• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

fusilat by fusilat
June 20, 2026
in Feature, Politik
0
Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Kawan Nazarudin

Dalam setiap rezim yang mulai kehilangan kepercayaan publik, kritik tidak lagi dijawab dengan argumentasi, melainkan dengan rekayasa opini. Fenomena yang belakangan muncul dalam polemik seputar program Makan Bergizi Gratis (MBG) memperlihatkan gejala tersebut secara terang benderang.

Ketika mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardiyanto, melontarkan kritik keras terhadap program MBG—yang ia plesetkan menjadi “Maling Berkedok Gizi”—dan ketika mahasiswa di berbagai daerah menggelar aksi bertajuk “Menuju Indonesia Bangkrut”, publik berharap pemerintah memberikan jawaban substantif atas berbagai pertanyaan yang muncul. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih membantah kritik dengan data dan argumentasi yang kuat, muncul kelompok yang mengatasnamakan diri “BEM Bersatu” dan secara agresif menyerang para pengkritik.

Kelompok ini tidak hadir untuk memperkaya diskursus publik, melainkan lebih menyerupai instrumen politik yang bertugas mengalihkan perhatian dari substansi persoalan. Mereka menyerang pribadi Tiyo Ardiyanto, menuduhnya ditunggangi kepentingan politik tertentu, bahkan mendorong pelaporan hukum terhadapnya. Yang menarik, sejumlah kampus yang namanya dicatut dalam deklarasi “BEM Bersatu” segera mengeluarkan klarifikasi resmi. Mereka menegaskan bahwa individu yang mengklaim sebagai pengurus BEM tersebut tidak mewakili organisasi mahasiswa maupun institusi kampus mereka. Bahkan terungkap bahwa sebagian pihak yang mengatasnamakan mahasiswa ternyata telah berstatus alumni sejak beberapa tahun lalu.

Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar polemik antarmahasiswa. Ia menunjukkan adanya reproduksi pola pengelolaan kritik yang sebelumnya sangat menonjol pada era pemerintahan Jokowi dan kini tampak diwariskan secara utuh kepada pemerintahan Prabowo. Pola tersebut sederhana: ketika kritik sulit dibantah, maka kritik harus didiskreditkan; ketika gerakan sulit dihentikan, maka gerakan harus dipecah.

Manipulasi Opini Publik dan Kemunduran Demokrasi

Setidaknya terdapat tiga hal penting yang dapat dibaca dari fenomena ini.

Pertama, munculnya represi gaya baru (soft repression).

Represi pada era digital tidak selalu hadir dalam bentuk pentungan, gas air mata, atau penangkapan massal. Bentuk yang lebih halus justru sering kali lebih efektif. Pembentukan kelompok tandingan, infiltrasi gerakan, operasi propaganda di media sosial, hingga kriminalisasi opini merupakan instrumen represi modern yang bertujuan melelahkan gerakan sipil tanpa harus menampilkan wajah otoritarianisme secara terang-terangan.

Strategi semacam ini membuat energi aktivis terkuras bukan untuk memperjuangkan isu yang mereka bawa, melainkan untuk terus-menerus membantah fitnah, hoaks, dan serangan personal yang diarahkan kepada mereka.

Kedua, adanya krisis legitimasi yang melahirkan kepanikan politik.

Kemunculan “BEM Bersatu” secara tiba-tiba justru mengindikasikan bahwa rezim menyadari potensi besar konsolidasi mahasiswa dan generasi muda. Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa selalu menjadi kelompok yang mampu mengubah arah politik bangsa, mulai dari 1966, 1998, hingga berbagai gerakan sosial pascareformasi.

Ketika suara-suara kritis memperoleh panggung luas melalui media sosial dan mampu menjangkau publik tanpa melalui filter media arus utama, pemerintah menghadapi ancaman baru: hilangnya kendali atas narasi. Karena itu, kemunculan kelompok tandingan menjadi cara cepat untuk menciptakan kesan bahwa mahasiswa tidak solid dan kritik yang muncul hanyalah suara minoritas.

Ketiga, pendangkalan ruang publik dan kematian perdebatan substantif.

Demokrasi yang sehat membutuhkan pertarungan gagasan, bukan pertarungan fitnah. Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Perdebatan mengenai efektivitas MBG, beban fiskal negara, prioritas anggaran, utang pemerintah, serta kondisi ekonomi nasional tenggelam oleh serangan personal dan kampanye delegitimasi.

Ketika argumen dijawab dengan stigmatisasi, ketika data dibalas dengan fitnah, dan ketika kritik dibungkam melalui operasi propaganda, maka yang sedang mengalami kemunduran bukan hanya kualitas pemerintahan, tetapi juga kualitas demokrasi itu sendiri.

Mahasiswa dan Tantangan Perlawanan Era Digital

Karena itu, gerakan mahasiswa hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya dituntut turun ke jalan dan membangun konsolidasi di lapangan, tetapi juga harus memahami medan perang baru bernama ruang digital.

Di era algoritma, perlawanan tidak cukup hanya dengan spanduk dan mimbar bebas. Mahasiswa harus mampu mengenali operasi disinformasi, membangun narasi tandingan berbasis data, serta menjaga integritas gerakan dari upaya infiltrasi dan pembusukan dari dalam.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap kekuasaan selalu berusaha mencari cara untuk membungkam kritik. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa rekayasa opini tidak pernah mampu bertahan lama ketika berhadapan dengan kesadaran publik yang terus tumbuh.

Pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah kritik dapat dibungkam, melainkan sampai kapan kekuasaan mampu mempertahankan ilusi bahwa kritik adalah musuh negara, padahal kritik justru merupakan syarat utama agar negara tidak tersesat oleh kekuasaannya sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

SARJANA MENUMPUK, INDUSTRI KEKURANGAN TALENTA

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

SARJANA MENUMPUK, INDUSTRI KEKURANGAN TALENTA

June 20, 2026
Feature

PRABOWO DAN STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI

June 20, 2026
An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique
Feature

An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique

June 20, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Ketika Mahasiswa Digendong ke Mana-mana oleh Gibran
Feature

Ketika Mahasiswa Digendong ke Mana-mana oleh Gibran

by Karyudi Sutajah Putra
June 20, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - "Dak gendong ke mana-mana. Dak gendong ke...

Read more
Tangkap Tiyo Ardianto!

Tangkap Tiyo Ardianto!

June 16, 2026
Mahasiswa Memasuki Kawasan Monas Teriak Jokowi Offside

Ketika Mahasiswa Sudah Muak Lihat Pejabat Negara

June 16, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

June 20, 2026

SARJANA MENUMPUK, INDUSTRI KEKURANGAN TALENTA

June 20, 2026

PRABOWO DAN STRATEGI PEMBERANTASAN KORUPSI

June 20, 2026
An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique

An Orangutan Will Never Deliver a Speech: Why Language Makes Humans Unique

June 20, 2026
IJAZAH JOKOWI, PENAHANAN ROY SURYO DAN DOKTER TIFA: MENCARI KEBENARAN ATAU MEMPIDANAKAN PERTANYAAN?

IJAZAH JOKOWI, PENAHANAN ROY SURYO DAN DOKTER TIFA: MENCARI KEBENARAN ATAU MEMPIDANAKAN PERTANYAAN?

June 20, 2026

KLKL: Korupsi Lagi, Korupsi Lagi. Bosan Mendengarnya.

June 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

Duplikasi Pola Represi Rezim: Ketika BEM “Jadi-Jadian” Digunakan untuk Membungkam Kritik

June 20, 2026

SARJANA MENUMPUK, INDUSTRI KEKURANGAN TALENTA

June 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...