Fusilatnews – Suatu sore di belahan Bintaro, saya berbincang-bincang dengan sahabat yang saya hormati, Fujiwara. Angin sore mengalir perlahan, dan percakapan kami mengalir lebih pelan lagi—menyentuh hal-hal yang tak selalu mudah dijawab dengan kepastian. Di antara kami duduk pula Pak Willy, yang kemudian melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat saya terdiam lebih lama dari biasanya.
“Bagaimana kalau seseorang, yang sepanjang hidupnya menjalankan syariah, tetapi ketika mengembuskan napas terakhir tidak sempat mengucapkan kalimat syahadat? Apakah tidak ada kebijaksanaan Tuhan baginya? Apakah ia tidak bisa masuk surga?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi kedalamannya menyentuh ruang paling sunyi dalam batin saya. Saya memahami dari mana pertanyaan itu berasal. Saya tahu pula penjelasan yang biasa diberikan dalam tradisi hadis mengenai pentingnya kalimat syahadat di akhir hayat. Namun, batin saya meragukan cara pandang yang terlalu literal. Bukan karena saya menolak teks, tetapi karena nalar saya mengajak untuk menengok kembali keseluruhan pesan ilahi secara lebih utuh.
Lalu saya teringat sebuah ayat yang sejak lama meneguhkan logika moral dalam diri saya:
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Bagi saya, inilah wazan—timbangan—yang sejati. Inilah hisab yang paling jernih, paling rasional, dan paling sesuai dengan gambaran Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Ayat ini tidak menyebut pengecualian, tidak menyebut syarat tambahan, tidak menyinggung soal momen tertentu di ujung hayat. Ia menyatakan hukum moral paling dasar: bahwa setiap kebaikan bernilai, dan setiap keburukan pun demikian.
Maka di titik ini, nalar saya bertanya: mungkinkah Tuhan—yang menciptakan akal, mengajarkan keadilan, menegaskan rahman~rahim sebagai sifat-Nya—menyia-nyiakan seluruh amal saleh seseorang hanya karena faktor teknis di detik-detik terakhir yang bahkan mungkin tidak bisa ia kendalikan?
Jika agama adalah jalan menuju kearifan, bukankah nalar menjadi bagian dari petunjuk itu? Dan bukankah Al-Qur’an sendiri berulang kali memanggil manusia dengan seruan afala ta’qilun, “tidakkah kalian berpikir?”
Saya tidak sedang menolak hadis. Saya hanya memahami bahwa teks-teks agama tidak berdiri sendirian; ia saling menjelaskan, saling menimbang, dan saling menegakkan. Dan dalam penjelasan Al-Qur’an yang paling eksplisit, yang paling langsung, yang paling universal, Tuhan menegaskan bahwa setiap perbuatan akan dibalas—bahkan yang sehalus zarrah.
Di sinilah saya merasakan keteduhan: bahwa agama tidak hanya bergerak di wilayah simbol, tetapi juga di wilayah substansi. Bahwa iman tidak sekadar terletak pada satu detik terakhir, tetapi pada perjalanan panjang yang dilalui seseorang dengan kesungguhan. Bahwa rahman~rahim Tuhan jauh lebih besar dari kekhawatiran manusia terhadap kesempurnaan ritual.
Maka sore itu, sambil menatap langit yang mulai memudar warnanya, saya merasa menemukan kembali makna beragama yang selama ini saya genggam: beragama dengan nalar, beragama dengan hati yang lapang, beragama dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah berlaku zalim terhadap hamba-Nya.
Dan dari sanalah saya memahami: kebijaksanaan Tuhan tidak diikat oleh keterbatasan manusia, tetapi justru melampaui semuanya.




















