Aceh Tamiang | Fusilatnews — Tiga pekan pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi di wilayah pedalaman masih memprihatinkan. Hingga Sabtu (20/12/2025), sedikitnya enam desa di Kecamatan Sekrak masih terisolasi dan belum bisa diakses kendaraan roda dua.
Enam desa tersebut yakni Desa Baling Karang, Suka Makmur, Sulum, Juar, Sekumur, dan Desa Tanjung Gelumpang. Akses jalan menuju wilayah itu masih tertutup lumpur tebal dan material banjir, sehingga menyulitkan distribusi bantuan kemanusiaan.
Amiruddin, warga Desa Pahlawan, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan penanganan serius dari pemerintah pusat. Ia menilai jumlah alat berat yang tersedia saat ini tidak memadai untuk membuka akses ke pedalaman.
“Butuh tambahan alat berat untuk membersihkan jalan di pedalaman Kecamatan Sekrak. Kita minta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendatangkan alat berat dalam jumlah besar,” ujar Amiruddin saat dihubungi Fusilatnews melalui sambungan telepon.
Akibat keterisolasian itu, suplai bahan pangan ke desa-desa terdampak hanya mengandalkan sepeda motor trail dengan kapasitas terbatas. Kondisi ini menyebabkan warga masih kekurangan kebutuhan dasar.
“Korban banjir di pedalaman masih kekurangan bahan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Bantuan belum bisa masuk secara maksimal,” tambahnya.
Selain persoalan logistik, pemulihan infrastruktur dasar juga belum sepenuhnya berjalan. Amiruddin menyebut pasokan listrik di Kota Kuala Simpang sudah mulai menyala, namun hanya pada malam hari.
“Listrik menyala pada malam hari saja. Dari pagi sampai sore masih padam di pusat kota. Kalau di pedalaman, masih padam seluruhnya,” jelasnya.
Ia mendesak BNPB dan Kementerian Sosial RI untuk mempercepat distribusi bantuan, terutama air bersih yang hingga kini masih sangat dibutuhkan warga.
“Air bersih masih sangat terkendala. Ini kebutuhan paling mendesak saat ini,” katanya.
Tak hanya bantuan fisik, Amiruddin juga menyoroti pentingnya pemulihan psikologis bagi korban banjir, khususnya anak-anak dan kaum ibu.
“Anak-anak dan kaum ibu paling trauma. Mereka butuh trauma healing segera, bukan hanya bantuan bahan pangan,” tegasnya.
Diketahui, banjir besar merendam Kabupaten Aceh Tamiang sejak 26 November 2025. Bencana tersebut berdampak luas dengan jumlah pengungsi mencapai 208.163 jiwa yang tersebar di 209 desa pada 12 kecamatan. Hingga kini, tercatat 85 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.
Sementara itu, PT PLN (Persero) melaporkan pemulihan kelistrikan di Aceh terus dilakukan secara bertahap setelah jaringan kembali terhubung dengan sistem besar Sumatera. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan bahwa setelah transmisi tersambung, PLN memasuki tahap pengoperasian kembali pembangkit listrik.
Menurutnya, proses tersebut membuat sistem kelistrikan di Aceh perlahan kembali pulih, meski belum sepenuhnya normal, terutama di wilayah pedalaman yang terdampak parah banjir.
Namun bagi warga enam desa di Kecamatan Sekrak, pemulihan listrik dan infrastruktur belum cukup. Mereka masih menunggu kehadiran negara secara nyata—membuka isolasi, memastikan logistik terpenuhi, dan memulihkan kehidupan pascabencana secara menyeluruh.


























