Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Sejak dilantik menjadi Presiden ke-8 RI pada 20 Oktober 2024, hingga kini Prabowo Subianto sedikitnya sudah melakukan kunjungan kerja ke luar negeri sebanyak 50 kali dalam durasi kurang lebih 100 hari. Teranyar adalah ke Prancis sejak Selasa (26/5/2026) lalu. Bahkan ini adalah kali ketiga Prabowo mengunjungi mitranya, Presiden Emanuel Macron.
Prabowo merasa terhormat karena disambut hangat oleh Macron dalam kunjungan ketiga hanya dalam kurun waktu setahun ini.
Padahal, itu hanya persepsi Prabowo. Kalau memang Macron menghormati Indonesia, atau setidaknya Prabowo, niscaya dia akan melakukan kunjungan balasan ke Jakarta, tak membiarkan Prabowo berkunjung tiga kali ke Paris tanpa sekali pun kunjungan balasan.
Entah apa maksud sesungguhnya dari Prabowo banyak melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Prabowo tercatat sebagai Presiden RI yang paling banyak melakukan kunjungan ke luar negeri hanya dalam masa 1,5 tahun pemerintahannya.
Apakah Prabowo mencoba menghindari masalah-masalah domestik dengan “lari” ke luar negeri? Bisa jadi!
Lihatlah. Saat ini kurs rupiah nyaris tembus 18.000 per dolar AS.
Salah satu pemicu letoy-nya rupiah adalah capital outflow atau eksodusnya modal asing dari Indonesia. Artinya, kesepakatan-kesepakatan dagang yang sudah diteken Prabowo dengan mitranya di luar negeri banyak yang belum terealisasi.
Masyarakat akar rumput (grass roots) saat ini juga mengalami kesulitan ekonomi. Jumlah masyarakat kelas menengah terus menurun. Pengangguran merajalela. Pemutusan hubungan kerja (PHK) makin banyak saja.
Mungkin karena itulah Prabowo banyak melakukan kunjungan ke luar negeri. Prabowo ingin kunjungan itu dianggap sebagai pencapaian atau keberhasilan. Cerita keberhasilan itu diharapkan akan menjadi semacam gula-gula bagi rakyat, sehingga rakyat akan melupakan sejenak kesulitan hidup dan penderitaannya.
Bagi Prabowo, cukuplah penghormatan dari mitra-mitranya di luar negeri. Dengan itu, ia merasa eksistensinya sebagai Presiden kian diakui.
Sama seperti ketika Prabowo mendapatkan laporan asal bapak senang (ABS) dari menteri-menterinya. Tak perlu ia melihat realita di lapangan.
Yang penting pidato-pidatonya menggelegar. Yang penting pernyataan-pernyataannya heroik dan nasionalistik.
Bahwa para pengkritik diancam bahkan dibungkam, itu bukan masalah bagi Prabowo. Yang penting para menteri ceritanya baik-baik saja.
Akankah dengan gula-gula Prabowo itu rakyat akan diam? Mungkin saja.
Tapi kalau pelemahan rupiah terus berlanjut, apalagi kalau menembus batas psikologis baru 20.000 per dolar AS, mungkin rakyat tidak akan tinggal diam.
Apalagi kalau ditambah dengan harga sembako yang melambung tinggi. Ada percikan api sedikit saja, rakyat akar rumput yang kondisinya sudah mengering akan mudah terbakar.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)




















