Fusilatnews – Di tengah gegap gempita prestasi olahraga Indonesia yang kerap datang dan pergi, nama Iie Sumirat adalah pengecualian yang bertahan dalam ingatan kolektif bangsa. Kepergiannya pada 22 Juli 2025 bukan sekadar kabar duka, tapi momen refleksi atas seorang pejuang senyap di dunia bulu tangkis yang tidak hanya mencetak poin di lapangan, tapi juga mencetak manusia di luar arena.
Lahir di Bandung pada 1950, Iie Sumirat menjadi bagian dari generasi emas bulu tangkis Indonesia, yang disebut-sebut sebagai “The Magnificent Seven”. Ia berdiri sejajar dengan Rudy Hartono dan Liem Swie King, namun dengan karakter unik: eksentrik, berani, dan penuh ekspresi khas Sunda. Di Piala Thomas 1979, saat melawan Svend Pri, Sumirat sempat melakukan gerakan seperti tari Sunda—sebuah momen yang tidak hanya menunjukkan kepercayaan diri, tapi juga keberanian untuk menyelipkan budaya dalam olahraga internasional. Ia tidak hanya bertanding, tapi juga ‘bercerita’.
Namun kariernya sebagai atlet hanyalah setengah dari kisah besar yang ia tulis. Setelah pensiun, Iie tidak berhenti di titik “sukses pribadi”, melainkan bertransformasi menjadi guru dan pembina. Ia mendirikan klub yang menjadi cikal bakal SGS Bandung, dan dari sanalah muncul anak didik yang kelak menjadi legenda dunia: Taufik Hidayat. Bagi Taufik, Iie Sumirat bukan hanya pelatih, tapi ayah kedua. Di balik medali emas Olimpiade dan gelar juara dunia yang diraih Taufik, berdiri sosok Iie yang membentuk mental, kedisiplinan, dan jiwa sang juara.
Yang membuat Iie Sumirat berbeda dari banyak tokoh olahraga lain adalah keputusannya untuk hidup dalam kesederhanaan. Ia tidak mengejar panggung, tak haus tepuk tangan. Ia memilih menjadi tukang ukir di balik layar, membentuk generasi penerus dengan dedikasi dan cinta. Dalam dunia yang kerap mengukur kesuksesan dari popularitas dan pundi-pundi, Iie menjadi simbol keberhasilan sejati: keberhasilan yang melahirkan keberhasilan lain.
Wafatnya Iie Sumirat akibat komplikasi paru-paru, setelah setahun bergelut dengan cedera tendon yang merembet menjadi sakit yang tak tertahankan, menjadi pengingat akan ringkihnya tubuh, tapi juga kuatnya warisan semangat. Ia dimakamkan di Bandung, kota kelahirannya, tapi namanya telah lama hidup di hati para pencinta bulu tangkis dan insan olahraga nasional.
Iie Sumirat telah tiada, namun ia hidup dalam setiap langkah kaki Taufik Hidayat, dalam ayunan raket anak-anak yang sedang berlatih di lapangan-lapangan sederhana, dalam semangat bahwa olahraga bukan hanya soal kemenangan, tapi soal mendidik manusia.
Di era ketika keteladanan makin langka dan dunia olahraga sering terseret dalam urusan politik dan komersialisme, kisah Iie Sumirat adalah penawar: bahwa menjadi besar tidak harus bising, bahwa menjadi pahlawan tidak selalu harus terlihat.
Selamat jalan, Kang Iie. Engkau telah memainkan pertandingan terbaik dalam hidupmu—dan menang, tanpa harus mengalahkan siapa pun.
























