Oleh: Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, Fusilatnews – Infobank Picture meluncurkan film dokumenter bertajuk, “Robby Djohan, The Story of a
Legendary Banker”.
Film dokumenter berdurasi 50 menit ini menceritakan perjalanan kepemimpinan Robby Djohan, bankir legendaris yang meninggalkan banyak “legacy” (warisan) di dunia perbankan, bahkan korporasi di Tanah Air.
“Robby Djohan adalah bankir legendaris yang pertama kali menanamkan nilai-nilai profesionalisme dan integritas di industri perbankan, meletakkan dasar-dasar pendidikan profesionalisme bankir, dan mengutamakan
pentignya menyiapkan kader-kader pemimpin masa depan,” ujar Karnoto Mohamad, Penulis Naskah sekaligus Sutradara film dokumenter tersebut dalam rilisnya, Rabu (4/12/2024).
Menurutnya, kemajuan yang dicapai perbankan Indonesia saat ini terjadi berkat adanya bankir-bankir profesional yang tentunya tidak lepas dari tangan dingin Robby Djohan.
“Setelah krisis moneter atau 20 tahun terakhir, bankir didikan Robby Djohan mengisi kursi-kursi puncak perbankan Indonesia, bahkan sekarang sudah beralih ke generasi berikutnya,” imbuh KM, sapaan akrab Karnoto Mohamad yang juga editor buku karya Robby Djohan berjudul,
“No Nonsense Leadership”.
Robby Djohan memulai debutnya sebagai bankir di Citibank pada 1967 dan tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang mengikuti “Executive Development Program” di bank asal Amerika Serikat itu.
Pengalaman delapan tahun di Citibank, kata KM, menjadi bekal Robby Djohan untuk berhasil membesarkan Bank Niaga dari yang semula berukuran kecil dan tak dikenal menjadi bank swasta terbesar nomor dua di Indonesia setelah Bank Central Asia (BCA) pada 1988.
“Karena pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Djakarta yang dekat dengan Soekarno,
nama Robby Djohan pun tidak populer di mata rezim Orde Baru. Namun, ketika Garuda Indonesia Airways bangkrut dan harus ditangani oleh profesional bertangan dingin, Presiden Soeharto mengundangnya untuk membenahi maskapai Garuda pada 1998. Setelah berhasil memutar haluan
Garuda dalam enam bulan dan rezim Orde Baru tumbang, Robby Djohan diminta Presiden BJ Habibie untuk memimpin mega merger empat bank pelat merah menjadi Bank Mandiri pada 1999,” papar KM.
Kunci keberhasilan Robby Djohan dalam membereskan perusahaan yang dilanda krisis, kata KM, adalah keberaniannya mengambil keputusan, independensi dan tidak adanya “vested interest” atau kepentingan pribadi, serta kepiawaiannya dalam memilih orang-orang terbaik untuk mendampinginya melakukan eksekusi.
Robby Djohan tutup usia pada 13 Mei 2016, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Film dokumenter ini diluncurkan di Ritz Carlton Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2024) lalu yang dihadiri banyak bankir senior yang merupakan didikan dan sahabat Robby Djohan, serta anggota keluarganya.
Peluncuran film dokumenter ini dilakukan oleh Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan di Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto, yang pernah menjadi Direktur Utama Bank Mandiri periode 2013-2016.
“Dalam perkembangan karier saya, saya dikelilingi anak-anak (didik) Pak Robby, dan beberapa kali berinteraksi dengan Pak Robby, beliau memberikan tips-tips yang ‘out of the box’. Beliau seperti ahli nujum yang pandai mengetahui karakter orang dan mendidik orang. Jauh sebelumnya, saya pertama kali mendengar nama Robby Djohan itu dari Pak Jaya Ramli waktu saya bekerja di Bank Bali. Saat itu Pak Jaya Ramli mengagumi Pak Robby Djohan,” kata BGS.
Sementara itu, Agus Martowardojo yang menjadi Direktur Utama Bank Mandiri pada 2005-2010 ikut mengisi sesi “talkshow” bersama sejumlah bankir senior didikan Robby Djohan lainnya, yaitu Gunarni Soeworo, Peter B Stok, Edwin Gerungan, dan Irfan Setiaputra yang baru saja melepas jabatan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk.
“Yang menjadi kekuatan Pak Robby adalah beliau itu dihormati, dipercaya, baik oleh pemegang saham, nasabah, otoritas pengawas, maupun ‘stakeholder’ (pemangku kepentingan) secara umum. Yang juga menjadi ciri khasnya adalah keberaniannya. Beliau berani sekali mengambil keputusan dalam situasi yang sedang krisis,” ujar Agus Martowardojo.
Selain Infobank Media Group, ikut menjadi “host” dalam acara tersebut adalah Haryanto T Budiman, Chairman Ikatan Bankir Indonesia (IBI), dan Nanan Hadiretna Djohan, istri Almarhum Robby Djohan.
“Terima kasih kepada Infobank Picture yang telah mendokumentasi perjalanan kepemimpinan Almarhum Robby
Djohan, melalui sebuah film dokumenter yang sangat mengharukan, menyentuh, dan sebelumnya juga telah meluncurkan buku ‘No Nonsense Leadership’,” ujarnya.
Film dokumenter ini diproduseri Eko B Supriyanto dan Sandra Praditia Djohan. Beberapa perusahaan yang ikut mendukung produksi film ini adalah Bank Mandiri, Astra Financial, Bank Negara Indonesia (BNI), Maximus Insurance, ALTO, Asuransi Bumida, Permodalan Nasional Madani (PNM), dan Samudera Indonesia.
Sedangkan buku karya Robby Djohan yang berjudul “No Nonsense Leadership” menjadi “best seller” karena telah dicetak ulang tiga kali sejak diluncurkan pada 2016.























