Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja memprediksi akan terjadi PHK massal di sektor industri tekstil. Tanda-tanda ini tercermin dari penurunan ekspor yang mencapai 30 persen pada Oktober 2022.
Gangguan ekspor itu mengakibatkan utilisas Industri Textil menurun tajam sehingga berdampak terhadap pengurangan jam kerja. “Akhirnya terjadi pemutusan hubungan kerja,” ucap Jemmy saat dihubungi Tempo pada Kamis, 27 Oktober 2022.
Sementara Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar mencatat 43.567 karyawan di Jabar menjadi korban PHK 87 perusahaan hingga 29 September 2022. Jumlah tersebut merupakan akumulasi PHK selama pandemi hingga hadirnya perang Ukraina dan Rusia yang menambah pukulan bagi pelaku industri di Jabar.
“Ancaman badai PHK masih bisa terjadi. Adapun daerah-daerah / Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang rawan terjadinya gelombang PHK adalah daerah-daerah kantung industri, terutama industri padat karya seperti garmen, tekstil dan lainnya yang berorientasi eksport, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Subang,”ujarnya pada Senin, 31 Oktober 2022.
Sebelumnya, Dinas tenaga kerja dan transmigrasi Provinsi Jawa Barat mengungkapkan sekitar 43 ribu pekerja tekstil dan garmen di enam kota.kabupaten di Jawa Barat mengalami PHK. Kondisi itu terjadi karena dampak dari pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina yang membuat pasar produk garmen dan tekstil yakni Eropa dan Amerika mengalami krisis.
Mendahului PHK di sector Textil, juga 15 perusahaan start up telah mem-PHK-an sejumlah karyawannya. 2022 menjadi tahun yang berat bagi beberapa startup di Indonesia. Banyak perusahaan yang melakukan PHK (pemutusan hubungan kerja), tutup layanan, atau bahkan bangkrut. Entah karena pendanaannya terhenti, dampak pandemi COVID-19, maupun alasan lainnya.
Ia menjelaskan penurunan ekspor industri tekstil terjadi seiring pelemahan daya beli di Amerika Serikat dan Eropa. Dua kawasan itu memang masih menjadi tujuan ekspor tekstil terbesar bagi Indonesia. Ancaman resesi 2023 membuat pelaku usaha memprediksi berlanjutnya penurunan ekspor. Seiring dengan itu, ancaman gelombang PHK pun mengintai pada tahun depan.
Catatan dari para Pelaku usaha adalah, melihat penyebab penurunan ekspor karena melemahnya daya beli di Amerika Serikat dan Eropa. Kondisi ini membuat negara-negara penghasil produk tekstil lainnya, seperti Cina, Bangladesh, Vietnam, dan India, menyerbu pasar Indonesia. Akibatnya, terjadi persaingan antara produksi dalam negeri dan impor.
Situasi tersebut menjelaskan bahwaa penurunan ekspor industri tekstil terjadi seiring pelemahan daya beli di Amerika Serikat dan Eropa. Dua kawasan itu memang masih menjadi tujuan ekspor tekstil terbesar bagi Indonesia. Ancaman resesi 2023 membuat pelaku usaha memprediksi berlanjutnya penurunan ekspor. Seiring dengan itu, ancaman gelombang PHK pun akan terus mengintai pada tahun depan.
Apalagi, Indonesia dinilai masih mampu bertahan di tengah gelapnya ekonomi global karena resesi 2023 dan memiliki populasi terbesar keempat di dunia. Inflasi Indonesia pun diprediksi tak akan naik terlalu tinggi.
Pada keterangan lain, Sekertaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Anwar Sanusi, berharap para pengusaha tidak menerapkan jalan pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah lesunya perekonomian global saat ini. Meski begitu, Anwar mengakui, jalur PHK adalah jalan terakhir bagi industri textil dalam menyikapi persoalan krisis.





















