Oleh: Damai Hari Lubis
Di tengah riuhnya perdebatan publik mengenai keabsahan dokumen kenegaraan seorang Presiden, muncul pula isu yang cukup menyudutkan dan—bisa dikatakan—tidak jentel: tudingan bahwa akan terjadi persekusi terhadap tamu-tamu TPUA (Tim Pembela Ulama dan Aktivis) oleh sosok Hercules di Solo. Tuduhan ini bukan hanya absurd, tetapi juga sarat nuansa penggiringan opini yang tidak sehat.
Sebagai salah satu penggerak dan bagian dari inisiatif kedatangan TPUA ke Solo, saya meyakini bahwa narasi persekusi tersebut adalah propaganda yang sulit dipercaya. Mengapa? Karena Ketua TPUA, Eggi Sudjana, sendiri adalah salah satu penasihat dari GRIB, kelompok yang dikaitkan dengan Hercules. Logika sederhana pun bisa memahami: mana mungkin seseorang yang berada dalam lingkaran nasihat akan menjadi target ancaman dari orang yang masih berada dalam orbit yang sama?
Kedatangan kami ke Solo bukanlah untuk membuat gaduh, apalagi menciptakan kekacauan sebagaimana telah digambarkan oleh pihak-pihak yang terlalu mudah memprovokasi publik melalui asumsi. Kami sudah mengirimkan surat resmi—sebagai bentuk niat baik dan penghormatan administratif—untuk melakukan silaturahmi, bukan mencari musuh. Kami datang dengan satu niat: mencari kebenaran, agar fitnah yang selama ini beredar tidak terus hidup tanpa klarifikasi. Pertanyaannya sederhana: apakah ijazah Presiden Joko Widodo asli atau tidak? Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang.
Kami percaya bahwa Polri, sebagai aparatur negara yang menjaga konstitusi dan melindungi hak warga negara, akan memberikan pengamanan yang wajar bagi tamu-tamu TPUA, termasuk dua tokoh yang turut hadir: Dr. Roy Suryo dan Dr. Rismon H. Sianipar. Apalagi, mayoritas peserta kami kali ini hanyalah kaum ibu-ibu. Mereka yang sama kemarin hadir di UGM, Yogyakarta, dalam kegiatan yang walaupun tidak memuaskan dari segi tanggapan institusi, tetap memperlihatkan bahwa pintu dialog belum sepenuhnya tertutup.
Lebih jauh, kami meyakini bahwa Presiden Republik Indonesia saat ini, Prabowo Subianto, tidak akan membiarkan tindakan persekusi dalam bentuk apapun terhadap rakyatnya—termasuk terhadap kelompok emak-emak, serta saya pribadi dan rekan-rekan yang datang dalam kapasitas moral, bukan politis. Saya sampaikan ini bukan tanpa landasan emosional, melainkan dari latar hubungan panjang kami sebagai loyalis beliau. Saya dan kawan-kawan pernah berdiri di barisan pendukung berat Prabowo, bahkan sejak Pilpres 2014 dan 2019. Meskipun sempat berseteru akibat rasa kecewa terhadap langkah politik beliau yang bergabung dengan sosok Jokowi, namun kini kami kembali menaruh harapan dan dukungan kepada Kabinet Merah Putih.
Dukungan kami tidak datang karena ambisi politik. Melainkan karena semangat menjaga marwah bangsa, menegakkan kebenaran, dan menghapuskan fitnah. Maka sungguh ironi jika niat suci ini dibalas dengan intimidasi atau bahkan penggiringan opini sesat.
Mencari kebenaran tidak boleh dianggap ancaman. Justru ketakutan akan kebenaran, itulah ancaman sejati bagi demokrasi.





















