“Imagination is more important than knowledge.”
— Albert Einstein
Ada bara kecil di dalam dada manusia, dan bara itu bernama imajinasi. Ia bukan sekadar kemampuan membayangkan. Ia adalah sumbu yang menyala langsung dari percikan ilahi, bagian paling murni dari penciptaan—di mana manusia bukan hanya makhluk, tapi juga pencipta. Maka tak heran jika para nabi, penyair, ilmuwan, dan pemberontak lahir dari rahim imajinasi.
Namun, dunia tidak menyukai mereka. Dunia lebih nyaman dengan pengetahuan. Karena pengetahuan bisa dihitung, dihafal, dikuasai, diuji. Ia jinak, patuh, dan mematuhi sistem. Sementara imajinasi adalah anarki suci: ia menari di atas hukum, ia menggoda yang mapan, dan ia bertanya pada yang dianggap tak boleh dipertanyakan.
Einstein tahu, bahwa logika hanya akan membawamu dari A ke B. Tapi imajinasi? Ia membawamu ke Tuhan, ke puisi, ke kemanusiaan yang belum pernah dibayangkan. Ia membawamu ke kemungkinan bahwa dunia ini tidak harus begini-begini saja. Bahwa ada cara lain untuk mencinta, memimpin, dan menjadi manusia.
Namun, lihatlah bagaimana orang-orang bodoh di zaman ini bereaksi. Mereka melihat imajinasi seperti melihat api neraka. Mereka ketakutan. Mereka ingin memadamkannya. Mereka ingin semua pikiran manusia masuk kotak: buku pelajaran, pasal hukum, tafsir tunggal, khutbah Jumat, protokol, dan standar operasional.
Karena orang bodoh takut pada yang tak bisa mereka pahami.
Karena penguasa takut pada yang tak bisa mereka kendalikan.
Karena agama pun—di tangan yang salah—tak lebih dari sangkar emas yang mengebiri sayap imajinasi manusia.
Maka ketika seorang anak bertanya, “Bagaimana bentuk Tuhan kalau Ia tersenyum?”—para penjaga dogma gelisah. Ketika seorang perempuan membayangkan cinta tanpa dominasi, dunia yang patriarkis gemetar. Ketika seorang seniman melukis surga bukan dengan warna hijau dan emas, tapi dengan sunyi dan sepi—mereka ingin membakarnya.
Kita hidup di dunia yang takut pada kemungkinan.
Kita dibesarkan dalam budaya ketakutan: takut salah, takut sesat, takut tidak sesuai, takut neraka.
Dan karena itu kita kehilangan api. Kita kehilangan nyala. Kita kehilangan keberanian untuk membayangkan.
Einstein bukan hanya sedang bicara fisika. Ia sedang menggugat seluruh cara berpikir manusia yang kehilangan keberanian untuk menjadi liar. Untuk menjadi gila. Untuk menyalakan kembali bara Tuhan di dalam dada—yang disebut para sufi sebagai “syauq,” kerinduan untuk melampaui dunia ini.
Nietzsche pernah berkata, “Dan mereka yang terlihat menari dianggap gila oleh mereka yang tidak bisa mendengar musik.” Begitu pula para pemimpi: mereka akan selalu dianggap sesat oleh dunia yang tuli terhadap suara kemungkinan.
Dan seperti Soe Hok Gie, kita harus memilih. Apakah kita ingin hidup tenang dalam kepatuhan—atau membakar diri dalam imajinasi, walau itu berarti kesepian?
Karena sesungguhnya, imajinasi adalah bentuk tertinggi dari iman. Iman bukan soal menerima yang diajarkan. Iman adalah keberanian untuk percaya pada yang belum tampak. Dan untuk itu, kita harus belajar membayangkan.





















