Setiap hari, sedikitnya lima kali, umat Islam mengulang sebuah permohonan sederhana namun sangat mendasar: “wa alihi” — keluarga dan saudara terdekat; “wa shohbihi” — para sahabat; dan baru kemudian “ajma’in” — orang banyak, masyarakat luas. Urut-urutan ini bukan lafaz kosong. Ia adalah filosofi sosial yang seharusnya menuntun cara kita membangun jaringan, memilih sekutu, dan mengelola kemitraan. Namun sayangnya, kearifan ini sering hilang dalam praktik, digantikan oleh individualisme, kecurigaan, dan sikap enggan membangun jejaring jangka panjang.
Sementara itu, di belahan dunia lain, terutama di Tiongkok, kita melihat konsep Xuan Xie—sebuah model kemitraan organik yang berakar pada keluarga besar, kesetiaan sosial, dan kesinambungan bisnis lintas generasi. Xuan Xie menjadi fondasi yang membesarkan banyak dinasti usaha Tionghoa, dari bisnis kecil keluarga (family business) hingga perusahaan raksasa yang kini menguasai pasar global. Di sana, kerja sama bukan sekadar kontrak bisnis, melainkan ikatan sosial dan moral.
Xuan Xie: Ikatan yang Menumbuhkan Peradaban
Xuan Xie adalah jaringan solidaritas berbasis keluarga, klan, dan hubungan sosial yang dirawat dengan kesetiaan. Di dalamnya ada tiga nilai kunci:
- Trust (kepercayaan) — dibangun dari kedekatan emosional sejak kecil.
- Continuity (keberlanjutan) — bisnis diwariskan, bukan dipecah.
- Mutual obligation (kewajiban timbal balik) — saling menguatkan sebagai bentuk kehormatan klan.
Dengan sistem seperti ini, orang Tionghoa tidak pernah benar-benar “sendirian” dalam ekonomi. Seorang anak yang membuka usaha akan dibantu modal oleh pamannya, dibantu pasar oleh sepupunya, dan dijaga reputasinya oleh keluarganya. Tidak heran, family business Tiongkok tumbuh seperti akar pohon bambu: saling menopang, saling menguatkan, dan tidak mudah tumbang.
Doa yang Kita Baca: Panduan Kemitraan yang Terlupakan
Padahal dalam ajaran Islam, prinsip serupa telah dinyatakan secara gamblang. Urut-urutan wa alihi – wa shohbihi – ajma’in mengajarkan struktur berpartner yang sangat jelas:
1. Wa alihi — Mulai dari keluarga
Keluarga adalah lingkaran pertama keberkahan dan kepercayaan. Di sinilah etos, integritas, dan tujuan bersama dibangun. Ketika keluarga kuat, ia menjadi unit sosial yang produktif.
Namun di banyak komunitas Muslim, kerja sama keluarga sering runtuh oleh perebutan warisan, saling curiga, atau pola pikir “setiap orang jalan sendiri”. Kita kehilangan kekuatan paling dasar: solidarity capital.
2. Wa shohbihi — Sahabat sebagai mitra strategis
Sahabat adalah lingkaran kepercayaan kedua. Bukan sekadar teman, tapi orang yang diuji oleh waktu, kesetiaan, dan kecerdasan moral. Dalam sejarah Islam, sahabat adalah mitra Nabi — bukan pengikut pasif. Jaringan sahabat membangun kota, pasar, pemerintahan, dan kebudayaan.
Dalam konteks hari ini, sahabat adalah rekan profesional, partner bisnis, mentor, dan orang-orang yang membentuk jejaring produktif.
3. Ajma’in — Baru kemudian masyarakat luas
Lingkaran ketiga adalah kolaborasi lebih besar: masyarakat, bangsa, bahkan umat manusia. Kerja sama yang lebih luas ini penting, namun tidak boleh dibangun di atas fondasi yang rapuh. Tanpa keutuhan keluarga dan soliditas sahabat, kemitraan publik mudah retak dan berubah menjadi konflik kepentingan.
Mengapa Umat Islam Kurang Solid?
Pertanyaannya: jika ajaran Islam sudah memberi struktur kemitraan yang begitu jelas, mengapa kita kesulitan membangun jaringan sekuat Xuan Xie?
Beberapa jawabannya mungkin pahit, tetapi perlu disampaikan:
- Kita lebih mudah tersinggung daripada bekerja sama.
- Kita curiga terhadap keberhasilan orang dekat.
- Kita lebih sibuk membuktikan siapa yang benar, bukan apa yang bermanfaat.
- Kita tidak merawat hubungan seperti merawat amal.
- Kita terjebak hiruk-pikuk politik, bukan pembangunan jangka panjang.
Ini kontras dengan etika Tionghoa yang menempatkan hubungan sebagai aset utama, bukan sebagai ancaman.
Pelajaran untuk Kebangkitan Baru
Untuk menjawab pertanyaan besar “Dengan siapa Muslim harus berpartner?”, jawabannya bukan sekadar siapa, tetapi bagaimana:
1. Bangun kembali solidaritas keluarga
Bukan hanya kumpul saat lebaran, tetapi membangun family trust, family fund, dan family plan seperti keluarga Tionghoa.
2. Perluas jejaring sahabat yang berintegritas
Cari sahabat yang mendorong kebaikan, bukan drama. Ikat hubungan dengan nilai kerja, bukan sekadar nostalgia.
3. Masuk ke kemitraan publik dengan fondasi kuat
Kolaborasi besar hanya mungkin jika lingkaran dalam kita kokoh. Umat yang solid menjadi aktor yang dihormati dalam ekonomi dan politik.
4. Kelola hubungan sebagai ibadah
Jika umat Islam menganggap membangun kepercayaan sebagai ibadah sosial, maka kita akan menghapus budaya saling menjatuhkan dan menggantinya dengan budaya saling menguatkan.
Penutup: Kita Sudah Punya Kuncinya
Kita tidak perlu mengambil seluruh konsep Xuan Xie, tetapi kita bisa belajar dari keberhasilan mereka merawat jaringan sosial. Hakikatnya, Islam sudah mengajarkan hal serupa — hanya saja kita tidak menghidupkannya dalam praktik.
Setiap hari kita membaca doa itu lima kali. Mungkin ini saatnya kita merenung: doa itu bukan hanya seruan spiritual, tapi juga blueprint sosial—panduan tentang dengan siapa kita membangun, mempercayai, dan bergerak.
Dan jawabannya sudah sangat jelas:
Mulailah dengan saudara, lanjutkan dengan sahabat, dan sebarkan kepada semua.






















