Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Menarik apa yang disampaikan Aguan dalam wawancaranya dengan sebuah majalah baru-baru ini. Pemilik Agung Sedayu Group bernama resmi Sugianto Kusuma itu menyatakan dirinya bersama sejumlah konglomerat domestik lainnya berinvestasi di proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, karena diperintah atau diminta Joko Widodo, Presiden ke-7 RI.
Investasi di IKN itu sebenarnya membuat Aguan dan konglomerat lainnya babak belur. Tapi apa boleh buat, hal itu mereka lakukan untuk menarik investor asing demi menyelamatkan muka Jokowi.
Namun, sampai akhirnya Jokowi lengser keprabon pada 20 Oktober 2024 lalu, investor asing itu tak kunjung masuk IKN. Bahkan sampai sekarang ini.
Padahal, Jokowi pernah sesumbar ada ratusan investor asing yang sedang antre masuk IKN. Dari Singapura ada 130 investor, dari Korea ada 30 investor, dari Jepang ada 30 investor, lalu dari Malaysia, dari Uni Emirate Arab, dan sebagainya, kata Jokowi saat itu. Ternyata zonk.
Mungkin itulah yang dimaksud Aguan demi menyelamatkan Jokowi dari kehilangan muka, karena wong Solo itu pernah sesumbar ada ratusan investor asing yang siap masuk IKN. Namun faktanya, sekali lagi, zonk.
Kini, Jokowi telah benar-benar kehilangan mukanya karena hingga akhirnya lengser keprabon tak satu pun investor asing masuk IKN. Bahkan Aguan yang disebut-sebut sebagai salah satu dari 9 Naga, ternyata tak mampu menyelamatkan muka Jokowi.
Jokowi makin kehilangan muka ketika dinominasikan oleh OCCRP sebagai finalis pemimpin terkorup di dunia tahun 2024 baru-baru ini.
OCCRP atau Organized Crime and Corruption Reporting Project adalah organisasi non-pemerintah yang berfokus pada investigasi kejahatan yang terorganisir dan korupsi.
OCCRP didirikan pada tahun 2007 oleh wartawan investigasi Drew Sulivan dan Paul Radu yang merupakan organisasi jurnalisme investigasi terbesar di dunia. Saat ini OCCRP berkantor pusat di Amsterdam, Belanda.
Selain Jokowi, terdapat nama pemimpin terkorup negara lainnya, yakni Presiden Kenya William Ruto, Presiden Nigeria Bola Ahmed Tinubu, bekas Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina Wazed, dan seorang pengusaha India bernama Gautam Adani.
Bayangkan, kita punya Presiden yang dalam hal dugaan korupsi sekelas Presiden Kenya, Presiden Nigeria, dan Perdana Menteri Bangladesh. Apa tidak mempermalukan bangsa ini?
Tapi apakah itu akan membuat Jokowi benar-benar kehilangan muka atau malu? Ternyata tidak.
Jokowi justru menantang OCCRP atau pihak mana pun untuk membuktikan tuduhan korupsi yang dialamatkan kepada dirinya.
Padahal, bukan tugas OCCRP untuk membuktikan dugaan korupsi Jokowi. Sebab penelitian yang dilakukan lembaga nirlaba itu bersifat kualitatif, bukan kuantitatif berupa angka-angka.
Apalagi sudah banyak pihak di dalam negeri yang melaporkan Jokowi ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka menyuplai data ke KPK. Selanjutnya menjadi tugas lembaga antirasuah itu untuk mencari dan membuktikan dugaan korupsi Jokowi.
Lalu, apakah KPK akan berani membuktikan dugaan korupsi Jokowi? Diyakini tidak. Sebab, orang-orang yang kini duduk di kursi Pimpinan KPK adalah pilihan Jokowi.
Lalu, mengapa investor asing enggan masuk ke IKN? Mungkin mereka sependapat dengan OCCRP yang menempatkan Jokowi sebagai salah satu pemimpin terkorup di dunia. Jadi ada hubungan sebab-akibat antara enggan masuknya investor asing ke IKN dengan hasil penelitian OCCRP.
Kini Jokowi sudah digantikan Presiden Prabowo Subianto. Apakah investor asing akan masuk ke IKN?
Sayangnya Prabowo tidak memprioritaskan IKN. Sebab itu, proyek yang digagas Jokowi tersebut terancam mangkrak.
Jika nanti IKN benar-benar mangkrak, maka Jokowi akan lebih kehilangan mukanya lagi. Itu kalau Jokowi masih punya muka!


























