Dengan harga beras yang naik dan stok yang terbatas, Indra mengaku cukup kebingungan sebagai pengusaha warteg. Di satu sisi, banyak pelanggannya yang berasal dari kelompok masyarakat menengah ke bawah. Mereka umumnya menginginkan porsi nasi yang lebih banyak ketika bersantap di warteg.
Jakarta – Fusilatnews – Meroketnya harga beras dalam bulan-bulan terakhir ini membuat para pengusaha warung tegal dan rumah makan lainnya yang tersebar di berbagai daerah menghadapi kesulitan untuk menentukan harga perporsinya.
“Naik harga beras ini sudah hampir dua pekan ya,” ujar pengusaha warteg, Indra Khairuddin, pada Kamis (15/2/24).
Tak hanya harga beras yang naik, Indra juga mengeluhkan keterbatasan stok beras yang biasa dia gunakan. Keterbatasan stok ini membuat penjual beras enggan untuk menjual beras secara karungan atau dalam jumlah besar. Indra mengungkapkan bahwa penjual beras kini lebih memilih untuk menjual beras secara eceran.
“Biasanya di warteg tuh bayar (karung beras) pertama setelah (mendapatkan) kiriman karung yang kedua. Sekarang mereka nggak mau. (Harus) cash semua. Lumayan buat cashflow warteg, keganggu banget,” terang Indra.
Dengan harga beras yang naik dan stok yang terbatas, Indra mengaku cukup kebingungan sebagai pengusaha warteg. Di satu sisi, banyak pelanggannya yang berasal dari kelompok masyarakat menengah ke bawah. Mereka umumnya menginginkan porsi nasi yang lebih banyak ketika bersantap di warteg.
“Kalau mau kasih beras yang kualitas di bawahnya juga pelanggan ngga mau,” lanjut Indra.
Di sisi lain, Indra juga tidak bisa menaikkan harga nasi di wartegnya begitu saja karena khawatir akan memberatkan para pelanggan. Oleh karena itu, opsi yang bisa Indra lakukan untuk menyiasati kenaikan harga beras ini adalah dengan mengurangi sedikit porsi nasi di wartegnya.
“Aku paling kurangin porsinya sedikit sama aku subsidi silang dari menu makanan lain (harganya sedikit dinaikkan). Karena kalau semuanya aku bebanin di nasi, itu pasti berat banget,” kata Indra.
Indra mengaku bahwa pelanggannya menyadari pengurangan porsi nasi yang harus dia lakukan. Namun, mereka cukup mengerti dan memaklumi karena mereka mengetahui bahwa harga beras saat ini sedang naik.
Pengusaha warteg di Kabupaten Bogor ini berharap agar harga beras bisa kembali stabil nanti. Dia juga berharap agar stok atau ketersediaan beras bisa lebih terjaga karena beras pada dasarnya bukan hanya dibutuhkan oleh pengusaha rumah makan, tetapi juga masyarakat pada umumnya.
“Kalau bisa sih lebih stabil lagi dan stoknya ada gitu. Harganya stabil jangan (naik) tinggi banget. Ini naiknya tinggi banget masalahnya, (sebelumnya) ga pernah setinggi ini,” tutur Indra
Tingginya harga beras akhir- akhir ini menunjukkan pemerintah gagal menstabilkan hatga beras pada tingkat konsumen. Tingginya harga beras ini tentu saja membuat penghasilan masyarakat menengah bawah semakin tergerus akibatnya porsi belanja rumah tanggah masyrakat menengah ke bawah untuk membeli beras semakin meningkat sehingga mengurangi tabungan mereka


























