Dalam banyak tradisi tua, sosok orang tua selalu ditempatkan pada kedudukan yang agung. Ketika seorang Kunhuchu ditanya apa itu surga, ia menjawab dengan sederhana namun dalam: “Surga adalah ketika orang tua dan leluhurmu berada dalam kebahagiaan, lahir dan batin.” Jawaban ini menyiratkan sebuah pandangan: bahwa kebahagiaan orang tua adalah bagian dari kebahagiaan tertinggi seorang manusia.
Namun Islam melangkah lebih jauh. Dalam ajaran Islam, kedudukan orang tua ditempatkan di atas keridhoan Allah SWT sendiri, sebagaimana sabda Nabi:
“Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
Pernyataan ini bukan sekadar kalimat nasihat. Ia adalah fondasi moral, spiritual, dan eksistensial seorang Muslim. Betapa tidak—Allah Yang Maha Tinggi menautkan keridhoan-Nya dengan manusia yang paling dekat, paling berperan, dan paling berjasa dalam hidup kita: orang tua.
Singgasana Tertinggi di Mata Seorang Muslim
Mengapa orang tua ditempatkan pada singgasana paling mulia?
Karena merekalah pintu kehidupan. Dari merekalah kita belajar arti perjuangan tanpa pamrih—bangun malam, menahan lapar, mengorbankan cita-cita demi anak-anaknya. Pengorbanan yang mungkin tidak pernah selesai, bahkan ketika usia telah renta.
Karena itu, Islam tidak sekadar meminta umatnya berbuat baik kepada orang tua. Islam menetapkan bakti kepada orang tua sebagai jalan spiritual langsung menuju ridho Tuhan. Begitu sakralnya posisi ini sehingga dalam Al-Qur’an, perintah untuk menyembah Allah langsung disandingkan dengan perintah berbuat baik kepada orang tua. Tidak ada perantara. Tidak ada jeda.
Surga di Telapak Kaki Ibu, Jalan Terang dari Doa Ayah
Ajaran Islam tidak melihat surga sebagai tempat abstrak yang jauh. Surga dimulai dari rumah. Dari langkah seorang anak yang memilih merendahkan suara di hadapan ibunya; dari seorang anak yang menahan egonya demi tidak melukai hati ayahnya; dari kesediaan mengangkat derajat dan kebahagiaan orang tua lebih tinggi dari kepentingan dirinya sendiri.
“Surga di bawah telapak kaki ibu”—adalah ungkapan yang menegaskan bahwa jalan ke surga melewati kesadaran untuk menghormati perempuan yang telah mengandung kita sembilan bulan.
“Doa ayah menembus langit”—adalah gambaran betapa kuatnya keberkahan yang mengalir dari ridho seorang ayah.
Ketika Ridho Menjadi Cahaya Hidup
Ridho orang tua bukan hanya tiket menuju akhirat. Ia adalah cahaya bagi kehidupan dunia.
Orang-orang yang hidup dalam ridho orang tuanya sering merasa hidupnya terbuka, jalannya lapang, rezekinya mengalir tanpa hambatan yang tidak perlu. Bukan karena mereka lebih hebat, tetapi karena mereka membawa berkah dari hati yang paling tulus di muka bumi—hati orang tua.
Sebaliknya, hidup sering terasa sempit bagi orang yang mengabaikan orang tua. Bukan karena kutukan, melainkan karena ia memutus sumber doa yang paling murni.
Menempatkan Orang Tua di Atas Ego dan Ambisi
Islam mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah bentuk tertinggi dari kerendahan hati. Mengalah kepada mereka bukan berarti kalah. Mendahulukan kehendak mereka bukan berarti kehilangan arah. Justru di situlah seorang Muslim menemukan jalan keselamatannya.
Karena itu orang tua—dalam ajaran Islam—bukan hanya figur keluarga. Mereka adalah singgasana tertinggi, pintu rahmat, jembatan menuju ketentraman jiwa, dan wasilah menuju ridho Allah SWT.
Penutup
Jika Kunhuchu memaknai surga sebagai kebahagiaan orang tua dan leluhur, Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan itu bukan hanya gambaran surga—tapi jalan menuju surga itu sendiri. Dan di balik itu semua, ada prinsip agung yang menuntun umat Islam sepanjang masa:
“Ridho Allah ada pada ridho orang tua.”
Dan selama manusia menjaga ridho itu, ia tidak hanya sedang berbakti kepada orang tuanya, tetapi juga sedang merawat sinar ilahi dalam hidupnya. Semoga kita termasuk hamba yang mampu memuliakan kedua orang tua, di dunia dan di akhirat.




















