• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Era Jokowi dan Karakteristik Calon Pemimpin Penerusnya: Menuju Disintegrasi Negara RI

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
March 30, 2024
in Feature, Pemilu, Politik
0
Era Jokowi dan Karakteristik Calon Pemimpin Penerusnya: Menuju Disintegrasi Negara RI
Share on FacebookShare on Twitter

Damai Hari Lubis-Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212

Masalah serius dan mendasar nilai manusia terletak pada moral dan akhlaknya. Bangsa yang mengalami kerusakan moral, terutama dalam politik, tidak akan memiliki harkat dan martabat yang mulia. Permasalahan moralitas ini tidak terlepas dari perjalanan hidup manusia secara umum, dan biasanya, kerusakan moral lebih dulu mengenai moralitas pemimpinnya yang tidak mencerminkan contoh yang baik.

Kepemimpinan nasional ke depan tidak hanya terkait dengan Jokowi, yang telah dihantui oleh masalah latar belakang tuduhan pelanggaran hukum terkait penggunaan Ijazah Palsu dan janji-janji politik yang telah diingkari berulang kali. Namun, menjadi suatu kekhawatiran jika pola kepemimpinan Jokowi terus berlanjut dalam satu atau dua dasawarsa mendatang.

Anasir dari kepribadian kolektifitas bangsa menjadi fokus studi pengamatan ilmu sosiologi dan politik bagi kaum akademisi, karena tragisnya, Jokowi terpilih kembali memimpin bangsa selama dua periode tanpa publik mendapatkan kejelasan atas keterbukaan informasi publik sebagai bagian dari hukum positif yang berlaku (ius konstitum). Meskipun tuduhan terkait ijazah palsu telah menjerat seorang WNI yang sudah dipenjarakan untuk kedua kalinya. Ini menandai anomali praktik hukum dan politik yang brutal di tanah air, di mana negara yang berdasarkan Pancasila, yang menghargai asas kemanusiaan yang adil dan beradab, justru mengalami kegagalan dalam menegakkan nilai-nilai tersebut.

Kendati demikian, realitas mayoritas masyarakat melalui Pemilu Pilpres 2024 memilih untuk dipimpin oleh Prabowo Subianto, individu yang juga memiliki cacat hukum, karena sejarahnya sebagai pelaku penculikan dengan kekerasan 26 tahun yang lalu, yang menyebabkan beberapa aktivis tewas dan masih ada 13 orang yang hilang hingga kini. Status Prabowo sebagai aktor intelektual kejahatan HAM masih menjadi polemik yang mengemuka.

Selanjutnya, gejala-gejala sosial dari diskursus politik dan hukum yang semakin berkembang menunjukkan bahwa suksesi kepemimpinan nasional yang akan datang, baik dalam bentuk embrio Prabowo maupun sosok pemimpin potensial seperti Gibran Rakabuming bin Joko Widodo, jika terpilih sebagai RI.2, akan menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Namun, jika Jokowi, Prabowo, dan figur Gibran, baik secara eksplisit maupun implisit, menyatakan bahwa kelangsungan pola kepemimpinan kontemporer mereka hanya bertujuan untuk meningkatkan tatanan hukum, ekonomi, dan politik negara demi kesejahteraan bangsa, hal itu hanya akan dianggap sebagai isapan jempol. Pasalnya, masyarakat menyadari bahwa keberlanjutan kepemimpinan mereka lebih berkaitan dengan regenerasi kekuasaan dan kepentingan pribadi serta kroni yang memiliki banyak masalah hukum.

Hal ini terutama terlihat dalam upaya memaksakan figur Gibran sebagai pewaris kekuasaan, meskipun muncul banyak kontroversi terkait statusnya sebagai “anak haram konstitusi”. Gibran dianggap sebagai simbol dari praktik politik kotor yang dilegitimasi oleh keputusan Mahkamah Konstitusi, meskipun pada kenyataannya ia belum memenuhi syarat usia untuk menjadi calon wakil presiden pada Pemilu Pilpres 2024. Hal ini menunjukkan adanya cacat hukum dalam proses politik yang semakin merusak integritas sistem hukum dan politik negara.

Gibran juga tercatat sebagai subjek hukum yang dilaporkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dengan demikian, proses hukum dan penegakannya kelak akan menjadi lebih rumit, rawan, dan semakin menjauh dari prinsip kesetaraan.

Pertanyaan yang sering muncul di kalangan publik adalah bagaimana Indonesia, yang seharusnya menjadi negara hukum di mana setiap tindakan warga negara harus didasarkan pada hukum (rule of law), justru menunjukkan realitas yang berbeda. Para pelaku kejahatan yang seharusnya dihukum dan kehilangan hak politik mereka sesuai dengan hukum yang berlaku, malah mendapatkan dukungan penuh dari kelompok penyelenggara negara (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) yang berkuasa. Di sisi lain, pelanggar hukum atau mereka yang hanya bermimpi agar hukum diterapkan dengan adil, sering kali dihukum seperti koruptor dan kehilangan hak politik mereka.

Namun, sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia cenderung diam terhadap penguasa yang seharusnya mematuhi prinsip rule of law. Mereka terlibat dalam pembiaran terhadap pelanggaran hukum yang terus menerus atau “obstruksi keadilan” demi mempertahankan penguasa yang bertindak di luar norma. Bagi penguasa kontemporer, hukum hanyalah selembar kertas tebal yang hampir tidak memiliki nilai dalam penerapan praktisnya.

Saat ini, suara penguasa semakin mengeras dalam upaya untuk meredam semangat yang seharusnya memotivasi manusia untuk bertindak baik demi terciptanya kemenangan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana yang diamanatkan dalam teori tujuan bernegara yang tercantum dalam UUD 1945. Namun, ironisnya, upaya tersebut justru menjadi antitesis, yang turut memperbarui pola kepemimpinan yang melanggar aturan (ruler without rules) melalui pemilihan umum presiden tahun 2024. Hal ini dapat menjadi langkah awal menuju kemunduran di berbagai sektor kehidupan, seperti ekonomi, hukum, dan politik, mencapai puncaknya dalam satu atau dua dasawarsa jika kepemimpinan Joko Widodo terus berlanjut. Tidaklah mustahil bahwa situasi ini akan mengarah pada disintegrasi bangsa dan negara Republik Indonesia. Salah satu daerah yang berpotensi menjadi titik rawan, menurut prediksi penulis, adalah berpencarnya wilayah di Pulau Kalimantan Bagian Timur dan sekitarnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Penyebab dan Akibat Ekonomi Lesu serta Tingkat Pajak yang Tinggi

Next Post

Prabowo Temui Xin Jinping di China

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Prabowo Temui Xin Jinping di China

Prabowo Temui Xin Jinping di China

BATALKAN KEHADIRAN JOKOWI PADA FORUM RAPIM MN KAHMI 1 APRIL 2024 !!!

BATALKAN KEHADIRAN JOKOWI PADA FORUM RAPIM MN KAHMI 1 APRIL 2024 !!!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...