• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Di Libya Pangkat Tertinggi Hanya Kolonel—Mengapa di Indonesia Kebanyakan Jenderal?

Ali Syarief by Ali Syarief
May 4, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Di Libya Pangkat Tertinggi Hanya Kolonel—Mengapa di Indonesia Kebanyakan Jenderal?

Prabowo dilantik menjadi jenderal penuh setelah pensiun oleh penguasa sipil

Share on FacebookShare on Twitter

Pengangkatan Prabowo Subianto sebagai jenderal penuh—setelah pensiun dan bahkan pernah diberhentikan dari karier militernya—oleh seorang presiden sipil, membuka kembali pertanyaan lama yang tak pernah benar-benar selesai: apa sebenarnya makna pangkat jenderal di Indonesia? Apakah ia murni penghargaan profesional, atau telah bergeser menjadi instrumen simbolik dalam politik kekuasaan?

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika kita membandingkannya dengan Libya di era Muammar Gaddafi, di mana pangkat militer tertinggi secara formal hanya sampai kolonel. Gaddafi menolak gelar jenderal bukan karena ia kekurangan kekuasaan, melainkan karena ia ingin mengendalikan simbol kekuasaan itu sendiri. Ia memahami bahwa dalam politik, simbol sering kali lebih kuat daripada struktur.

Sebaliknya, Indonesia justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Pangkat jenderal tidak hanya bertahan sebagai struktur militer, tetapi juga berkembang menjadi simbol status, legitimasi, bahkan “mata uang politik”. Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan merupakan produk sejarah panjang, terutama sejak era Orde Baru di bawah Soeharto, ketika militer menjadi tulang punggung kekuasaan negara.

Pada masa itu, menjadi jenderal berarti lebih dari sekadar perwira tinggi—ia adalah pintu masuk ke kekuasaan. Dari gubernur hingga menteri, dari birokrasi hingga BUMN, jenderal menjadi wajah negara. Reformasi 1998 memang secara formal mengakhiri dwifungsi, tetapi jejaknya belum sepenuhnya hilang.

Itulah sebabnya, Indonesia hari ini terlihat “dipenuhi” jenderal. Bukan semata-mata karena kebutuhan pertahanan, tetapi karena kombinasi antara struktur organisasi yang besar, budaya hierarkis, serta warisan politik yang belum sepenuhnya terurai.

Namun, absurditas itu tidak berhenti di tubuh militer. Ia justru menemukan bentuk yang lebih janggal dalam organisasi yang secara prinsip adalah sipil: kepolisian.

Pasca pemisahan TNI–Polri pada era Abdurrahman Wahid, Kepolisian Negara Republik Indonesia secara formal berdiri sebagai institusi sipil. Tugasnya adalah penegakan hukum, perlindungan masyarakat, dan pelayanan publik—bukan perang, bukan operasi tempur.

Namun anehnya, struktur dan budaya yang dipertahankan justru tetap militeristik. Pangkat “jenderal” tetap dipakai, lengkap dengan bintang di pundak, komando vertikal yang kaku, hingga kultur kekuasaan yang lebih menekankan perintah daripada pelayanan.

Di sinilah letak kontradiksi yang sulit dijelaskan secara rasional:
Bagaimana mungkin institusi sipil yang bertugas melayani masyarakat justru mengadopsi simbol dan struktur dari institusi yang dirancang untuk menghadapi musuh?

Dalam banyak negara demokratis, polisi tidak menggunakan pangkat militer seperti jenderal. Mereka menggunakan sistem kepangkatan yang lebih administratif dan profesional, mencerminkan fungsi mereka sebagai aparat penegak hukum, bukan alat kekuasaan koersif negara.

Indonesia mengambil jalan yang berbeda. Polisi tetap memelihara simbol militer, seolah-olah legitimasi mereka justru lahir dari kekuatan, bukan dari hukum.

Akibatnya, relasi antara polisi dan masyarakat sering kali tidak setara. Polisi tampil bukan sebagai pelayan publik, tetapi sebagai otoritas yang harus ditaati. Bahasa yang digunakan pun sering lebih dekat dengan komando daripada komunikasi.

Lebih jauh lagi, penggunaan pangkat jenderal di tubuh Polri menciptakan “duplikasi elit bersenjata”: militer memiliki jenderal, polisi pun memiliki jenderal. Ini bukan sekadar soal istilah, tetapi soal distribusi kekuasaan. Dua institusi dengan kultur komando dan simbol kekuatan yang sama-sama kuat, berpotensi menciptakan tumpang tindih otoritas dalam praktik.

Dalam konteks ini, kita melihat sebuah ironi:
Indonesia telah berusaha memisahkan militer dan polisi secara struktural, tetapi belum sepenuhnya memisahkan cara berpikirnya.

Jika Libya menyederhanakan pangkat untuk mengontrol simbol kekuasaan, Indonesia justru memperluas simbol itu—bahkan ke institusi yang seharusnya sipil.

Maka pertanyaan yang lebih tajam bukan lagi sekadar mengapa Indonesia memiliki banyak jenderal, tetapi:
Mengapa semangat militerisme tetap hidup dalam institusi yang seharusnya menjadi wajah sipil negara?

Sebab selama simbol kekuasaan lebih dominan daripada prinsip pelayanan, reformasi hanya akan berhenti pada struktur—tanpa pernah benar-benar menyentuh substansi.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Belajar Dari Negeri China – Sekarang Lebih Unggul dari Amerika Serikat – Untuk Prabowo

Next Post

GEOPOLITICAL ELEVATOR: LOMPATAN KEDAULATAN INDONESIA DI ERA DEMOCRATIZATION OF DESTRUCTION – Memecah Mitos Hegemoni Militer

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara
Feature

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026
Feature

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026
Feature

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Next Post

GEOPOLITICAL ELEVATOR: LOMPATAN KEDAULATAN INDONESIA DI ERA DEMOCRATIZATION OF DESTRUCTION - Memecah Mitos Hegemoni Militer

Penulisan Ulang Sejarah Indonesia, Hendardi: Fadli Zon Jangan Cari Sensasi

Hendardi: Pengadilan Militer Langgengkan Kekebalan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi
Birokrasi

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam TNI yang Bubarkan Nonton Film Pesta Babi

by Karyudi Sutajah Putra
May 13, 2026
0

Jakarta-FusilatNews.- Koalisi Masyarakat Sipil mengecam tindakan sewenang-wenang TNI yang melarang kegiatan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara. "Pelarangan...

Read more
Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

Konspirasi di Balik LCC 4 Pilar MPR

May 13, 2026
Prabowo ” Is Finish ” 212 Tidak akan Masuk ke Lubang yang Sama

Benarkah Prabowo Pecah Kongsi dengan Rizieq Syihab?

May 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Ketika Bahasa Krama Menjadi Benteng Anti-Bullying di Sekolah Dasar Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Bullying Verbal dan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

May 13, 2026

Ketika Sekolah Tidak Hanya Mengajar, tetapi Menyalakan Kehidupan Hasil Riset Mahasiswa Pascasarjana UNIRA Malang tentang Project-Based Learning dan Filosofi Urip Iku Urup di Sekolah Dasar

May 13, 2026
Revolusi Bermula dari Film!

Revolusi Bermula dari Film!

May 13, 2026

Nikmat Sehat yang Baru Disadari Saat Hilang

May 13, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook, Jaksa Minta Bayar Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

May 13, 2026
Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

Jakarta Masih Ibu Kota: Legalitas Putusan MK dan Fakta Konstitusional Negara

May 13, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...