Oleh: Ali Syarief
Tinggal bersama keluarga Jepang bukan sekadar menumpang di rumah orang lain. Pengalaman ini merupakan perjalanan memasuki cara hidup yang berbeda, kesempatan untuk memahami nilai, kebiasaan, dan perilaku sosial melalui sudut pandang budaya lain. Bagi peserta dari Indonesia, pengalaman ini menjadi lebih bermakna karena banyak nilai dalam budaya Jepang terasa sekaligus akrab dan berbeda pada saat yang sama. Meskipun kedua negara memiliki tradisi dan norma sosial yang tidak sama, Indonesia dan Jepang memiliki fondasi yang serupa: menghormati orang lain dan menjaga keharmonisan sosial.
Pengalaman lintas budaya sering kali dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Di Jepang, salam merupakan bagian penting dalam membangun hubungan dan menunjukkan rasa hormat. Ungkapan seperti Ohayou gozaimasu (selamat pagi), Tadaima (saya pulang), Itadakimasu (sebelum makan), dan Gochisousama deshita (setelah makan) menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Meskipun masyarakat Indonesia tidak menggunakan ungkapan yang sama, budaya memberi salam juga sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak anak Indonesia tumbuh dengan kebiasaan mengucapkan Assalamu’alaikum, selamat pagi, atau menyapa orang yang lebih tua dengan penuh rasa hormat. Kedua budaya mengajarkan bahwa menyapa bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk penghargaan terhadap orang lain.
Kesamaan lain dapat ditemukan dalam nilai-nilai keluarga. Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang hangat dan menjunjung tinggi kebersamaan. Tamu sering kali diperlakukan dengan baik dan dalam waktu singkat dianggap sebagai bagian dari keluarga. Di sisi lain, keluarga Jepang mungkin tampak lebih tertutup pada awal pertemuan. Namun di balik kesan tersebut terdapat semangat yang sama, yaitu kepedulian dan tanggung jawab terhadap sesama. Perbedaannya bukan terletak pada nilai yang dianut, melainkan pada cara mengekspresikannya. Orang Indonesia sering menunjukkan kehangatan melalui percakapan yang akrab dan keterbukaan, sedangkan masyarakat Jepang lebih sering menunjukkan perhatian melalui tindakan, kesopanan, dan penghormatan terhadap ruang pribadi.
Kebersihan dan tanggung jawab di dalam rumah juga menunjukkan perbedaan yang menarik. Di Jepang, menjaga kebersihan dan kerapihan merupakan bagian dari disiplin sehari-hari. Setiap orang diharapkan membersihkan dan merapikan apa yang telah digunakan. Dalam budaya Indonesia, nilai serupa sebenarnya juga ada melalui semangat gotong royong, di mana anggota keluarga saling membantu menjaga kenyamanan bersama. Hanya saja, dalam beberapa lingkungan Indonesia, aturan mengenai ruang pribadi dan rutinitas sehari-hari terkadang lebih fleksibel. Melalui pengalaman homestay, peserta Indonesia dapat melihat bagaimana kedisiplinan masyarakat Jepang dapat melengkapi nilai kebersamaan yang telah dimiliki sejak kecil.
Perbedaan cara memandang waktu juga menjadi pelajaran penting dalam pengalaman lintas budaya. Masyarakat Jepang dikenal sangat menghargai ketepatan waktu. Datang tepat waktu dipandang sebagai bentuk tanggung jawab dan penghormatan terhadap orang lain. Di Indonesia, waktu juga dihargai, meskipun dalam beberapa situasi sosial sering terdapat ruang yang lebih longgar. Acara keluarga, kegiatan masyarakat, atau pertemuan informal terkadang dapat dimulai lebih lambat tanpa menimbulkan persoalan besar. Dalam pengalaman homestay, peserta Indonesia belajar bahwa menyesuaikan diri dengan budaya Jepang bukan berarti meninggalkan jati diri, tetapi memahami ekspektasi sosial yang berbeda.
Makanan dan kebiasaan makan juga menjadi sarana pertukaran budaya yang menarik. Di Indonesia, makan sering menjadi momen penuh kehangatan, percakapan, dan kebersamaan. Sementara itu, suasana makan di Jepang terkadang lebih tenang dan teratur, disertai ungkapan rasa syukur sebelum dan sesudah makan. Ketika peserta menemukan makanan yang belum pernah dicoba sebelumnya, sikap terbuka dan rasa hormat menjadi hal yang penting. Daripada menolak makanan secara langsung, menunjukkan apresiasi terhadap usaha dan perhatian tuan rumah mencerminkan sikap yang lebih bijaksana.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengalaman lintas budaya adalah menghindari sikap membandingkan secara merendahkan. Sangat wajar jika seseorang berpikir, “Ini berbeda dengan yang biasa saya temui.” Namun mengatakan, “Negara saya lebih baik,” hanya akan menciptakan jarak. Jauh lebih baik jika perbedaan disikapi dengan rasa ingin tahu, misalnya dengan mengatakan, “Menarik, di Indonesia biasanya sedikit berbeda.” Dengan cara seperti ini, perbedaan menjadi kesempatan untuk belajar, bukan alasan untuk menilai.
Pada akhirnya, pengalaman homestay menunjukkan bahwa Indonesia dan Jepang, meskipun memiliki kebiasaan dan cara hidup yang berbeda, sesungguhnya dihubungkan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Kedua masyarakat sama-sama mengajarkan penghormatan kepada keluarga, perhatian kepada sesama, dan pentingnya menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama. Cara mengekspresikannya mungkin berbeda, tetapi tujuan akhirnya sering kali sama.
Bagi peserta Indonesia, tinggal bersama keluarga Jepang bukan berarti meninggalkan budaya sendiri. Pengalaman ini justru menjadi kesempatan untuk membawa kehangatan, keramahan, dan semangat gotong royong dari Indonesia, sambil mempelajari disiplin, perhatian terhadap detail, dan kesadaran sosial dari Jepang. Pembelajaran lintas budaya yang sesungguhnya tidak terjadi ketika satu budaya menggantikan budaya lain, tetapi ketika dua budaya saling memperkaya satu sama lain.
Datanglah dengan hati orang Indonesia, belajarlah dengan rasa ingin tahu seorang penjelajah, dan pulanglah dengan pemahaman sebagai warga dunia.

Oleh: Ali Syarief




















