• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan

fusilat by fusilat
May 31, 2026
in Feature, Spiritual
0
Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Optic Macca

Fenomena kepemimpinan di negeri ini seolah tidak pernah lepas dari kontroversi, konflik, dan tuduhan pengkhianatan politik. Dalam pandangan sebagian kalangan, sejarah Indonesia dipenuhi oleh pergantian elite yang meninggalkan jejak persoalan, mulai dari era Soekarno hingga masa kini.

Soekarno misalnya, oleh para pengkritiknya dianggap telah mengecewakan sejumlah tokoh bangsa yang pernah berada di lingkar perjuangannya. Nama-nama seperti Agus Salim, Buya Hamka, hingga Kartosuwiryo kerap muncul dalam diskursus sejarah yang mempertanyakan arah kepemimpinan pada masa itu. Di tengah berbagai polemik tersebut, kehidupan pribadi sang proklamator juga tak luput dari sorotan publik.

Memasuki era Soeharto, tuduhan pengkhianatan politik kembali muncul. Hubungannya dengan Jenderal A.H. Nasution menjadi salah satu catatan yang sering diperdebatkan dalam sejarah nasional. Sementara itu, Presiden B.J. Habibie dinilai sebagian pihak tidak memanfaatkan momentum transisi untuk melakukan pembongkaran secara menyeluruh terhadap berbagai persoalan yang diwariskan oleh rezim sebelumnya, termasuk tuduhan praktik KKN yang melekat pada lingkaran kekuasaan Orde Baru.

Pada masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kritik datang dari berbagai arah. Sebagai seorang ulama yang kemudian menjadi umara, sebagian kalangan berharap beliau menampilkan wajah kepemimpinan yang lebih dekat dengan konsep Islam kaffah. Namun yang tampak justru penguatan gagasan pluralisme dan keterbukaan. Kedekatannya dengan sejumlah tokoh Israel, termasuk keterlibatannya dalam forum yang berhubungan dengan Shimon Peres, menjadi bahan perdebatan yang hingga kini masih menyisakan kontroversi, terutama di kalangan yang melihat Israel sebagai simbol kolonialisme modern terhadap bangsa Palestina.

Era Megawati Soekarnoputri juga tidak luput dari kritik. Pernyataannya yang dianggap sebagian umat sebagai bentuk pelecehan terhadap peran ulama pernah memicu perdebatan publik. Selain itu, polemik mengenai penetapan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila juga terus menjadi bahan diskusi akademik maupun politik. Bagi para pengkritiknya, dasar negara Indonesia secara formal baru memperoleh legitimasi setelah kemerdekaan, tepatnya pada 18 Agustus 1945 melalui pengesahan Undang-Undang Dasar 1945.

Sementara itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sering dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan keamanan yang dianggap terlalu dekat dengan kepentingan Barat, khususnya Amerika Serikat. Kritik terhadap operasi pemberantasan terorisme serta berbagai peristiwa keamanan pada masanya masih menjadi bahan kajian dan perdebatan hingga kini.

Kemudian lahirlah era Joko Widodo. Masa pemerintahannya dipuji sebagian pihak karena pembangunan infrastruktur, namun pada saat yang sama juga menuai kritik keras terkait demokrasi, penegakan hukum, oligarki, nepotisme, hingga berbagai kontroversi politik menjelang akhir masa jabatannya. Berbagai kasus yang melibatkan kritik terhadap penguasa, termasuk perkara-perkara yang menggunakan pasal pencemaran nama baik dan penyebaran informasi bohong, semakin memperkuat kesan bahwa hukum sering dipersepsikan berjalan tidak seimbang.

Namun sesungguhnya, persoalan yang lebih mendasar bukanlah sekadar siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana Allah menggambarkan hubungan antara karakter para pembesar negeri dengan nasib sebuah bangsa.

