• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Ali Syarief by Ali Syarief
May 31, 2026
in Feature, Tokoh/Figur
0
Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal, mengenai tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto menarik untuk dicermati. Dino bukan sekadar pengamat. Ia adalah pelaku diplomasi yang memahami bagaimana hubungan antarnegara dibangun, bagaimana sebuah kunjungan kenegaraan dirancang, dan bagaimana hasilnya diukur.

Karena itu, ketika Dino mengingatkan bahwa Presiden Prabowo perlu mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri dan lebih mengutamakan efektivitas diplomasi, kritik tersebut layak dipertimbangkan secara serius.

Namun sesungguhnya persoalannya bukan terletak pada berapa kali seorang presiden naik pesawat dan mengunjungi negara lain. Persoalan yang lebih penting adalah apakah biaya yang dikeluarkan negara sebanding dengan manfaat yang diterima rakyat.

Dalam dunia bisnis terdapat konsep Return on Investment (ROI). Setiap pengeluaran harus menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Prinsip yang sama seharusnya berlaku dalam tata kelola negara. Setiap perjalanan presiden menggunakan uang rakyat. Maka rakyat berhak mengetahui apa keuntungan yang diperoleh bangsa dari setiap rupiah yang dibelanjakan.

Masalahnya, hingga saat ini publik lebih banyak melihat foto-foto diplomatik, jamuan kenegaraan, penyambutan militer, penandatanganan nota kesepahaman, dan berbagai seremoni lainnya. Yang belum terlihat secara jelas adalah dampak langsungnya terhadap kehidupan masyarakat.

Apakah kunjungan-kunjungan tersebut berhasil meningkatkan ekspor Indonesia secara signifikan?

Apakah menghasilkan investasi baru yang benar-benar terealisasi?

Apakah mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar?

Apakah memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perdagangan global?

Ataukah sebagian besar hanya menghasilkan komitmen-komitmen normatif yang memang selalu terdengar indah dalam setiap konferensi internasional?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena kondisi Indonesia hari ini sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pertumbuhan ekonomi belum mampu menciptakan pekerjaan yang cukup bagi generasi muda. Kelas menengah mulai tertekan. Daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Sementara itu, beban utang negara, kebutuhan pembangunan, serta tuntutan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan terus meningkat.

Dalam situasi seperti ini, setiap pengeluaran negara harus diuji manfaatnya.

Di sinilah kritik Dino menemukan relevansinya.

Ia mencontohkan bagaimana Presiden Meksiko lebih sering memanfaatkan komunikasi jarak jauh dibandingkan melakukan kunjungan bilateral yang mahal. Pesan yang ingin disampaikan bukanlah anti-diplomasi, melainkan diplomasi yang hemat dan efisien.

Justru negara-negara maju saat ini mulai mengukur keberhasilan diplomasi berdasarkan hasil yang dicapai, bukan berdasarkan jumlah perjalanan yang dilakukan pemimpinnya.

Indonesia tampaknya masih terjebak pada paradigma lama bahwa semakin banyak kunjungan internasional berarti semakin aktif diplomasi sebuah negara. Padahal dunia telah berubah. Teknologi memungkinkan komunikasi tingkat tinggi dilakukan tanpa harus menggerakkan rombongan besar dan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.

Lebih jauh lagi, terdapat persoalan persepsi publik yang tidak boleh diremehkan.

Di tengah kesulitan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat, frekuensi perjalanan luar negeri yang terlalu tinggi berpotensi menciptakan kesan adanya jarak antara elite penguasa dan realitas rakyat. Presiden memang harus aktif di panggung dunia, tetapi rakyat juga ingin melihat pemimpinnya hadir di tengah persoalan domestik yang mereka hadapi setiap hari.

Seorang presiden pada akhirnya dipilih bukan untuk menjadi duta keliling dunia, melainkan untuk menyelesaikan masalah bangsa.

Karena itu, strategi diplomasi Indonesia ke depan perlu diperbaiki.

Pertama, setiap kunjungan luar negeri harus memiliki target yang terukur dan diumumkan kepada publik sebelum keberangkatan. Bukan sekadar mempererat hubungan bilateral, melainkan angka investasi yang ingin dicapai, pasar ekspor yang hendak dibuka, atau kesepakatan strategis yang ingin diperoleh.

Kedua, pemerintah perlu menerbitkan laporan hasil kunjungan secara transparan. Berapa nilai investasi yang masuk, berapa proyek yang terealisasi, dan berapa manfaat ekonomi yang diperoleh Indonesia. Dengan demikian publik dapat menilai efektivitasnya secara objektif.

Ketiga, diplomasi digital harus dimanfaatkan secara maksimal. Tidak semua pembicaraan membutuhkan pertemuan fisik. Teknologi memungkinkan efisiensi tanpa mengurangi kualitas komunikasi antar pemimpin.

Keempat, forum internasional harus dimanfaatkan untuk melakukan sebanyak mungkin pertemuan bilateral dalam satu perjalanan. Satu perjalanan harus menghasilkan banyak capaian sekaligus.

Kelima, fokus diplomasi harus diarahkan pada kebutuhan domestik Indonesia. Diplomasi bukan sekadar membangun citra internasional, melainkan instrumen untuk memperkuat ekonomi nasional, memperluas lapangan kerja, meningkatkan transfer teknologi, dan memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan diplomasi bukanlah berapa banyak negara yang dikunjungi presiden. Ukurannya adalah berapa banyak manfaat yang kembali ke Indonesia.

Rakyat tidak membutuhkan daftar panjang perjalanan luar negeri. Rakyat membutuhkan pekerjaan yang lebih baik, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, pendidikan yang berkualitas, dan masa depan yang lebih menjanjikan.

Jika diplomasi mampu menghadirkan semua itu, maka berapa pun jumlah perjalanan presiden akan dianggap wajar. Namun jika hasilnya tidak terlihat, maka kritik seperti yang disampaikan Dino Patti Djalal akan semakin menemukan pembenarannya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu
Feature

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis
daerah

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?
Feature

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026
Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

Mengapa Harus Belajar Bahasa Daerah?

May 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...