Jakarta, FusilatNews – Sebuah polling daring yang digelar melalui media sosial pada 1 Januari 2025 memantik perhatian publik dengan hasil yang mencengangkan. Polling ini menyebutkan bahwa Presiden Jokowi, setelah tidak lagi menjabat, diumumkan sebagai “tokoh dunia”. Namun, pertanyaan menyentak muncul: tokoh apa?
Polling ini mencatat partisipasi 252 suara dengan hasil sebagai berikut:
- 22,6% responden menyebut Jokowi sebagai “Koruptor”.
- 3,6% menyebutnya “Pendusta”.
- 73,8% memilih opsi “Dua-duanya”.
Polling ini mendapatkan 756 tayangan, menunjukkan tingginya ketertarikan publik terhadap persepsi mengenai kepemimpinan Jokowi setelah meninggalkan kursi presiden.
Dinamika Persepsi Publik
Hasil polling ini muncul di tengah narasi negatif yang terus berkembang terhadap Jokowi pasca-presidensialnya. Gelar “tokoh dunia” yang disematkan kepadanya justru dipahami secara sinis oleh sebagian besar masyarakat, mencerminkan kritik mendalam atas integritas dan kebijakan yang dijalankannya selama dua periode memimpin Indonesia.
1. Tokoh Korupsi Dunia:
Opsi “Koruptor” yang dipilih 22,6% responden mengarah pada sejumlah kontroversi terkait kasus korupsi besar yang terjadi selama era Jokowi. Meskipun Jokowi sering mengklaim anti-korupsi, sejumlah kebijakan seperti pelemahan KPK dianggap memperburuk pemberantasan korupsi di Indonesia.
2. Kebohongan dan Janji Tak Terpenuhi:
Sebanyak 3,6% responden memilih “Pendusta”, menyoroti kekecewaan masyarakat terhadap janji-janji kampanye Jokowi yang dianggap tidak terealisasi. Misalnya, janji untuk memperkuat demokrasi dan supremasi hukum yang justru dirusak oleh tindakan kontroversial pemerintah.
3. Mayoritas Pilih Dua-duanya:
Dominasi pilihan “Dua-duanya” dengan 73,8% menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat melihat Jokowi bukan hanya gagal memenuhi ekspektasi, tetapi juga menjadi simbol dari akumulasi masalah yang mengakar selama pemerintahannya.
Respons dan Reaksi Publik
Di media sosial, hasil polling ini menuai berbagai tanggapan. Beberapa pengguna mengecam hasil tersebut sebagai penghinaan terhadap presiden yang dianggap telah bekerja keras untuk negara, sementara lainnya menjadikannya bahan sindiran atas kegagalan pemerintahannya.
“Ini bukan hanya tentang Jokowi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memandang kepemimpinan dan transparansi dalam pemerintahan,” ujar pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Dr. Suryanto.
Masa Depan Warisan Jokowi
Setelah tidak lagi menjabat, citra seorang presiden sering kali dinilai ulang oleh masyarakat. Dalam kasus Jokowi, polling ini mengindikasikan bahwa warisan politiknya mungkin lebih diingat sebagai kegagakan daripada prestasi.
Hasil ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik adalah aset yang sangat berharga dalam politik, dan ketika itu terkikis, dampaknya akan terasa jauh melampaui masa jabatan. Meskipun polling ini tidak memiliki kekuatan resmi, hasilnya mencerminkan perasaan publik yang bisa memengaruhi bagaimana sejarah mencatat kepemimpinan Jokowi di masa depan.






















