“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
FusilatNews – Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah tokoh pergerakan nasional yang memiliki visi besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai pemimpin Sarekat Islam, ia memperjuangkan kemerdekaan, keadilan sosial, dan persatuan rakyat pribumi dalam menghadapi penjajahan. Ia menanamkan semangat nasionalisme dan pemikiran Islam yang progresif dalam perjuangan melawan ketidakadilan kolonial. Namun, hampir seabad setelah kematiannya, cita-cita besar yang ia gaungkan masih jauh dari kenyataan.
1. Keadilan Sosial yang Masih Jauh dari Harapan
Salah satu gagasan utama Tjokroaminoto adalah keadilan sosial, di mana rakyat kecil tidak lagi tertindas oleh sistem yang hanya menguntungkan segelintir elite. Namun, di era modern ini, kesenjangan ekonomi justru semakin lebar. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan Indonesia masih dikuasai oleh kelompok tertentu, sementara rakyat kecil berjuang dalam kemiskinan. Korupsi dan oligarki politik semakin menghambat pemerataan kesejahteraan. Jika Tjokroaminoto masih hidup, ia mungkin akan kecewa melihat cita-cita sosialismenya belum terwujud.
2. Persatuan yang Tergerus oleh Polarisasi Politik
HOS Tjokroaminoto mengajarkan pentingnya persatuan dalam perjuangan. Namun, saat ini, persatuan bangsa semakin terkikis oleh polarisasi politik yang tajam. Narasi kebencian berbasis politik, agama, dan identitas semakin marak di media sosial dan ruang publik. Demokrasi yang seharusnya menjadi alat perjuangan justru sering dimanipulasi demi kepentingan kelompok tertentu. Ini bertentangan dengan semangat persatuan yang Tjokroaminoto perjuangkan melalui Sarekat Islam.
3. Islam yang Semakin Tersubordinasi dalam Politik
Tjokroaminoto melihat Islam sebagai landasan perjuangan yang tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga sosial dan politik. Namun, di era modern, Islam sering digunakan sebagai alat politik tanpa implementasi nilai-nilai keadilan yang sejati. Banyak partai berbasis Islam yang kehilangan arah perjuangan ideologisnya, lebih mementingkan pragmatisme politik ketimbang memperjuangkan kepentingan umat. Cita-cita sosialisme Islam yang diusung Tjokroaminoto semakin terpinggirkan dalam wacana politik saat ini.
4. Pendidikan dan Kepemimpinan yang Menyimpang dari Nilai Perjuangan
Sebagai seorang guru bangsa, Tjokroaminoto percaya bahwa pendidikan dan kepemimpinan yang berintegritas adalah kunci membangun bangsa. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi banyak tantangan, mulai dari akses yang tidak merata hingga sistem yang lebih berorientasi pada kepentingan industri dibandingkan mencetak pemimpin berkarakter. Para pemimpin yang seharusnya menjadi contoh sering kali tersandung kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang, bertolak belakang dengan nilai-nilai kepemimpinan yang diajarkan oleh Tjokroaminoto.
Kesimpulan
Cita-cita besar HOS Tjokroaminoto tentang keadilan sosial, persatuan bangsa, Islam sebagai kekuatan sosial, dan kepemimpinan yang berintegritas masih menghadapi tantangan besar di era modern. Meskipun Indonesia telah mencapai kemerdekaan, namun esensi perjuangan Tjokroaminoto masih belum sepenuhnya terwujud. Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk merealisasikan visi besarnya agar bangsa ini benar-benar mencapai keadilan dan kesejahteraan yang dicita-citakan sejak masa perjuangan nasional.






















