Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Entah siapa yang memberi nama atau “brand”, sehingga langsung “branded”. Mungkin Lukas Suwarso, tokoh utamanya. Mungkin Petrus Selestinus, kuasa hukumnya. Mungkin pula kedua-duanya. Atau mungkin seluruh anggotanya. Yang jelas, Bonjowi kini telah berhasil membetot perhatian publik, yang langsung mengasosiasikannya dengan Bon Jovi, grup band legendaris asal New Jersey, Amerika Serikat, yang berdiri sejak 1983.
Yang jelas, Bonjowi kini telah menjadi “brand” tersendiri yang berani melakukan perlawan terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang “dilindungi” Presiden Prabowo Subianto.
Ihwal nama Bonjowi yang mirip Bon Jovi itu mungkin mereka ingin memberi kesan “sersan” atau serius tapi santai. Menggugat ijazah Jokowi adalah pekerjaan serius, tetapi para personelnya tetap santai, seperti tak ada takut-takutnya.
Bonjowi itu sendiri merupakan singkatan dari “Bongkar Ijazah Jokowi”, sebuah aliansi yang terdiri atas sekawanan aktivis dan akademisi. Mereka menggugat keabsahan ijazah Jokowi.
Di saat aktivis-aktivis lain seperti Roy Suryo, Rismon Sianipar dan dr Tifa ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik oleh Polda Metro Jaya gegara menggugat ijazah Jokowi, Bonjowi justru melakukan hal yang sama. Mereka mengajukan gugatan ke Komisi Informasi Pusat (KIP) yang kemudian ditolak pada Selasa (2/12/2025) lalu.
Bonjowi menuntut agar ijazah Jokowi dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dibuka dan diverifikasi ulang secara independen, guna memastikan bahwa pemimpin tertinggi negara memiliki rekam jejak pendidikan yang sah dan tidak bermasalah.
Bonjowi juga mendorong transparansi penuh dalam hal data publik pejabat negara, terutama yang berkaitan dengan keabsahan dokumen.
Sayangnya, sekali lagi, gugatan itu ditolak KIP. Tapi Bonjowi tak menyerah. Mereka akan terus melakukan perlawanan. Mereka seperti tak ada takutnya, seperti juga Roy Suryo yang pernah dipenjara 9 bulan dalam kasus ujaran kebencian terhadap Jokowi.
Maklum, Lukas Suwarso dan Petrus Selestinus bukan sosok sembarangan. Lukas adalah Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia 1997-1999 saat rezim Orde Baru sedang ganas-ganasnya menjelang tumbang pada 21 Mei 1998.
Petrus juga merupakan Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang membela Megawati Soekarnoputri saat melawan rezim Orde Baru pasca-Tragedi 27 Juli 1996 (Kudatuli).
Alhasil, mereka tak ada takutnya, bak punya nyawa rangkap 9 seperti kucing kesayangan Prabowo Subianto, Bobby Kertanegara dan kucing-kucing lain pada umumnya.
Ihwal gugatannya terhadap keabsahan ijazah Jokowi, Lukas Luwarso menyebut terdapat perbedaan signifikan antara pernyataan Polda Metro Jaya dan fakta yang terjadi belakangan. Polda menyebut ijazah Jokowi kini dalam penguasaan polisi.
Ya, dalam sejumlah kesempatan, pihak kepolisian menyatakan bahwa ijazah Jokowi masih disegel dan diamankan sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Namun dalam beberapa minggu terakhir, Jokowi diketahui menunjukkan kembali ijazahnya kepada relawan Projo.
Akankah gugatan Bonjowi terhadap keabsahan ijazah Jokowi akan berujung pada penetapan tersangka para anggotanya? Kita tunggu saja tanggal mainnya. Yang jelas, para personel Bonjowi seolah tak ada takut-takutnya. Mereka seperti punya nyawa rangkap 9.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
























