Fusilatnews – Dalam lanskap sosial-politik Arab Saudi, ateisme adalah kata yang tabu. Negara yang berlandaskan syariat Islam ini bahkan pernah memasukkan promosi ateisme ke dalam kategori terorisme melalui undang-undang tahun 2014. Namun, justru di balik represi yang ketat itu, tersimpan paradoks: semakin keras sebuah keyakinan dipaksakan, semakin besar pula potensi perlawanan lahir dari dalam masyarakat. Indikasi bahwa ateisme dan sikap tidak religius meningkat di dunia Arab, termasuk Saudi, semakin jelas, meskipun sulit diukur dengan angka presisi.
Data dan Tren Regional
Dalam satu dekade terakhir, fenomena menarik muncul terkait pergeseran keyakinan di negara-negara Arab. Menurut Pew Research Center (2015), terdapat sekitar 317 juta umat Muslim atau 93% dari total penduduk Timur Tengah. Namun, survei lain menunjukkan pergeseran signifikan. BBC International mencatat peningkatan jumlah penduduk yang tidak beragama, dari 8% pada 2013 menjadi 13% pada 2019.
Di Turki, meskipun 99% penduduknya Muslim, laporan lembaga survei Konda (2019) menemukan penurunan orang yang mengaku Muslim dari 55% menjadi 51%. Penurunan ini bukan karena berpindah ke agama lain, melainkan karena bertambahnya jumlah ateis.
Hal serupa juga terjadi di Arab Saudi. Laporan Saudi Arabia 2021 International Religious Freedom Report mencatat ada 224 ribu orang yang memilih tidak beragama, baik ateis maupun agnostik. Fenomena ini menunjukkan bahwa meski ateisme tidak diakui secara formal, ia mulai menampakkan diri secara statistik. Bahkan di Iran dan beberapa negara Arab lainnya, tren yang sama terlihat: ada pertumbuhan kelompok yang berani mendefinisikan diri sebagai “tidak beragama.”
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
1. Akses Informasi Global
Internet adalah pintu yang tidak bisa ditutup. Generasi muda Saudi tumbuh dengan YouTube, media sosial, dan forum internasional. Buku-buku pemikir ateis seperti Richard Dawkins (The God Delusion) atau Christopher Hitchens bisa diakses secara digital meski tidak beredar resmi. Informasi lintas budaya ini memberi ruang bagi munculnya pertanyaan-pertanyaan kritis tentang iman.
2. Represi Agama dan Politisasi Keyakinan
Ironisnya, represi agama sering melahirkan efek sebaliknya. Seperti ditulis Hannah Wallace dalam artikelnya “Men without God: The Rise of Atheism in Saudi Arabia” (2020), represi justru mendorong sebagian orang untuk keluar dari agama. Ketika agama dipakai sebagai alat politik, masyarakat bisa merasa muak dengan institusi keagamaan sekaligus penguasa.
3. Kekecewaan Politik dan Arab Spring
Menurut Tamer Fouad (Guardian), ada dua pemicu penting:
- Pandangan negatif terhadap agama akibat pemberitaan konflik: penghancuran masjid, pembakaran gereja, hingga kekerasan atas nama agama.
- Kegagalan partai dan tokoh Islam pasca-Arab Spring, yang membuat banyak orang kecewa terhadap janji-janji perubahan berbasis agama.
4. Perubahan Sosial-Ekonomi di Saudi
Visi 2030 Mohammed bin Salman membawa perubahan besar. Bioskop, konser, hiburan publik, dan pelonggaran aturan sosial mulai mengubah wajah Saudi. Namun, kebebasan gaya hidup tidak selalu sejalan dengan kebebasan berpikir. Benturan identitas antara modernitas dan konservatisme melahirkan ruang keraguan terhadap agama.
5. Pengalaman Diaspora
Mahasiswa Saudi yang belajar di Barat kerap kembali dengan perspektif baru. Pengalaman hidup di negara sekuler dan plural menantang doktrin agama yang selama ini dianggap satu-satunya kebenaran.
6. Diskrepansi antara Retorika dan Realitas
Hipokrisi elit—yang mengatasnamakan Islam sembari hidup penuh kemewahan—meruntuhkan kredibilitas agama resmi. Dari ruang privat, kekecewaan ini berkembang menjadi skeptisisme, bahkan ateisme.
Kebahagiaan dan Ateisme: Mitos atau Realitas?
Banyak anggapan bahwa ateis lebih bahagia daripada orang beragama. Namun, survei Pew Research Center (2019) membantah klaim tersebut. Di 36 negara, setengah warga yang aktif beribadah mengaku “sangat bahagia,” dibanding hanya 25% dari mereka yang ateis atau tidak religius.
Penelitian University of Cologne (2021) menambahkan dimensi lain: hubungan antara agama dan kebahagiaan sangat bergantung pada konteks negara. Di negara yang religius dan fanatik, ateis cenderung kurang bahagia karena menghadapi diskriminasi. Sebaliknya, di negara liberal, mereka bisa hidup lebih nyaman. Artinya, bagi ateis di Arab Saudi, bahagia adalah tantangan berat bukan karena keyakinan itu sendiri, melainkan karena tekanan sosial dan politik yang mereka hadapi.
Penutup
Ateisme di Arab Saudi ibarat api kecil yang bersembunyi di balik gurun. Data regional, survei internasional, hingga laporan resmi menunjukkan tren peningkatan, meski tidak dramatis. Faktor-faktor seperti akses informasi global, represi agama, kekecewaan politik, modernisasi sosial, diaspora, dan hipokrisi elit menjadi pendorong utama. Namun, ateisme tetap beroperasi secara “bawah tanah,” karena konsekuensi hukuman sosial maupun pidana sangat berat.
Apakah api kecil ini akan menyala besar hingga mengubah lanskap ideologi Saudi? Pertanyaan itu masih terbuka. Yang jelas, benih-benih keraguan telah tumbuh, dan ia akan terus berkembang selama ruang kebebasan berpikir tetap dibatasi oleh kuasa politik dan tafsir tunggal agama.

























