Fusilatnews – Masalah terbesar dalam kehidupan beragama kita hari ini bukan pada Al-Qur’an dan Hadis itu sendiri, melainkan pada cara kekuasaan menggunakan keduanya. Kebenaran yang seharusnya dibaca dengan akal, justru dibekukan menjadi perintah mutlak. Intelektualitas tidak diajak berdialog, melainkan dipaksa tunduk.
Logikanya sederhana. Akal manusia diciptakan untuk memahami wahyu, bukan untuk dimatikan oleh tafsir. Tetapi dalam praktik beragama sehari-hari, sering kali berlaku rumus terbalik:
akal harus berhenti ketika berhadapan dengan klaim “ini sudah perintah agama”.
Di titik inilah agama berubah dari jalan pencerahan menjadi instrumen kekuasaan.
Agama, Tafsir, dan Kuasa yang Tak Terlihat
Kita sering mendengar kalimat:
“Ini sudah sesuai Al-Qur’an dan Hadis.”
Kalimat ini terdengar sakral, final, dan seolah tak boleh dipersoalkan.
Padahal pertanyaan mendasarnya jarang diajukan:
tafsir siapa? konteks zaman apa? kepentingan apa yang sedang bekerja?
Seperti pada hukum Inggris era Victoria—di mana perempuan dilarang mandi telanjang bahkan di kamar mandinya sendiri—larangan itu tidak lahir dari logika rasional, melainkan dari tafsir religius yang disatukan dengan kekuasaan patriarkal. Tuhan dipahami secara maskulin, lalu dijadikan alat legitimasi untuk mengontrol tubuh perempuan.
Dalam kehidupan beragama kita hari ini, pola yang sama berulang.
Bukan pada isu mandi, tetapi pada:
cara berpakaian,
cara beribadah,
cara berpikir,
bahkan cara bertanya.
Semua bisa diberi stempel: haram, sesat, atau menyimpang—cukup dengan satu klaim: “bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadis.”
Ketika Akal Dianggap Ancaman
Ironisnya, dalam tradisi Islam sendiri, akal memiliki posisi yang tinggi. Al-Qur’an berulang kali bertanya: afala ta‘qilun, afala tatafakkarun. Tetapi dalam praktik sosial keagamaan, akal justru dicurigai.
Berpikir kritis dianggap:
terlalu liberal,
kebarat-baratan,
atau bahkan merusak iman.
Di sinilah intelektualitas dipaksa tunduk. Bukan tunduk kepada wahyu, tetapi tunduk kepada otoritas tafsir. Siapa yang menguasai tafsir, dialah yang menentukan mana kebenaran dan mana penyimpangan.
Agama tidak lagi menjadi ruang pencarian makna, melainkan ruang kepatuhan.
Tubuh, Moral, dan Agama sebagai Disiplin
Seperti busana pada tubuh perempuan di era Victoria, banyak aturan agama hari ini bekerja sebagai alat pendisiplinan sosial. Moralitas dipersempit pada tubuh—terutama tubuh perempuan—sementara keadilan sosial, korupsi, penindasan, dan ketimpangan ekonomi sering kali luput dari perhatian serius.
Mengatur aurat menjadi sangat detail.
Mengatur keserakahan nyaris diabaikan.
Ini bukan kebetulan, melainkan pilihan kekuasaan: lebih mudah mengontrol tubuh individu daripada menantang struktur ketidakadilan.
Agama yang Hidup, Bukan Agama yang Membeku
Ketika segala sesuatu disakralkan tanpa ruang dialog, agama kehilangan daya hidupnya. Ia membeku menjadi aturan, bukan nilai. Padahal wahyu turun dalam sejarah, berbicara pada konteks, dan selalu membutuhkan ijtihad.
Jika intelektualitas terus dipaksa tunduk, maka agama tidak lagi membimbing manusia menuju kemanusiaan, tetapi justru menjauhkan manusia dari nalar dan empati.
Yang kita perlukan bukan keberanian menolak Al-Qur’an dan Hadis—itu keliru—melainkan keberanian mempertanyakan tafsir yang mengatasnamakan keduanya untuk melanggengkan kuasa.
Penutup
Sejarah mengajarkan satu hal:
ketika agama bertemu kekuasaan tanpa kritik, yang lahir bukan kesalehan, melainkan kepatuhan.
Dan kepatuhan yang membunuh akal bukanlah iman, melainkan ketakutan yang disucikan.


























