Pernyataan Prabowo Subianto bahwa alih fungsi hutan menjadi kebun sawit tetap memproduksi oksigen adalah contoh klasik dari penyederhanaan persoalan ekologis yang begitu kompleks menjadi sekadar hitungan biologis paling dasar. Memang benar, setiap tumbuhan melakukan fotosintesis. Namun menyamakan hutan dengan kebun sawit hanya karena keduanya menghasilkan oksigen adalah kekeliruan fundamental yang mengabaikan dimensi ekologis, hidrologis, keanekaragaman hayati, hingga stabilitas iklim. Hutan bukan sekadar hamparan pohon. Hutan adalah rumah besar dari jaringan kehidupan yang saling terhubung dan menopang keberlangsungan manusia serta kestabilan bumi.
1. Hutan: Sistem Penyangga Kehidupan, Bukan Sekadar Pabrik Oksigen
Hutan hujan tropis seperti di Indonesia merupakan ekosistem paling kompleks di dunia. Di dalamnya terdapat strata vegetasi berlapis—from canopy hingga understory—yang menciptakan mikroklimat stabil, menjaga siklus air, dan menjadi habitat ribuan spesies flora-fauna.
Kebun sawit, sebaliknya, adalah monokultur. Ia hanya menumbuhkan satu jenis tanaman secara masif dengan struktur ekologis yang sangat sederhana. Menyamakan keduanya ibarat menyamakan kota metropolitan dengan pabrik yang hanya memproduksi satu barang: seragam, mekanis, dan minim fungsi sosial.
2. Produksi Oksigen Tak Seimbang dengan Fungsi Ekologis
Argumen bahwa sawit juga menghasilkan oksigen mengabaikan bahwa oksigen hanyalah satu aspek kecil dari fungsi hutan. Hutan tropis:
- menyimpan karbon jauh lebih besar dibanding kebun sawit;
- mencegah banjir, erosi, dan tanah longsor;
- menjaga kelembapan kawasan dan membentuk hujan;
- menyokong keanekaragaman hayati yang menjadi basis ketahanan pangan dan sistem obat-obatan;
- mengatur tata air dari hulu ke hilir.
Sebaliknya, perkebunan sawit justru sering berkontribusi pada hilangnya kemampuan tanah menyerap air, meningkatnya suhu lokal, serta hilangnya habitat penting satwa kunci seperti orangutan, harimau Sumatra, dan badak.
Dengan kata lain, oksigen hanyalah output pasif, sedangkan manfaat hutan jauh melampaui fungsi biologis sederhana itu.
3. Dari Hutan ke Sawit: Kerugian Ekologi yang Tidak Tertutupi
Alih fungsi hutan menjadi kebun sawit selalu diikuti hilangnya tanah hutan asli. Deforestasi menghasilkan jejak karbon yang sangat besar melalui pembukaan lahan, terutama jika terjadi pembakaran. Kehilangan hutan primer tidak dapat diganti dengan sekadar menanam sawit. Tidak ada monokultur yang bisa memulihkan fungsi ekologis yang tercipta selama ribuan tahun evolusi alam.
Penelitian menunjukkan bahwa kebun sawit memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang empat hingga enam kali lebih rendah dibanding hutan hujan tropis. Artinya, klaim bahwa sawit “menghasilkan oksigen” sama sekali tidak mengimbangi kerugian ekologis yang timbul dari deforestasi.
4. Kekeliruan Argumentatif: Reduksi Alam Menjadi Logika Industri
Mengukur nilai hutan berdasarkan seberapa banyak oksigen yang dapat diproduksi adalah pendekatan reduksionis yang membahayakan. Logika seperti itu mengabaikan keragaman fungsi ekologis dan menjadikan alam sebagai objek industri yang tunggal.
Di titik inilah pernyataan Prabowo bermasalah secara ilmiah dan secara etis. Ia memperlihatkan paradigma pembangunan yang memandang hutan sebagai aset yang dapat diganti-ganti, padahal secara ekologis hutan adalah entitas unik yang tak tergantikan.
5. Hutan Adalah Rumah Kehidupan
Hutan tropis menyimpan kehidupan yang tak terlihat oleh mata biasa: mikroorganisme tanah, fungi, serangga, reptilia, burung, hingga mamalia besar. Semua hidup dalam simbiosis yang menjaga keseimbangan alam. Hilangnya satu bagian dari sistem ini dapat memicu kerusakan berantai.
Alih fungsi hutan menjadi sawit menghancurkan rumah besar ini. Dan ketika rumah besar ini runtuh, manusia sendiri yang akan kehilangan penyangga lingkungan yang menjaga iklim, air, pangan, dan udara yang sehat.
Kesimpulan: Kritik Sebagai Bagian dari Tanggung Jawab Publik
Pernyataan bahwa sawit sama saja dengan hutan karena “sama-sama menghasilkan oksigen” adalah pengaburan pengetahuan ekologis yang dapat menyesatkan publik. Pemimpin seharusnya merumuskan kebijakan berdasarkan pemahaman ilmiah, bukan menyederhanakan kompleksitas alam demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
Hutan bukan kebun kayu.
Ia adalah rumah besar kehidupan, tempat di mana keberlangsungan manusia bergantung. Menggantinya dengan sawit sama saja meruntuhkan fondasi yang menopang hidup kita sendiri.


























