• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Indonesia Hamil Tua!

fusilat by fusilat
March 16, 2023
in Feature
0
Indonesia Negeri Para Bedebah
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Jakarta – Ibarat seorang perempuan, Indonesia kini dalam kondisi hamil tua. Kontraksi sudah terjadi. Jika ada bidan, maka segera lahirlah seorang bayi. Bayi itu bernama revolusi. Bidan itu pentolan demonstran. Kerusuhan Mei 1998 yang berujung tumbangnya rezim Orde Baru pun bisa terulang.

Ya, rakyat Indonesia, terutama yang berada di “grass roots” (akar rumput), kini dalam kondisi kering-kerontang. Jika ada percikan api sedikit saja yang menyulutnya, bisa terbakar.

Mengapa Indonesia kini dalam kondisi hamil tua dan rakyatnya ibarat rumput kering? Jawabnya sederhana: ketidakadilan!

Ketidakadilan terjadi di bidang ekonomi, sosial, hukum dan politik. Secara ekonomi, berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), 1 persen orang kaya di Indonesia menguasai 50 persen aset nasional. Meski tingkat kemiskinan bisa ditekan sejak 2015, namun kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan. Ekonomi bahkan dikuasai oligarki yang dekat dengan kekuasaan.

Presiden Jokowi juga mengakui, 1 persen penduduk Indonesia menguasai 59 persen lahan yang ada di negeri ini. Sementara penduduk lain yang jumlahnya 99 persen hanya menguasai 41 persen lahan lainnya.

Secara sosial, kesenjangan antara kaya dan miskin terjadi di mana-mana. Lihat saja di kota-kota besar di Indonesia. Di mana ada gedung pencakar langit, di sekitarnya tumbuh permukiman kumuh. Contohnya di Tanah Abang (Jakarta Pusat), Tanjung Priok (Jakarta Utara), Tanjung Duren (Jakarta Barat), Pasar Minggu (Jakarta Selatan), dan Pulogadung (Jakarta Timur).

Gaji pegawai menjulang tinggi, sementara rakyat kebanyakan mencari uang 10 ribu rupiah saja sulitnya minta ampun. Lihat saja Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) para pejabat. Itu baru yang dilaporkan, belum yang disembunyikan. Terungkapnya harta kekayaan pejabat pajak Rafael Alun Trisambodo membuka mata kita betapa ketidakadilan sosial sangat tinggi di negeri Pancasila ini.

Beberapa waktu lalu juga terungkap fenomena rekening gendut para perwira Polri yang kini menyublim entah ke mana.

Di ranah hukum, pedang Dewi Keadilan ternyata lebih tajam ke bawah daripada ke atas. Mereka yang punya jabatan dan uang sering kali lolos dari jeratan hukum. Tapi seorang nenek pencuri sebatang kayu atau sebutir biji kakao saja, misalnya, bisa masuk penjara.

Di ranah politik, kekuasaan juga didominasi oligarki. Mayoritas partai politik merapat ke penguasa. Sebab itu, di Senayan pun kerap terjadi “koor” atau paduan suara. Tak ada suara sumbang apalagi keras untuk pemerintah.

Atas semua kondisi itu, ibarat seorang perempuan, sekali lagi, Indonesia dalam kondisi hamil tua. Jika ada yang membidaninya, niscaya bayi itu segera lahir. Bayi itu bernama revolusi. Bidannya adalah para pentolan demonstran. Jika ada bidan-bidan yang getol mengorganisir demonstran, niscaya bayi revolusi itu segera lahir.

Di mana-mana, pemicu revolusi adalah ketidakadilan. Karena tidak adil, maka rakyat tidak puas terhadap penguasa. Karena tidak puas, maka rakyat melakukan pemberontakan. Dalam konteks sipil, pemberontakan itu bisa berarti aksi demonstrasi seperti pada Mei 1998 yang berhasil menumbangkan rezim Orde Baru.

Penundaan Pemilu

Lalu, apa faktor pemicu kontraksi sehingga bidan akan bertindak untuk membantu kelahiran sang jabang bayi bernama revolusi? Atau api pemantik yang akan menyulut rerumputan kering-kerontang sehingga terbakar?

Faktor utama adalah penundaan Pemilu 2024. Presiden Jokowi memang sudah berkali-kali menegaskan pemilu akan digelar tepat waktu, yakni 14 Februari 2024. Jokowi dan keluarga juga sudah terdaftar sebagai pemilih Pemilu 2024. Tapi, rakyat tak kunjung percaya.

Tidak itu saja, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga konsisten menjalankan tahapan pemilu “step by step”. Tapi jangan lupa, ada keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat terhadap gugatan Partai Prima yang berkonsekuensi pada penundaan Pemilu 2024.

KPU memang melakukan banding. Tapi jika banding ditolak dan Pengadilan Tinggi Jakarta menguatkan keputusan PN Jakpus, bagaimana nasib Pemilu 2024, apakah akan benar-benar gigelar atau justru ditunda?

Elite-elite politik juga tetap berwacana soal kemungkinan penundaan pemilu. Salah satunya M Romahurmuziy. Mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menyatakan peluang Pemilu 2024 digelar tepat waktu adalah “fifty-fifty”.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sebelumnya juga getol berwacana soal penundaan Pemilu 2024. Kegetolan itu hingga kini tampaknya belum surut.

Komisi II DPR RI, Rabu (15/3/2023), menyepakati Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Keputusan ini menegaskan Pemilu 2024 tetap berjalan sesuai rencana. Dalam Pasal 22 UUD 1945, Perppu memiliki dua opsi, yakni disetujui atau ditolak. Jika ditolak, maka Pemilu 2024 terancam ditunda. Kekhawatiran publik pun masih membara.

Kini, setelah disetujui Komisi II, Perppu Pemilu akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR untuk diambil keputusan. Pertanyaannya, apakah Rapat Paripurna DPR akan menyetujui Perpu Pemilu yang sudah disepakati semua fraksi di Komisi II?

Lazimnya demikian. Tapi bisa saja di luar kelaziman, yakni ditolak. Namanya juga politik. Di politik, segala kemungkinan bisa terjadi. Apalagi, DPR dan juga DPD adalah pihak yang paling diuntungkan jika Pemilu 2024 ditunda, di samping tentunya Presiden dan Wakil Presiden. Sebab, tak perlu capai-capai tenaga dan buang biaya, mereka bisa tetap menduduki kursi empuknya sampai pemilu kemudian digelar.

Sebab itu, peluang Perppu Pemilu ditolak DPR pun, meminjam istilah Romi, “fifty-fifty”. Apa pun bisa terjadi di dunia politik. Termasuk yang melawan akal sehat sekalipun.

Alhasil, jika Pemilu 2024 benar-benar ditunda, maka jabang bayi bernama revolusi bisa segera lahir, seperti pada Mei 1998. Lalu, siapa yang akan bertanggung jawab?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Akrobatik Penyelamatan Dugaan Megaskandal di Kementerian Keuangan

Next Post

Bahaya Penyakit AIDS – Tak Basa Sembuh Total

fusilat

fusilat

Related Posts

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Economy

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
Next Post
Bahaya Penyakit AIDS – Tak Basa Sembuh Total

Bahaya Penyakit AIDS - Tak Basa Sembuh Total

Bukan Menteri PSSI

Bukan Menteri PSSI

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

by Karyudi Sutajah Putra
April 29, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah...

Read more
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist