Oleh : Almizan Ulfa, S.E., M.S
FusilatNews- Presiden dua periode maju kembali sebagai kandidat Wapres? Nah ini berita baru dari Mahkamah Konstitusi. Baru tapi apek. Ada apa ya dengan Mahkamah?
Mendengarnya saja sudah malu, apalagi jika nantinya di 2024, ini menjadi kenyataan. Sosok musisi legendaris Iwan Falls sampai-sampai meresponsenya dengan emotikon nerd face, sebagai ungkapan kaget berbaur malu, yang diunggahnya di akun twitter pribadinya.
Banyak emotikon nerd faces yang lain terkait berita Pilpres 2024. Bahkan ada berita yang orang sudah muak mendengarnya tetapi terus diproduksi. Apalagi jika bukan berita hasil survei elektabilitas beberapa sosok elit politisi jika maju sebagai Capres hari ini.
Terus berulangnya berita sowan, kunjungan, dan yang serupa antara petinggi partai juga bikin kita kesel tak ketulungan. Yang diberitakan itu-itu saja, bosen dekh, wacana koalisi Pemilu 2024, yang seperti jalangkung, datang dan pergi begitu saja.
Kita dianggap sebagai warga negara kelas kambing. Sebagai kambing congek, bengong doang, menjelang Pemilu demi Pemilu dan sangat mungkin terjadi kembali di Pemilu 2024.
Jutaan warga negara, termasuk kita semua disini, penulis yakin, tentu sangat mendambahkan perubahan iklim Pemilu kita. Kita ingin terjadinya proses perubahan yang membuat netizen meresponsenya dengan emotikon sumringah, face with tears and joy. Kita mendambahkan Pemilu yang bermartabat yang membuat kita bangga menjadi orang Indonesia.
Hal ini dapat terjadi jika ada penyederhanaan dan kepastian alur proses yang perlu dilalui oleh siapa saja, termasuk Anda tentunya, yang berniat maju dalam kontestasi Pilpres sebagai Capres. Tidak ada “sewa menyewa” perahu.
Misal, untuk Pilpres April 2024. Periode pendaftaran dan pemilihan calon presiden ditetapkan April – September 2023. Dalam periode ini, Anda perlu mendaftar ke Parpol jika berminat untuk menjadi Capres 2024 dan Parpol tidak dapat menolak Anda. Oktober sebagai bulan pengumuman calon-calon presiden terpilih. November 2023 – Maret 2024, kampanye Pilpres 2024, dan April 2024 adalah bulan Pilpresnya.
Pemilihan calon presiden dilakukan secara demokratis. Dilakukan dengan azas inklusivitas, transparans, dan terbuka.
Dengan demikian, elit parpol tidak diberikan kesempatan untuk mempengaruhi apalagi menunjuk calon presiden dari partainya atau gabungan partainya. Frasa tengik “sewa menyewa” perahu akan menjadi catatan hitam perjalanan demokrasi Indonesia.
Mirisnya, ini hampir pasti tidak mungkin terjadi di Pemilu Serentak 2024? Oligarki masih sangat-sangat berkuasa di republik ini. Bagaimana 2029? Setelah 29 tahun periode era reformasi yang sudah berjalan. Mmmm….Penulis, sejauh ini masih pesimis akan hal itu.
Hayu bersuaralah!
Almizan Ulfa, S.E., M.S. Pemerhati Ekonomi | Pensiunan Peneliti Utama Kementerian Keuangan RI



























Biar tetap sumringah pada saat pengambilan suara di TPS mendingan rebahan atau nyruput Kopi panas sambil ngudud.. Buat apa berbondong-bondong ke TPS kalau hasil perhitungan suaranya sudah ditentukan sebelum dicoblos.. (kata Perdana Menteri Jepang)
Mbentul Kang Penjaga Kali. Buat apa berbondong-bondong ke TPS jika pemenangnya pasti orang oligarki?
Adakah Anda rasakan harapan baru untuk Pemilu 2024 yang akan datang