Allah SWT berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِيْ كُلِّ قَرْيَةٍ اَكٰبِرَ مُجْرِمِيْهَا لِيَمْكُرُوْا فِيْهَاۗ وَمَا يَمْكُرُوْنَ اِلَّا بِاَنْفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ

“Demikian pula pada setiap negeri Kami jadikan orang-orang jahatnya sebagai pembesar agar mereka melakukan tipu daya di negeri itu. Padahal mereka sebenarnya hanya menipu diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al-An’am: 123)

Ayat ini sering dijadikan rujukan oleh para ulama ketika menjelaskan hukum sebab-akibat dalam kehidupan sosial dan politik. Bahwa kualitas para pembesar suatu negeri pada akhirnya akan menentukan arah perjalanan bangsa tersebut. Ketika kekuasaan menjadi alat kesombongan, ketidakadilan, dan kemewahan yang melampaui batas, maka kehancuran bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan sunnatullah yang berulang dalam sejarah manusia.

Lalu bagaimana dengan Presiden Prabowo Subianto?

Masih terlalu dini untuk memberikan vonis sejarah. Masa pemerintahannya masih berjalan dan seluruh rakyat Indonesia saat ini berada pada posisi yang sama: mengamati, menilai, dan menunggu.

Namun publik tentu masih mengingat pernyataan Prabowo jauh sebelum dirinya menjadi presiden, ketika ia berulang kali mengingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi kekacauan serius pada tahun 2030–2035 apabila salah urus, korupsi, dan ketimpangan terus dibiarkan. Pertanyaannya kini menjadi menarik: jika analisis itu benar, maka langkah apa yang akan dilakukan Prabowo untuk mencegah ramalannya sendiri menjadi kenyataan?

Sebab sebuah analisis hanya akan bernilai jika diikuti oleh keberanian untuk memperbaiki keadaan. Jika tidak, maka sejarah hanya akan mencatatnya sebagai peringatan yang diabaikan.

Dalam perspektif keimanan, fenomena kebangkitan dan keruntuhan bangsa bukan semata-mata hasil kalkulasi politik, ekonomi, atau militer. Ada dimensi yang lebih dalam, yakni kehendak Allah yang termanifestasi melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya (ayatullah) dalam kehidupan manusia.

Sebagaimana firman-Nya:

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

“Apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar taat kepada Allah), tetapi mereka justru berbuat durhaka. Maka pantaslah berlaku terhadap mereka ketentuan Kami, lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’: 16)

Karena itu, pertanyaan terbesar bukanlah siapa presiden berikutnya, siapa elite terkuat, atau siapa penguasa paling berpengaruh. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: apakah negeri ini sedang bergerak menuju perbaikan atau justru sedang berjalan mengikuti pola kehancuran yang telah berulang kali diperingatkan dalam Al-Qur’an?

Jika para pembesar negeri lebih sibuk menjaga kekuasaan daripada menegakkan keadilan, jika kemewahan elite tumbuh di tengah kesulitan rakyat, jika hukum kehilangan marwahnya dan kebenaran dikalahkan oleh kepentingan, maka yang sedang berbicara bukan lagi analisis politik, melainkan tanda-tanda kebesaran Allah yang bekerja melalui hukum sejarah-Nya.

Dan ketika ayat-ayat itu mulai menemukan relevansinya dalam realitas, maka pertanyaan tentang masa depan Indonesia bukan lagi sekadar urusan politik, melainkan urusan moral, iman, dan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

fusilat

fusilat

Related Posts

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi
Feature

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu
Feature

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis
daerah

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan

Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan

May 31, 2026
Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026
Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

Obat Masa Depan Itu Ternyata Mengalir dari Payudara Seorang Ibu

May 30, 2026
Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

Distribusikan Hewan Kurban untuk Disabilitas, Gammara Inklusi Gandeng Kawan Netra dan Kuril Langit

May 30, 2026
UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

UMKM Tidak Akan Naik Kelas Jika Masih Mengandalkan Buku Tulis

May 30, 2026
Bolehkah Berkurban dengan Sayur-Mayur?

Sapi Kurban dari APBN: Sebuah Paradoks?

May 30, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan

Ayatullah dan Nasib Sebuah Negeri: Ketika Para Pembesar Menjadi Sebab Keruntuhan

May 31, 2026
Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

Diplomasi Bukan Wisata Politik: Mengukur Perjalanan Presiden dari Hasil, Bukan Frekuensi

May 31, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist