Part 1
(Ketika Alam Mengajarkan Tata Kelola yang Adil)
By Paman BED
“Merawat Akal Sehat, Menjaga Nurani Bangsa.”
Pernahkah kita iseng memperhatikan sebuah tanaman dari arah atas?
Sekilas tidak ada yang istimewa. Daun-daunnya tumbuh melingkar mengelilingi batang. Namun, jika diamati lebih saksama, ada sesuatu yang menakjubkan. Hampir tidak ada satu daun pun yang menutupi daun lainnya secara sempurna. Setiap daun memperoleh ruangnya sendiri. Setiap daun tetap mendapatkan sinar matahari. Setiap daun tetap memperoleh air hujan yang mengalir dari atas.
Tidak ada yang saling berebut. Tidak ada yang saling menyingkirkan.
Padahal tidak ada mandor yang mengawasi mereka. Tidak ada rapat koordinasi. Tidak ada standar operasional prosedur. Tidak ada regulasi yang ditempel di batang pohon.
Namun semuanya bekerja dengan presisi yang mengagumkan.
Ilmu botani menjelaskan fenomena tersebut melalui konsep phyllotaxis, yaitu pola penyusunan daun pada batang tanaman. Pada banyak spesies tumbuhan, daun tumbuh mengikuti sudut sekitar 137,5 derajat, yang dikenal sebagai Golden Angle (Sudut Emas). Sudut ini berkaitan erat dengan deret Fibonacci dan menghasilkan efisiensi ruang yang hampir sempurna. Dengan susunan tersebut, setiap daun memperoleh paparan cahaya matahari dan air hujan secara optimal sehingga seluruh tanaman dapat bertahan hidup dan berkembang.
Bayangkan apabila sudut itu bergeser beberapa derajat saja.
Daun-daun bagian atas akan saling menutupi. Daun di bawah kehilangan cahaya. Proses fotosintesis terganggu. Pertumbuhan menjadi tidak optimal. Bahkan sebagian daun dapat mati sebelum waktunya.
Ternyata, kehidupan bukan sekadar soal keberadaan.
Kehidupan adalah soal proporsi.
Bukan siapa yang paling besar.
Bukan siapa yang paling kuat.
Melainkan siapa yang berada pada tempat dan ukuran yang tepat.
Jauh sebelum ilmu pengetahuan modern menjelaskan fenomena tersebut, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia melalui firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan Kami hamparkan bumi dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh, dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”
(QS. Al-Hijr [15]: 19)
Perhatikan kata terakhir dalam ayat itu: mawzūn.
Kata ini berasal dari akar kata yang sama dengan wazan, yang berarti ukuran, timbangan, kadar, atau proporsi. Ayat tersebut memberi isyarat bahwa tumbuhan, bahkan seluruh ciptaan, tidak tumbuh secara acak. Semuanya berada dalam ukuran yang telah ditetapkan Allah dengan ketelitian yang luar biasa.
Dengan kata lain, alam semesta tidak dibangun oleh kebetulan.
Alam semesta dibangun oleh keseimbangan.
Prinsip yang sama ternyata berlaku pada tubuh manusia.
Banyak orang menganggap kolesterol adalah musuh kesehatan.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Tubuh justru membutuhkan kolesterol untuk membentuk hormon, vitamin D, membran sel, hingga menjaga fungsi otak. Yang menjadi masalah bukan keberadaan kolesterol, melainkan ketika kadarnya melebihi batas normal atau justru terlalu rendah.
Begitu pula gula darah.
Begitu pula tekanan darah.
Begitu pula kadar oksigen.
Begitu pula suhu tubuh.
Semuanya memiliki batas bawah dan batas atas.
Selama berada pada rentang yang semestinya, tubuh bekerja secara harmonis. Tetapi ketika salah satu melampaui batas, seluruh sistem tubuh ikut terganggu.
Penyakit sering kali bukan muncul karena sesuatu itu ada.
Penyakit muncul karena sesuatu tidak lagi berada pada ukurannya.
Bukankah ini juga sebuah pelajaran tentang keseimbangan?
Lalu mengapa kita sering melupakan prinsip yang sama ketika mengelola organisasi?
Sering kali kita mengira bahwa organisasi akan menjadi hebat apabila memiliki pemimpin yang hebat.
Padahal organisasi yang sehat tidak hanya ditentukan oleh kualitas pemimpinnya.
Ia ditentukan oleh kualitas sistem yang menopangnya.
Tubuh manusia adalah contoh terbaik.
Jantung memiliki fungsi yang jelas.
Paru-paru memiliki fungsi yang berbeda.
Ginjal memiliki tugasnya sendiri.
Hati mempunyai perannya sendiri.
Tidak ada organ yang mengambil alih seluruh pekerjaan organ lain.
Tidak ada organ yang merasa paling penting sehingga menguasai semuanya.
Masing-masing bekerja sesuai fungsi, kewenangan, dan tanggung jawabnya.
