• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Era Jokowi: Jalan Tol, Dari Pelayanan Publik Menjadi Lahan Bisnis yang Menguntungkan Segelintir Orang

Jalan Menuju Keuntungan, Bukan Keadilan

Ali Syarief by Ali Syarief
September 22, 2024
in Feature, Layanan Publik
0
Dugaan Korupsi Pada Tol MBZ. : Modus Kurangi spesifikasi atau volume proyek.
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Presiden Jokowi mengumumkan ambisinya untuk membangun infrastruktur besar-besaran, banyak dari kita berharap bahwa ini akan menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk memperbaiki layanan publik. Di mata publik, pembangunan jalan tol dianggap sebagai upaya memperbaiki konektivitas antarwilayah dan meningkatkan perekonomian daerah. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan penting: apakah pembangunan ini benar-benar dilakukan demi kepentingan rakyat, atau hanya menjadi lahan bisnis yang menguntungkan segelintir pihak?

Jalan Tol: Dari Pelayanan Publik Menjadi Mesin Uang

Pembangunan jalan tol seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik, sebuah inisiatif negara yang bertujuan untuk memberikan akses yang lebih baik kepada masyarakat. Di banyak negara, jalan tol dibangun dengan menggunakan dana negara, dan biayanya ditekan serendah mungkin untuk menjamin bahwa infrastruktur ini berfungsi sebagai penopang kemajuan bersama.

Namun, di era Jokowi, pembangunan jalan tol telah berubah menjadi bisnis yang tujuannya mencari keuntungan. Infrastruktur yang awalnya dibiayai oleh uang rakyat melalui pajak, kini justru dikenakan tarif yang tinggi saat masyarakat menggunakannya. Jalan tol yang seharusnya menjadi solusi untuk mempercepat mobilitas, kini justru menjadi beban tambahan bagi masyarakat. Rakyat membayar dua kali: pertama melalui pajak, kedua melalui tarif tol yang terus naik.

Siapa yang Diuntungkan?

Pertanyaan besar yang harus kita tanyakan: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari semua ini? Tentu saja, perusahaan swasta yang mengoperasikan tol menjadi pihak yang paling diuntungkan. Alih-alih memperlakukan jalan tol sebagai fasilitas publik, proyek ini menjadi sumber keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Pemilik konsesi tol dan investor mendapatkan keuntungan jangka panjang, sementara rakyat yang setiap hari menggunakan jalan tol harus merogoh kocek lebih dalam.

Selain itu, patut dicermati bahwa dalam beberapa kasus, perusahaan yang terlibat dalam pembangunan dan pengelolaan jalan tol ini memiliki hubungan erat dengan elit politik. Ini menimbulkan spekulasi bahwa proyek-proyek infrastruktur besar ini bukan hanya sekadar layanan publik, melainkan juga instrumen politik dan ekonomi yang menguntungkan kelompok-kelompok tertentu yang dekat dengan kekuasaan.

Akses untuk Siapa?

Salah satu kritik terbesar terhadap kebijakan ini adalah masalah aksesibilitas. Jalan tol memang mempercepat perjalanan, tetapi tidak semua orang bisa menikmatinya. Tarif tol yang terus meningkat membuatnya tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat, terutama yang berada di kelas ekonomi menengah ke bawah. Mereka yang sehari-hari harus menggunakan kendaraan pribadi untuk bekerja atau berdagang, kini menghadapi beban tambahan yang justru semakin memperburuk situasi ekonomi mereka.

Dengan kata lain, proyek infrastruktur ini tampaknya lebih bermanfaat bagi golongan menengah ke atas yang memiliki kendaraan pribadi dan kemampuan finansial untuk membayar tol, sementara rakyat kecil yang sebenarnya membutuhkan akses mobilitas yang murah malah dibiarkan terpinggirkan.

 Jalan Tol dan Beban Ekonomi Rakyat

Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan jalan tol ini memang mempermudah konektivitas antarwilayah dan mempercepat pergerakan barang dan jasa. Namun, keberhasilan infrastruktur ini tidak dapat diukur hanya dari beton dan aspal yang membentang. Kebijakan ini telah menambah beban ekonomi bagi rakyat, terutama karena biaya yang terus meningkat dan ketidakadilan dalam aksesibilitas.

Ketika masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain, mereka kehilangan daya beli untuk hal-hal lain yang lebih esensial. Beban ini menjadi lebih terasa bagi masyarakat yang hidup di kota-kota besar di mana jalan tol menjadi pilihan utama untuk menghindari kemacetan. Ironisnya, solusi yang dijual sebagai cara untuk mempercepat mobilitas justru menjadi jebakan biaya bagi rakyat.

Solusi atau Kebijakan yang Salah Arah?

Pada akhirnya, kita harus mempertanyakan kebijakan ini. Apakah benar pembangunan jalan tol yang massif ini merupakan solusi yang tepat untuk memperbaiki layanan publik, atau justru menjadi kebijakan yang salah arah? Ketika negara menjadikan infrastruktur sebagai bisnis yang menghasilkan uang dari rakyatnya sendiri, fungsi negara sebagai pelayan publik mulai tergeser.

Infrastruktur seharusnya tidak hanya dilihat sebagai economic asset tetapi juga sebagai social asset yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di bawah era Jokowi, pembangunan jalan tol lebih tampak sebagai proyek ekonomi dengan tujuan meraih keuntungan daripada sebagai bagian dari pelayanan publik yang harusnya bisa diakses oleh semua kalangan dengan adil.

Kesimpulan: Jalan Menuju Keuntungan, Bukan Keadilan

Pembangunan jalan tol di era Jokowi membuka mata kita bahwa infrastruktur yang seharusnya menjadi bagian dari pelayanan publik bisa berubah menjadi instrumen bisnis yang hanya menguntungkan segelintir orang. Jalan tol yang dibangun dengan dana rakyat, kini justru menjerat rakyat dalam skema tarif yang membebani. Ketika pembangunan tidak lagi berfokus pada kesejahteraan rakyat, melainkan pada kepentingan ekonomi elit, maka kita harus bertanya: apakah ini benar-benar pembangunan untuk rakyat, atau hanya demi keuntungan bagi sebagian kecil saja?

Dalam hal ini, kebijakan infrastruktur di era Jokowi, terutama dalam hal pembangunan jalan tol, bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga tentang arah kebijakan ekonomi yang lebih luas. Arah yang tampaknya semakin menjauh dari prinsip-prinsip pelayanan publik yang seharusnya menjadi inti dari tugas negara.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Hari ini Ahad 22 September 2024 Tarif Tol Dalam Kota Resmi Naik

Next Post

Menggeleparnya Faksi Sejahtera di PKS: Anies Dikorbankan!

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Birokrasi

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Next Post
Presiden PKS : Lawan Politik Uang, PKS Is Not For Sale to Oligarchs

Menggeleparnya Faksi Sejahtera di PKS: Anies Dikorbankan!

KPU Resmi Tetapkan Empat Paslon di Pilgub Jabar

KPU Resmi Tetapkan Empat Paslon di Pilgub Jabar

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist