• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Aya Aya Wae

Fufu Fafa dan Bapaknya – Boneka di Panggung Kekuasaan

Damai Hari Lubis - Mujahid 212 by Damai Hari Lubis - Mujahid 212
August 28, 2025
in Aya Aya Wae, Feature
0
Fufu Fafa dan Bapaknya – Boneka di Panggung Kekuasaan
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Damai Hari Lubis

Ada saatnya sebuah bangsa merasa kepalanya dipukul pelan, tapi terus-menerus. Bukan oleh musuh, bukan oleh bencana, melainkan oleh tontonan yang berulang: Fufu, Fafa, dan bapaknya. Nama itu terdengar seperti boneka, seperti tokoh kartun yang mestinya hanya lucu di dunia anak-anak. Tapi di negeri ini, nama itu dipaksa masuk ke ruang politik, menjadi bagian dari percakapan serius tentang masa depan.

Publik tentu bukan tanpa nalar. Mereka tahu, panggung politik mestinya bukan ruang bermain keluarga. Mereka sadar bahwa negara tak boleh direduksi menjadi album foto, di mana wajah anak-anak pemimpin dipasang rapi dengan bingkai megah. Dan ketika kesadaran itu berulang kali ditabrak dengan kenyataan, muncullah satu kata yang makin sering terdengar: jenuh.

Ketidaksukaan publik bukan lagi sekadar kritik yang samar, tapi sudah naik ke ubun-ubun. Ada gregetan yang tak lagi bisa ditutup dengan humor. Karena setiap kali layar televisi menyala, atau berita daring bergulir, yang muncul bukan gagasan, bukan terobosan, melainkan kabar tentang anak-anak bapak itu. Publik dipaksa menonton, seperti penonton yang tak bisa meninggalkan gedung teater meski sandiwaranya murahan.

Nepotisme, yang dulu dianggap aib, kini tampil dengan percaya diri. Ia hadir bukan di ruang belakang, tapi di panggung utama. Di masa lalu, keluarga penguasa mungkin masih menyamarkan ambisinya dengan sopan santun politik. Kini, ia tampil terbuka, bahkan disertai senyum ramah yang seolah menganggap semua orang sudah maklum.

Tapi publik belum kehilangan ingatan. Mereka tahu, sejarah selalu mengajarkan pola yang sama. Dari Roma kuno, ketika kaisar mengangkat kerabatnya sebagai penerus, rakyat dipaksa percaya bahwa darah lebih berharga daripada kebijaksanaan. Dari Asia Timur, ketika dinasti mengikat negara dengan silsilah, rakyat dipaksa menukar nasibnya dengan loyalitas pada keluarga. Bahkan di abad modern, praktik itu masih mengendap: di Korea Utara, kita melihat sebuah negara dijalankan seperti warisan rumah tangga.

Indonesia, dengan segala klaim modernitas dan demokrasinya, kini sedang berjalan ke arah yang sama. Tentu dengan kostum berbeda: jargon pembangunan, proyek raksasa, dan narasi keberlanjutan. Tapi di balik semua itu, orang bisa melihat jelas benang merahnya: ini adalah soal dinasti, bukan soal bangsa.

Ada yang menyebutnya strategi politik, ada yang menamainya konsolidasi. Tapi publik, dengan nalar sehatnya, hanya mendengar gema kosong. Kata-kata itu terdengar seperti plastik tipis yang membungkus barang basi: rapuh, gampang sobek, dan tak menutupi bau yang menyengat.

Yang paling getir bukanlah kemunculan Fufu atau Fafa itu sendiri. Yang paling getir adalah sikap bapaknya, yang seperti tak pernah cukup dengan kekuasaan. Kekuasaan, kata Lord Acton, cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut. Tapi di sini, kita bahkan menyaksikan sesuatu yang lebih banal: kekuasaan yang diwariskan sambil tersenyum, seolah-olah negara ini memang sekadar kebun keluarga.

Maka publik pun gregetan. Bukan karena wajah anak-anak itu—sebab publik bisa memaklumi ambisi personal siapa pun. Gregetan muncul karena panggung politik yang mestinya ruang bersama, kini dipenuhi kepentingan pribadi. Gregetan lahir karena suara rakyat terasa tak lebih penting dibandingkan kehendak bapak itu.

Dan di sinilah tragedinya. Demokrasi, yang dulu didamba sebagai jalan keluar dari feodalisme, kini justru diisi kembali oleh watak feodal. Bukan raja, tapi bapak. Bukan pangeran, tapi anak-anaknya. Perubahan hanya terjadi pada istilah, bukan pada watak.

Publik mungkin masih bisa menertawakan ini, dengan tawa hambar. Tapi tawa itu sesungguhnya lebih mirip dengan tangisan yang tertahan. Sebab jauh di lubuk hati, orang tahu: ketika masa depan bangsa dipertaruhkan di tangan keluarga inti, yang hilang bukan hanya harapan politik, tapi juga martabat publik itu sendiri.

Dan pertanyaan pun menggantung di udara, pahit dan getir: apakah bangsa ini masih punya ruang untuk percaya, ketika panggung politiknya sudah berubah menjadi album keluarga?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Potret Politik : Semua Mata ke Istana, Padahal Setengah Politik Ada di Senayan

Next Post

Kemiskinan: Produk Pemimpin Masa Lalu

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Damai Hari Lubis - Mujahid 212

Related Posts

JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT
Feature

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK
Feature

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026
Next Post
Kemiskinan: Produk Pemimpin Masa Lalu

Kemiskinan: Produk Pemimpin Masa Lalu

Potensi Peningkatan Ateisme di Arab Saudi: Antara Represi, Modernisasi, dan Kekecewaan

Potensi Peningkatan Ateisme di Arab Saudi: Antara Represi, Modernisasi, dan Kekecewaan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
JK & Seekor Gajah
Feature

JK & Seekor Gajah

by Karyudi Sutajah Putra
April 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Gajah itu panjang. Itu bila hanya dilihat...

Read more
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

April 19, 2026
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Harga BBM Nonsubsidi Naik Mulai Hari Ini, Berikut Daftar Lengkapnya

DPR Ingatkan Dampak Kenaikan BBM Nonsubsidi, Kelompok Rentan Terancam Terjepit

April 21, 2026
KETIKA PRESIDEN BICARA DENGAN MASYARAKAT

Alergi Kritik, Tanda Tak Siap Memimpin

April 21, 2026
Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

Jokowi Merendah, Buzzer Menggila: Merespon Pernyataan JK

April 21, 2026

Pilihan yang Bukan Pilihan

April 21, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

Wapres Gibran Traktir Anak Yatim Belanja Buku di Timika

April 21, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...