Fatia mengatakan, apa yang mereka sampaikan pada konten YouTube tersebut semata-mata demi kepentingan publik. “Memberikan fakta kepada publik untuk dapat ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.
Jakarta – Fusilatnews – Terdakwa kasus dugaan pencemaran nama baik Menteri Luhut Pandjaitan, Fatia Maulidiyanti dalam pleidoinya menegaskan tidak menyesali apa yang ia lakukan bersama Haris Azhar.
Dalam podcast itu, Fatia dan Haris membahas isi kajian “Ekonomi-Politik Penempatan Militer di Papua: Kasus Intan Jaya”. Keduanya menyebut ‘Lord Luhut’, istilah untuk merujuk Luhut Binsar Pandjaitan.
Fatia mengatakan, apa yang mereka sampaikan pada konten YouTube tersebut semata-mata demi kepentingan publik. “Memberikan fakta kepada publik untuk dapat ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.
Koordinator KontraS itu juga berkukuh meminta negara menindaklanjuti berbagai temuan yang ia dapat dari masyarakat, terutama yang jadi korban pelanggaran HAM. Menurut Fatia, sudah terlalu banyak masyarakat yang menjadi korban dari kesewenang-wenangan negara, tanpa adanya keadilan.
“Jika merujuk pada perasaan, tentu saja perasaan sakit hati, kerugian secara materiil dan imateril yang dihadapi oleh masyarakat hari ini jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang disangkakan kepada saya dalam kasus ini,” ucapnya.
Dalam kasus dugaan pencemaran nama baik Luhut itu, jaksa penuntut umum menuntut Fatia dengan pidana penjara 3 tahun dan 6 bulan. Fatia juga dituntut denda sebesar Rp500 ribu rupiah subsider tiga bulan kurungan. Sedangkan Haris Azhar dituntut empat tahun penjara dan denda Rp 1 juta subsider enam bulan kurungan.
Sebelum mengakhiri pleidoinya, Fatia menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah menghina Luhut dengan menyasar kehidupan pribadinya, fisiknya, ataupun sebagai seorang pribadi. Ia berujar, apa yang ia sampaikan dan kritik adalah Luhut Binsar Pandjaitan sebagai pejabat publik.
Menurut Fatia sebagai pejabat publik, Luhut justru berkewajiban harus transparan dan akuntabel. “Tidak ada sama sekali niat jahat yang direncanakan di dalam konten tersebut, tidak ada manfaat yang saya incar dari dibahasnya riset tersebut di dalam Youtube, untuk kepentingan pribadi saya, lebih kepada kerugian yang saya hadapi hari ini,” kata Fatia.
Menurut Fatia, apa yang ia sampaikan bersama Haris Azhar menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai aktivis dan peneliti. Karena itu, ia menyesalkan ucapannya dianggap sebagai serangan pribadi.
Namun, Fatia Maulidiyanti menyatakan tidak dapat meminta maaf karena apa yang dia sampaikan di YouTube maupun riset berasal dari temuan yang disampaikan 9 Organisasi Masyarakat Sipil.
“Ucapan saya di dalam siaran YouTube itu satu kesatuan dengan apa yang ditemukan dalam riset,” ujarnya. “Riset merupakan sebuah temuan dan deskripsi ilmiah yang patutnya terus diuji dan dikembangkan, bukan dipidana.”
























