FUSILATNEWS – Dua gempa bumi besar mengguncang Asia Tenggara dalam waktu yang berdekatan. Pada Selasa (1/4/2025) petang, gempa bermagnitudo 6,3 terjadi di Maluku Barat Daya, Indonesia, sementara Myanmar masih berjuang menghadapi dampak gempa dahsyat berkekuatan 7,7 yang melanda negara itu beberapa hari sebelumnya.
Gempa di Maluku Barat Daya
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengungkapkan bahwa gempa terjadi pukul 18.15 Wita dengan kedalaman 150 kilometer di bawah laut. Pusat gempa terletak pada koordinat 7,68 derajat lintang selatan dan 128,57 derajat bujur timur, sekitar 101 kilometer timur laut Maluku Barat Daya.
“Gempa ini dirasakan di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Malaka, dan Kota Kupang. Bahkan, getarannya terasa hingga ke Timor Leste,” kata Arief dalam keterangannya.
Namun, karena kedalaman gempa yang cukup besar, dampaknya di permukaan relatif minim. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan atau korban jiwa akibat gempa tersebut.
Myanmar Dilanda Gempa Dahsyat M 7,7
Sementara itu, Myanmar mengalami gempa yang jauh lebih destruktif pada Jumat (28/3/2025). Gempa berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang wilayah Sagaing, dekat Mandalay, menewaskan lebih dari 2.700 orang dan melukai lebih dari 4.500 orang lainnya. Sekitar 450 orang masih dinyatakan hilang.
Dampak gempa ini sangat parah, dengan banyak bangunan, termasuk pagoda kuno, rumah sakit, dan hotel, runtuh. Di Mandalay, berbagai fasilitas publik, termasuk biara dan universitas, mengalami kerusakan serius. Bahkan, di ibu kota Naypyidaw, beberapa gedung pemerintahan dan menara kontrol bandara terdampak, mengganggu operasional penerbangan.
Otoritas Myanmar telah mengumumkan keadaan darurat di enam wilayah terdampak dan menyerukan bantuan internasional. Negara itu juga menetapkan masa berkabung nasional selama seminggu hingga 6 April 2025.
Perbedaan Dampak: Kedalaman Jadi Faktor Kunci
Jika dibandingkan, perbedaan utama antara gempa di Maluku Barat Daya dan Myanmar terletak pada magnitudo serta kedalaman. Gempa Maluku terjadi di kedalaman 150 kilometer, yang menyebabkan guncangan lebih tersebar dan dampaknya lebih kecil. Sebaliknya, gempa Myanmar yang lebih dangkal, hanya 80 kilometer, menyebabkan guncangan lebih kuat di permukaan dan kerusakan yang lebih besar.
Selain itu, kondisi sosial-politik juga memainkan peran dalam penanganan bencana. Myanmar yang tengah dilanda konflik politik menghadapi kendala besar dalam distribusi bantuan, sementara Indonesia memiliki sistem mitigasi bencana yang lebih terorganisir.
Meski begitu, kedua peristiwa ini mengingatkan kembali betapa rentannya kawasan Asia Tenggara terhadap gempa bumi dan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.





















