Oleh: Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Menurut informasi yang beredar, salah satu pemateri dalam agenda retret yang digelar di Gedung Akmil Magelang adalah Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Jokowi yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI.
Kabar ini diperkuat oleh pernyataan Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto pada Senin, 24 Februari 2025. Ia mengonfirmasi bahwa pada Rabu, 26 Februari 2025, Gibran akan hadir dalam acara retret dan memberikan materi pembekalan kepada para kepala daerah di Indonesia.
Namun, masih belum jelas apa materi yang akan disampaikan Gibran dalam kesempatan tersebut. Bisa jadi, ia akan membahas bagaimana para pejabat publik, khususnya kepala daerah seperti gubernur, bupati, dan wali kota, harus bersikap dalam era digital yang serba cepat. Ataukah Gibran akan menyampaikan gagasan tentang kepemimpinan ideal yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, patriotisme, kebangsaan, serta prinsip profesionalisme yang objektif, kredibel, dan akuntabel? Lebih jauh, apakah ia akan menegaskan pentingnya menolak praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)?
Selain substansi materi, yang menarik untuk ditelaah adalah bagaimana pola penyampaian Gibran. Apakah ia akan hanya membaca teks sambil sesekali melempar candaan khasnya? Ataukah ia akan berbicara lancar seperti saat debat cawapres 2024, di mana ia tampil dengan gaya khas yang menuai pro dan kontra?
Kemudian, apakah dalam agenda tersebut akan ada sesi tanya jawab? Jika ya, akankah Gibran memanfaatkan kesempatan ini untuk mengklarifikasi tuduhan publik terkait akun Fufu Fafa yang diduga kuat miliknya? Tuduhan tersebut pertama kali diungkap oleh pakar telematika Dr. Roy Suryo, yang menyatakan bahwa ada kemungkinan 99,9 persen akun tersebut dikendalikan oleh Gibran. Sebagai pemateri yang juga seorang pejabat publik, apakah Gibran akan menerapkan prinsip keterbukaan informasi sesuai dengan UU Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP)? Jika iya, tentu publik dan para kepala daerah yang hadir di acara tersebut akan menunggu penjelasan resminya.
Namun, satu pertanyaan besar tetap menggelitik: bagaimana reaksi Dr. Roy Suryo sendiri terhadap fakta bahwa Gibran menjadi pemateri dalam forum yang dihadiri oleh kepala daerah dari seluruh Indonesia? Mengingat jejak pendidikan Gibran yang sering dipertanyakan—hanya lulusan setingkat D-1 atau SMA—apakah Dr. Roy akan tersenyum penuh ironi atau malah tertawa lepas sembari mengutip jargon khasnya: “Tweeerrlaluuu!”


























