya

May 3, 2026
Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

Perang Iran Membakar Inflasi AS: Angka 3,6% Jadi Alarm Bahaya Ekonomi

May 3, 2026
Bobby Kertanegara: Simbol Transformasi Prabowo dari Kerasnya Medan Perang ke Kasih Sayang

Prabowo: Kritik Tak Digubris – Penderitaan Bangsa Lain Direduksi

May 3, 2026
Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

Mafia Peradilan di Pemalang: Dugaan Pemerasan Berantai Oknum Polisi dan Jaksa Mencuat

May 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

Dari Langit ke Bumi: Jejak Budaya dalam Tubuh Syariah

May 3, 2026

Meraih dan Merawat Cinta Allah dengan Menggenggam Hidayah melalui Taufik-Nya

May 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...