Dalam mitologi Yunani, Ikarus jatuh bukan karena sayapnya rapuh, melainkan karena terlalu yakin matahari tidak akan melelehkan lilin yang merekatkan sayap itu. Kesombongan sering lahir bukan dari kekuatan, melainkan dari keyakinan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai rencana.
Pemerintahan juga mengenal gejala serupa. Pada masa-masa awal, setiap rezim dipenuhi optimisme. Program diumumkan bertubi-tubi, target dipasang setinggi langit, sementara kritik dianggap sebagai gangguan terhadap semangat membangun. Padahal sejarah menunjukkan bahwa tidak ada pemerintahan yang kebal terhadap kekeliruan. Justru ketika kekuasaan merasa dirinya selalu benar, saat itulah kebijakan mulai kehilangan kemampuan untuk mengoreksi diri.
Ilmuwan politik Amerika, Aaron Wildavsky, pernah mengingatkan bahwa membuat kebijakan publik pada hakikatnya adalah proses belajar dari kesalahan. Tidak ada rancangan yang sempurna. Yang membedakan pemerintahan yang sehat dengan yang bermasalah bukanlah ada atau tidaknya kesalahan, melainkan keberanian mengakui dan memperbaikinya.
Di Indonesia hari ini, pemerintahan Prabowo menghadapi tantangan yang jauh lebih rumit daripada sekadar memenangkan pemilu. Pertumbuhan ekonomi harus dipacu di tengah perlambatan global. Lapangan pekerjaan harus bertambah ketika industri justru menghadapi tekanan. Di saat yang sama, berbagai program besar membutuhkan ruang fiskal yang tidak tanpa batas.
Persoalannya bukan terletak pada besarnya cita-cita. Bangsa ini memang membutuhkan keberanian untuk bermimpi besar. Namun mimpi yang baik tetap harus ditopang oleh data, evaluasi, dan keterbukaan terhadap kritik. Ketika setiap kebijakan dianggap pasti benar karena berasal dari pemerintah, ruang koreksi menjadi semakin sempit. Padahal kebijakan publik yang baik justru lahir dari perdebatan yang sehat.
Ada kecenderungan lain yang patut diwaspadai: munculnya para pembela yang menganggap kritik identik dengan permusuhan terhadap negara. Cara berpikir seperti ini berbahaya karena menempatkan loyalitas di atas rasionalitas. Dalam demokrasi, kritik bukanlah ancaman bagi pemerintah, melainkan mekanisme agar pemerintah tidak tersesat oleh keyakinannya sendiri.
Pemerintahan Prabowo masih memiliki waktu untuk membuktikan bahwa efektivitas lebih penting daripada pencitraan, dan hasil lebih penting daripada slogan. Namun itu hanya mungkin jika evaluasi dilakukan secara jujur, bukan sekadar mencari pembenaran atas setiap keputusan yang telah diambil.
Bangsa ini tidak membutuhkan pesimisme yang selalu melihat kegagalan di setiap sudut. Namun bangsa ini juga tidak memerlukan optimisme buta yang menganggap semua kebijakan pasti benar. Yang dibutuhkan adalah keberanian melihat kenyataan apa adanya: mengakui keberhasilan ketika memang berhasil, dan mengoreksi kekeliruan sebelum terlambat.
Sebab dalam politik, sebagaimana dalam kehidupan, optimisme yang tidak disertai keberanian mengoreksi diri sering kali berubah menjadi ilusi. Dan sejarah menunjukkan, bukan kritik yang paling sering menjatuhkan sebuah pemerintahan, melainkan keyakinan bahwa dirinya tidak mungkin keliru.























