Oleh : Willy Fujiwara
Dengan semakin seringnya saya menjalani cuci darah, Rumah Sakit perlahan berubah menjadi rumah inap kedua. Dua kali sepekan, saya beristirahat setengah hari penuh—di ruang ber-AC, sunyi, steril, dan tertib—seolah hidup diberi jeda untuk sekadar bernapas dan merenung. Di sanalah tubuh saya ditambatkan pada mesin, sementara pikiran dibiarkan berkelana.
Rumah Sakit bukan hanya tempat penyembuhan fisik, tetapi juga ruang belajar yang tak tertulis dalam kurikulum mana pun. Saya belajar berinteraksi, mengamati, dan diam-diam membaca kehidupan orang lain. Di lorong-lorongnya, saya melihat pasien dari berbagai usia: yang tua dengan tongkat, yang renta di kursi roda, yang terbaring pasrah dengan infus, bahkan yang dipapah pelan oleh keluarganya. Namun yang paling mengguncang batin saya adalah mereka yang masih muda—masih kuliah, baru bekerja—namun sudah harus berdamai dengan kenyataan bahwa cuci darah akan menjadi ritual seumur hidup.
Di titik itu, pertanyaan filosofis muncul tanpa diminta: bagaimanakah masa depan anak-anak muda ini? Di usia ketika mimpi seharusnya sedang tumbuh, mereka justru harus mengatur hidup berdasarkan jadwal mesin dan jarum. Tubuh mereka mengajarkan satu hal yang sering kita abaikan: bahwa waktu tidak selalu berpihak pada usia muda, dan kesehatan bukanlah hadiah abadi.
Kesadaran itu justru membawa saya pada rasa syukur yang dalam. Saya menjalani cuci darah di usia senja. Di usia 80 tahun, saya masih mampu naik dan turun tangga di rumah dan pergi Rumah Sakit, masih bisa mandiri, masih bisa tersenyum pada perawat dan menyapa pasien lain. Saya sadar, ini bukan semata kekuatan diri, melainkan kemudahan yang dianugerahkan.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Ayat itu terasa hidup di ruang cuci darah—di antara suara mesin, detak jam, dan langkah kaki perawat. Saya memahami bahwa nikmat bukan hanya tentang kesembuhan, tetapi tentang dimudahkan menjalani ujian.
Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun mendalam: Allah masih memudahkan saya menjalani berbagai aktivitas hidup. Bagi saya, tempat penyembuhan—baik penyakit fisik maupun kegelisahan pikiran—adalah dua ruang yang saling melengkapi: Rumah Sakit dan Masjid. Yang satu merawat tubuh dengan ilmu dan teknologi, yang lain menenangkan jiwa dengan sujud dan doa.
Di antara keduanya, saya belajar menerima hidup apa adanya—bukan dengan keluhan, tetapi dengan kesadaran bahwa setiap napas yang masih diizinkan adalah alasan paling sah untuk bersyukur.
Oleh : Willy Fujiwara