Justru karena itulah tubuh tetap hidup.
Bayangkan apabila jantung memutuskan untuk mengendalikan seluruh organ.
Atau paru-paru merasa lebih berhak mengatur kerja otak.
Tubuh tidak akan menjadi lebih kuat.
Tubuh justru akan mengalami kegagalan sistem.
Dalam dunia organisasi, kondisi seperti itu disebut overlapping authority, penyalahgunaan kewenangan, lemahnya pengendalian, atau hilangnya mekanisme checks and balances.
Akibatnya hampir selalu sama.
Keputusan menjadi tidak objektif.
Pengawasan kehilangan independensi.
Akuntabilitas melemah.
Kepercayaan perlahan menghilang.
Sesungguhnya, organisasi yang sehat bukan organisasi yang memberi kewenangan sebesar-besarnya kepada seseorang.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang menempatkan kewenangan, tanggung jawab, kompetensi, dan pengawasan dalam proporsi yang tepat.
Kewenangan tanpa akuntabilitas akan melahirkan kesewenang-wenangan.
Pengawasan tanpa independensi hanya menjadi formalitas.
Tanggung jawab tanpa kewenangan melahirkan frustrasi.
Sebaliknya, kewenangan yang terlalu besar tanpa pengawasan hampir selalu berakhir pada penyimpangan.
Semuanya kembali kepada satu kata yang sederhana.
Proporsi.
Menariknya, hampir seluruh hukum alam bekerja dengan prinsip yang sama.
Bumi tidak bergerak sesuka hati.
Ia mengelilingi matahari pada orbit yang sangat presisi.
Bulan mengelilingi bumi dengan keteraturan yang luar biasa.
Air mengalir mengikuti hukum gravitasi.
Siang dan malam berganti tanpa pernah terlambat.
Musim datang sesuai ketetapan-Nya.
Bahkan jutaan galaksi di alam raya bergerak mengikuti hukum yang sangat teratur.
Tidak ada yang saling mendahului.
Tidak ada yang saling bertabrakan karena ingin menjadi yang paling dominan.
Seluruh alam semesta tunduk kepada hukum yang telah Allah tetapkan.
Inilah yang oleh umat Islam dikenal sebagai sunatullah.
Sunatullah bukan sekadar hukum alam.
Ia adalah ketetapan Allah yang menjaga agar kehidupan tetap berlangsung dalam keteraturan.
Karena itu, ketika manusia membangun sistem yang bertentangan dengan prinsip keseimbangan, sesungguhnya manusia sedang melawan hukum yang menopang kehidupan itu sendiri.
Barangkali di sinilah kita mulai memahami mengapa Al-Qur’an begitu sering berbicara tentang ukuran, kadar, timbangan, dan keseimbangan.
Allah tidak hanya menciptakan alam.
Allah juga mengajarkan cara alam bekerja.
Dan ternyata cara alam bekerja adalah cara yang sangat disiplin.
Semuanya memiliki batas.
Semuanya memiliki ukuran.
Semuanya memiliki aturan.
Tidak ada yang berlebihan.
Tidak ada yang dikurangi.
Tidak ada yang mengambil hak ciptaan lain.
Bukankah ini sesungguhnya merupakan fondasi dari sebuah tata kelola yang baik?
Mungkin selama ini kita terlalu sering memandang good governance sebagai konsep modern yang lahir dari teori manajemen, regulasi, atau praktik korporasi.
Padahal jika direnungkan lebih dalam, nilai-nilai yang melandasinya telah lama dipertontonkan oleh alam semesta.
Alam mengajarkan bahwa kekuatan tidak pernah berdiri sendiri.
Ia selalu diimbangi oleh keteraturan.
Kebebasan selalu dibatasi oleh aturan.
Hak selalu berjalan bersama kewajiban.
Kewenangan selalu diikuti tanggung jawab.
Dan seluruhnya berada dalam ukuran yang tepat.
Pertanyaannya kemudian, apakah manusia mau belajar dari alam?
Ataukah justru merasa lebih pintar daripada sistem yang telah Allah ciptakan?
Pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika Al-Qur’an, dalam salah satu surah yang paling indah, mengulang tiga kali sebuah kata yang menjadi jantung dari seluruh keseimbangan kehidupan.
Kata itu adalah mīzān.
Tentang mengapa Allah mengulanginya tiga kali, dan apa kaitannya dengan keadilan, tata kelola, kepemimpinan, bahkan masa depan ekonomi sebuah bangsa, akan kita renungkan bersama pada Part 2.
Referensi Part 1
* Al-Qur’an, QS. Al-Hijr [15]: 19.
* Tafsir Al-Misbah, penafsiran QS. Al-Hijr ayat 19 tentang mawzūn (ukuran yang tepat).
* Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. Al-Hijr ayat 19.
* Phyllotaxis.
* Golden angle.
* Fibonacci sequence.
* Homeostasis.
By Paman BED



















