Dinasti politik di Indonesia telah lama menjadi sorotan publik. Salah satu figur sentral dalam dinasti politik tanah air adalah Megawati Soekarnoputri, yang dianggap sebagai “Ratu” dalam ranah politik Indonesia. Dalam dinasti politiknya, Megawati memiliki peran yang sangat dominan, dengan karakteristik, ambisi, dan tutur yang mencerminkan kekuatan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Namun, pandangan terhadap PDIP tidak selalu positif. Banyak pihak menilai bahwa partai tersebut bersikap pragmatis, dengan wajah sosialis yang dipertontonkan secara semu. Investasi politik yang licik dan jahat pun dianggap sebagai penyebab kerusakan dalam demokrasi Indonesia.
Tidak hanya Megawati, dinasti politik juga mengaitkan Joko Widodo atau Jokowi. Dinasti Jokowi pun tidak luput dari kritik, dengan tudingan bahwa dalam pembagian kekuasaan, saling menguntungkan antara dinasti Megawati dan Jokowi. Meskipun begitu, PDIP enggan memecat Jokowi meskipun dianggap berkhianat, menunjukkan hubungan yang rumit antara keduanya.
Dalam pandangan masyarakat, drama politik antara dinasti Megawati dan dinasti Jokowi hanya menghasilkan pemenang dalam arena politik, sementara rakyat dihadapkan pada kekalahan dalam bernegara. Di balik pertentangan dan kemesraan yang disajikan di panggung politik, masyarakat menyadari bahwa mereka hanya menjadi penonton dalam pertunjukan politik yang rumit.
Dinasti politik seperti Megawati dan Jokowi telah lama menjalankan pola yang sama dalam menyajikan pertentangan dan kemesraan di panggung politik. Para kader dan relawan partai menjadi pelayan setia, tanpa memperjuangkan kepentingan rakyat yang seharusnya menjadi fokus utama.
Rusaknya kepemimpinan Jokowi juga menjadi gambaran amburadulnya praktek dinasti politik yang dipimpin oleh Megawati. Meskipun perannya berbeda, keduanya dianggap merusak kehidupan bernegara dalam jangka waktu yang panjang.
Maka, saatnya bagi masyarakat untuk keluar dari kedua poros politik tersebut. Tidak boleh terjebak dalam permainan politik yang licik dan penuh sandiwara. Masyarakat harus mandiri dan waspada terhadap politik dinasti yang hanya menguntungkan segelintir elite, sementara rakyat sendiri terpinggirkan.


























