Fusilatnews – Kata orang-orang saleh, Jum’at adalah hari istimewa. Langit dibuka lebih lebar, doa-doa melesat lebih cepat. Maka tangan-tangan diangkat, suara lirih memohon, dan air mata dijadikan alamat kesungguhan.
Anehnya, doa kita terasa semakin rajin, sementara keadilan tetap datang terlambat—bahkan sering tak datang sama sekali.
Mungkin masalahnya bukan pada langit. Barangkali yang berat justru muatan doa itu sendiri. Terlalu penuh oleh kezaliman yang kita biarkan hidup nyaman di sekitar kita. Sebab dalam sebuah hadis disebutkan:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini sering kita kutip dengan khusyuk. Tetapi jarang kita lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih tidak nyaman: jangan-jangan kitalah bagian dari mereka yang menzalimi—atau setidaknya membiarkannya terjadi.
Kita mendoakan Palestina dengan suara bergetar, tetapi memalingkan wajah ketika keadilan diinjak di negeri sendiri. Kita marah pada penindasan global, namun memaklumi kesewenang-wenangan lokal dengan dalih “sudah biasa”.
Tuhan tentu tidak tuli. Tetapi manusia sering terlalu sibuk berbicara dengan-Nya, hingga lupa mendengar jeritan sesamanya.
Al-Qur’an mengingatkan dengan nada yang tidak main-main:
“Dan jangan sekali-kali kamu mengira Allah lalai terhadap apa yang diperbuat orang-orang zalim.”
(QS. Ibrahim: 42)
Ayat ini bukan sekadar ancaman bagi pelaku kezaliman, tetapi juga peringatan bagi mereka yang hidup nyaman di bawahnya. Sebab kezaliman tidak selalu lahir dari tangan yang memukul. Ia juga tumbuh dari diam yang terlalu lama, dari sikap “asal bukan saya”.
Kita berdoa agar negeri ini adil, tetapi menertawakan hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kita memohon kesejahteraan, tetapi membiarkan anak yatim dan kaum miskin tersingkir oleh kebijakan yang tak pernah berpihak.
Padahal agama tidak pernah memisahkan doa dari tindakan. Bahkan Nabi SAW mengingatkan:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, dengan lisan. Jika tidak mampu juga, maka dengan hati—dan itu selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Doa yang tidak disertai keberpihakan, barangkali, hanya akan berputar-putar di udara. Bukan karena Tuhan enggan mengabulkan, tetapi karena kita masih menyimpan kezaliman—di sikap, di pilihan, atau di keberpihakan yang kita hindari.
Maka sebelum kembali mengangkat tangan setiap Jum’at, ada baiknya kita bertanya dengan jujur:
apakah kita sedang memohon keadilan,
atau sekadar berharap Tuhan memberkati ketidakadilan yang menguntungkan kita?
























